Psikologi Pendidikan dan Guru

Akhmad Sudrajat M.Pd

Pengawas Bimbingan dan Konseling Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Kuningan, Dosen FKIP Universitas Kuningan

Secara etimologis, psikologi berasal dari kata “psyche” yang berarti jiwa atau nafas hidup, dan “logos” atau ilmu. Dilihat dari arti kata tersebut, seolah-olah psikologi merupakan ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa.

Jika kita mengacu pada salah satu syarat ilmu, yakni adanya objek yang dipelajari, maka tidaklah tepat jika kita mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Karena jiwa merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan tidak bisa diamati secara langsung.

Berkenaan dengan objek psikologi ini, maka yang paling mungkin untuk diamati dan dikaji adalah manifestasi dari jiwa itu sendiri, yakni dalam bentuk perilaku individu ketika berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan demikian, psikologi kiranya dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

Psikologi terbagi dua: psikologi umum (general phsychology) yang mengkaji perilaku pada umumnya, dan psikologi khusus yang mengkaji perilaku individu dalam situasi khusus, di antaranya:

• Psikologi Perkembangan; mengkaji perilaku individu yang berada dalam proses perkembangan, mulai dari masa konsepsi sampai akhir hayat.

• Psikologi Kepribadian; mengkaji perilaku individu, khusus dilihat dari aspek–aspek kepribadiannya.

• Psikologi Klinis; mengkaji perilaku individu untuk keperluan penyembuhan (klinis).

• Psikologi Abnormal; mengkaji perilaku individu yang tergolong abnormal.

• Psikologi Industri; mengkaji perilaku individu dalam kaitannya dengan dunia industri.

• Psikologi Pendidikan; mengkaji perilaku individu dalam situasi pendidikan.

Di samping jenis–jenis psikologi yang disebutkan di atas, masih terdapat berbagai jenis psikologi lainnya. Bahkan ke depan sangat mungkin akan kian terus berkembang, sejalan perkembangan kehidupan yang semakin dinamis dan kompleks.

Psikologi pendidikan dapat dikatakan sebagai suatu ilmu, karena di dalamnya telah memiliki kriteria persyaratan suatu ilmu. Yaitu:

Pertama, ontologis; obyek dari psikologi pendidikan adalah perilaku-perilaku individu yang terlibat langsung maupun tidak langsung dengan pendidikan. Seperti peserta didik, pendidik, administrator, orangtua peserta didik dan masyarakat pendidikan.

Kedua, epistemologis; teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip dan dalil–dalil psikologi pendidikan, yang dihasilkan berdasarkan upaya sistematis melalui berbagai studi longitudinal maupun cross sectional, baik secara pendekatan kualitatif maupun kuantitatif.

Ketiga, aksiologis; manfaat dari psikologi pendidikan terutama sekali berkenaan dengan pencapaian efisiensi dan efektivitas proses pendidikan.

Dengan demikian, psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai salah satu cabang psikologi. Karena secara khusus mengkaji perilaku individu dalam konteks situasi pendidikan dengan tujuan untuk menemukan berbagai fakta, generalisasi dan teori-teori psikologi terkait pendidikan, yang diperoleh melalui metode ilmiah tertentu, dalam rangka pencapaian efektivitas proses pendidikan.

Kompetensi Pedagogik

Pendidikan memang tak bisa lepas dari psikologi. Sumbangsih psikologi terhadap pendidikan sangatlah besar. Kegiatan pendidikan, khususnya pada pendidikan formal, seperti pengembangan kurikulum, proses belajar mengajar, sistem evaluasi, hingga layanan bimbingan dan konseling.

Oleh karena itu, agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien, maka setiap orang yang terlibat dalam pendidikan (peserta didik, pendidik, adminsitrator, masyarakat dan orangtua peserta didik), seyogyanya dapat memahami tentang perilaku individu, sekaligus dapat menunjukkan perilakunya secara efektif.

Guru dalam menjalankan perannya sebagai pembimbing, pendidik dan pelatih bagi para peserta didiknya, tentunya dituntut memahami tentang berbagai aspek perilaku dirinya maupun orang-orang yang terkait dengan tugasnya, terutama perilaku peserta didik dengan segala aspeknya. Sehingga tugas dan perannya dapat dijalankan secara efektif, yang pada gilirannya dapat memberi kontribusi nyata bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah.

Di sinilah arti penting psikologi pendidikan bagi guru. Penguasaan guru tentang psikologi pendidikan merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai guru, yakni kompetensi pedagogik. Muhibbin Syah (2003) mengatakan, “Di antara pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai guru dan calon guru adalah pengetahuan psikologi terapan yang erat kaitannya dengan proses belajar mengajar peserta didik.”

Dengan memahami psikologi pendidikan dan melalui pertimbangan–pertimbangan psikologisnya, seorang guru diharapkan dapat melakukan hal-hal berikut ini:

Pertama, merumuskan tujuan pembelajaran secara tepat. Dengan memahami psikologi pendidikan yang memadai, guru akan dapat lebih tepat menentukan bentuk perubahan perilaku yang dikehendaki sebagai tujuan pembelajaran. Misalnya, dengan berusaha mengaplikasikan pemikiran Bloom tentang taksonomi perilaku individu dan mengaitkannya dengan teori-teori perkembangan individu.

Kedua, memilih strategi atau metode pembelajaran yang sesuai. Dengan memahami psikologi pendidikan yang memadai, diharapkan guru dapat menentukan strategi atau metode pembelajaran yang tepat dan sesuai. Serta mampu mengaitkannya dengan karakteristik dan keunikan individu, jenis belajar, gaya belajar dan tingkat perkembangan yang sedang dialami siswanya.

Ketiga, memberikan bimbingan atau bahkan konseling. Tugas dan peran guru, di samping melaksanakan pembelajaran, juga untuk membimbing para siswanya. Dengan memahami psikologi pendidikan, tentunya diharapkan guru dapat memberi bantuan psikologis secara tepat dan benar, melalui proses hubungan interpersonal yang penuh kehangatan dan keakraban.

Keempat, memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik. Memfasilitasi artinya berusaha untuk mengembangkan segenap potensi yang dimiliki siswa, seperti bakat, kecerdasan dan minat. Memotivasi dapat diartikan berupaya memberikan dorongan kepada siswa untuk melakukan perbuatan tertentu, khususnya perbuatan belajar. Tanpa pemahaman psikologi pendidikan yang memadai, tampaknya guru akan mengalami kesulitan mewujudkan dirinya sebagai fasilitator maupun motivator belajar siswanya.

Kelima, menciptakan iklim belajar yang kondusif. Sebab, efektivitas pembelajaran butuh iklim belajar yang kondusif. Guru, dengan pemahaman psikologi pendidikan yang memadai, sangat mungkin dapat menciptakan iklim sosio-emosional yang kondusif di dalam kelas, sehingga siswa dapat belajar dengan nyaman dan menyenangkan.

Keenam, berinteraksi secara tepat dengan siswanya. Dengan pemahaman guru tentang psikologi pendidikan, interaksi dengan siswa secara lebih bijak, penuh empati dan menjadi sosok yang menyenangkan di hadapan siswanya dapat terwujud.

Ketujuh, menilai hasil pembelajaran yang adil. Pemahaman guru tentang psikologi pendidikan, dapat mambantu guru mengembangkan penilaian pembelajaran siswa yang lebih adil. Baik dalam teknis penilaian, pemenuhan prinsip-prinsip penilaian maupun menentukan hasil-hasil penilaian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: