Archive for ‘Artikel Agama’

09/12/2009

Jangan Kambinghitamkan Anak Bandel

Dia Hidayati Usman MA

Dosen STAI Shalahuddin al-Ayyubi Jakarta

Banyak buku ditulis tentang cara mendidik anak. Tapi tulisan mengenai kesalahan mendidiknya jarang kita temukan. Kalaupun ada, jumlahnya hanya sedikit. Sehingga tak heran jika banyak orangtua sangat mudah langsung menyalahkan/mengkambinghitamkan anak ketika melihat si anak sedikit bandel.

Saat Umar ibn Khaththab RA mejadi khalifah, pernah datang seorang ayah melaporkan perbuatan anaknya yang dianggap tidak baik. Umar tak lantas membenarkan laporan tersebut. Ia minta didatangkan anak yang diadukan itu. Dan dari laporan anak, Umar tahu, ada kesalahan si ayah dalam mendidik. Di antaranya, terlalu kasar dan kurang peduli (cuek).

Karena itu, ada baiknya kita perhatikan beberapa kesalahan berikut ini yang umumnya terjadi dalam mendidik anak:

Pertama, berlebihan memenuhi keinginan anak. Tidak sedikit orangtua yang mengira bahwa mewujudkan semua keinginan anak adalah hal terbaik. Padahal sebaliknya. Pada usia tahun pertama, si kecil mungkin masih belum mengerti. Tapi menginjak tahun kedua, ia akan mulai paham dan banyak meminta. Di masa itulah orangtua dapat membiasakan anak untuk memahami batasan hidup, tentang pemborosan, hak orang lain, hingga soal keharusan bersedekah.

Kedua, perfeksionis. Kesalahan terbesar bagi orangtua adalah menuntut anak agar selalu tampil sempurna. Di sekolah ia harus ranking pertama. Tak boleh gagal sama sekali. Anak dipaksa bekerja keras mewujudkannya.

Memang, siapapun pasti ingin anaknya sempurna dan terbaik. Tapi ketika anak tak mampu menggapai harapan, maka ia akan merasa lemah, jiwanya pun akan ditunggangi rasa kekurangan. Sebaiknya, orangtua cukup memberi motivasi dan menumbuhkan jiwa optimis anak agar ia sukses dan sempurna menyikapi segala hal yang dihadapinya.

Ketiga, over doktrin. Maksudnya, berlebihan dalam memberi perhatian kepada anak, sampai pada tingkat mengekang kebebasan bergeraknya. Contoh, ketika si kecil sedang asik bermain dengan mainan yang kesenangannya, tiba-tiba ibu memanggil dan memaksanya untuk mandi, atau melakukan hal lain.

Anak biasanya akan meronta dan menangis. Ia akan merasa telah terampas dan kehilangan saat yang paling menyenangkan. Jika ketidakbebasan itu sering ia rasakan, niscaya jiwa kemandiriannya akan rapuh. Ia akan terus bergantung pada orangtua dalam setiap tantangan dan kesempatan yang dihadapi. Ia tak akan pernah bisa membuat keputusan sendiri.

Keempat, over punishment. Orangtua cenderung mudah memberi hukuman yang tidak sesuai dengan tingkat kesalahan anak. Ketika sebuah kesalahan lahir karena ketidakmatangan anak secara akal, maka sangat tak pantas orangtua menghukumnya.

Anak seperti itu, cukup diperingati dan diarahkan. Berbeda dengan anak yang sudah matang akal dan fisik, tapi sering mengulang kesalahan. Ia patut diberi hukuman ringan dan bertahap, sampai pribadinya membaik dan menyadari kesalahannya.

Kelima, lalai. Banyak orangtua tidak menyempatkan diri untuk bermain bersama anak. Padahal, anak sangat butuh kehangatan bermain bersama orangtuanya. Dengan aktivitas ini, jiwa anak akan tenang dan bahagia, karena banyak hal yang bisa ditanyakan dan dibagi saat bermain bersama.

Dengan bermain bersama, orangtua juga akan tahu perkembangan jiwa dan fisik anak secara langsung. Hingga kemudian orangtua akan mudah membelikan mainan yang cocok dan disenangi anaknya.

Keenam, membeda-bedakan perlakuan antaranak. Kecenderungan ini memang agak sulit untuk dihindari, karena kadang terjadi akibat perbedaan usia dan tuntutan anak. Namun bagaimanapun juga, orangtua harus bijak menyikapinya, agar tak timbul rasa iri dan permusuhan di antara anak. Patut diingat, wilayah ini sangat sensitif, dan menuntut kehati-hatian orangtua melakoninya.

09/12/2009

Hindari Bakat Instan

Yayah Hidayah MPsi

Akhir-akhir ini, kita tengah dicekoki banyaknya ajang pencarian bakat ala “idol-idol”an maupun lomba-lomba. Dari lomba menyanyi, pemilihan bintang, dan sebagainya. Proses instan pencarian bakat-bakat segar industri musik dan hiburan di tanah air ini, sering mengesampingkan dampak dari pola yang serba instan itu.

Dengan acara seperti ini, remaja dan anak-anak akan semakin banyak yang bercita-cita menjadi penyanyi dan bintang sinetron. Mereka berpikir, dengan ikut audisi, bergaya, bernyanyi, dan bantuan sms dari pemirsa TV, ditambah sedikit keberuntungan, mereka akan langsung tenar dan menjadi juara.

Padahal seharusnya, remaja dan anak diberi stimulus proses berpikir dengan porsi lebih besar. Seperti melalui lomba matematika, fisika, karya ilmiah atau lomba-lomba penelitian lainnya.

Dalam pencarian bakat, semestinya dilakukan dengan proses alami. Karena, dengan proses yang terlalu singkat atau pendek, akan sulit untuk menilai keberhasilan yang sebenarnya. Anak yang berhasil dengan proses ini, biasanya akan cepat putus asa, cengeng dan bermental kurang kuat dalam perjalanan karis dan hidup selanjutnya.

Menurut para ahli (seperti Freeman/1963 maupun Bingham/1968), bakat merupakan suatu potensi atau kemampuan khusus dan lebih dominan yang dimiliki seseorang, yang dapat berkembang melalui proses pelatihan dan pendidikan intensif. Dengan proses ini, bakan akan menjadi sebuah kemampuan dan kecakapan nyata. Seseorang akan lebih baik prestasi dan keahliannya, jika ia mampu melakukan suatu pekerjaan sesuai bakat dan minatnya, ketimbang bidang yang tidak sesuai dengan bakatnya.

Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan bakat seseorang. Kemampuan atau potensi individu yang dibawa sejak lahir, atau faktor bawaan, sangat menentukan pembentukan dan perkembangan bakat seseorang. Tapi faktor ini saja tidak cukup untuk memaksimalkan bakat, karena faktor lingkungan juga berperan mengembangannya.

Dalam Islam disebutkan, “Setiap bayi lahir ke dunia dalam keadaan suci bersih,” tanpa dosa dan tanpa kecakapan yang khusus. Kemudian peran lingkungan keluarga sangat menentukan pengembangannya. Lingkungan dapat berfungsi sebagai stimulus bagi berkembangnya bakat, dan bisa juga sebaliknya, menjadi penghambat perkembangan bakat.

Bakat juga tak akan berkembang optimal, apabila tidak dibarengi dengan minat yang cukup tinggi terhadap bidang yang sesuai dengan bakat tersebut. Contohnya, seseorang yang memiliki bakat cukup tinggi sebagai ahli menggambar, tapi ia tak berminat terhadap hal-hal yang berhubungan dengan menggambar, maka bakatnya itu tak akan berkembang maksimal.

Motivasi diri untuk mengekpresikan bakat, juga mempengaruhi usaha pengembangan bakat. Motivasi seseorang sangat erat kaitannya dengan usaha dan kerja keras untuk mencapai tujuan hidupnya. Selain itu, bakat seseorang juga akan berkembang pesat apabila ia memiliki nilai hidup yang berarti atau positif terhadap pengembangan bakatnya itu.

Faktor kepribadian sangat penting bagi perkembangan bakat seseorang. Seperti konsep diri, rasa percaya diri, keuletan, keteguhan dan kesabaran dalam berusaha, kesediaan untuk menerima kritik maupun saran untuk meraih cita-cita yang lebih tinggi.

Bakat akan berkembang dengan baik apabila sudah mendekati atau menginjak masa peka atau kematangannya. Tapi, tak ada kepastian kapan hitungan masa kematangan akan datang, masing-masing individu memiliki masa kematangan yang berbeda-beda.

09/12/2009

Anak Korban Perilaku Menyimpang Ibu

Yayah Hidayah, M.si.

Ibu, sosok yang akan terus memberi rasa kasih, sayang, kelembutan, cinta, dan perlindungan kepada anaknya, tanpa kenal batas waktu. Ibu yang baik akan menjadi pahlawan bagi anaknya. Ia akan berjuang mati-matian demi keselamatan anaknya. Maka, jika ada perilaku seorang ibu yang menyia-nyiakan anaknya, berarti ia patut dicurigai memiliki perilaku yang menyimpang.

Sebab, pola asuh yang baik dan memadai semasa balita, sangat urgen demi perkembangan fisik dan psikis anak. Menurut Wenar (1991), ketiadaan pengasuhan yang memadai setelah terbentuknya ikatan cinta kasih di antara anak dengan pengasuh, akan menyebabkan perilaku anak yang menyimpang. Karena dampak dari rasa kehilangan akan sangat dirasakan sebagai suatu penolakan atau pengabaian.

Anak balita yang dipisahkan dari orangtuanya, baik karena terpaksa atau disengaja, akan tumbuh dalam jiwanya perasaan tak aman dan tak nyaman. Ia akan mengalami gangguan kepribadian atau kesulitan menyesuaikan diri di masa mendatang.

Dengan pemahaman yang masih terbatas dan sempit tentang suatu kejadian yang menimpanya, anak akan memahami bahwa peristiwa yang ia alami sebagai bentuk penolakan atas keberadaan dirinya. Ia akan merasa tidak cukup dipandang dan tidak berharga di mata keluarganya, hingga tak pantas untuk dicintai. Jika hal ini berlanjut hingga anak menyadari -selepas masa balita-, maka akan timbul trauma dalam pembentukan identitas dan penyesuaian dirinya dalam kehidupan.

Karena itu, perilaku ibu dan kepribadiannya harus diperhatikan, agar perkembangan kepribadian anak yang diasuhnya tidak terganggu. Berikut ini beberapa aspek psikologis negatif ibu yang sangat berbahaya terkait pengasuhan anak.

Gangguan Jiwa

Peneliti Rose Cooper Thomas yang melakukan penelitian terhadap hubungan ibu dan anak, menemukan bahwa ibu yang mengalami gangguan jiwa schizophrenia (kecenderungan perilaku yang acuh tak acuh), dominan atau cenderung akan menghasilkan karakter anak yang perilakunya suka memberontak, jahat, menyimpang, bahkan anti-sosial. Namun ada pula anak akan menjadi suka menarik diri, pasif, terlalu tergantung dan kelewat penurut.

Peneliti lain mengemukakan bahwa gangguan jiwa ibu akan berakibat terganggunya perkembangan identitas anak. Dan gangguan obsesif kompulsif yang dialami orangtua juga sangat erat berdampak pada sikap mereka untuk mengabaikan anaknya. Sebab, gangguan ini menjadikan penderitanya lebih banyak memikirkan dan melakukan ritual-ritual sendiri daripada tanggung jawab mengasuh anaknya.

Ada lagi gangguan kejiwaan ibu yang berbahaya bagi anak. Yaitu Munchausen Syndrome by Proxy (MSbP), berupa gangguan mental yang biasa dialami wanita atau seorang ibu terhadap anaknya. Biasanya terjadi pada bayi atau anak balita.

Dalam penyakit yang digambarkan pertama kali oleh Meadow pada tahun 1977 ini, dideteksi adanya unsur kebohongan yang bersifat patologis dalam kehidupan sehari-hari ibu yang terus menerus. Pada kasus yang parah, ibu yang melakukannya justru kelihatan lemah lembut dan baik. Gangguan jiwa yang berbahaya ini bisa berakibat pada kematian anak. Karena pada banyak kasus, ditemukan ada ibu yang sampai hati menyekap, atau mencekik, bahkan meracuni anaknya.

Pada kasus-kasus ini sering ditemukan adanya sejarah gangguan perilaku antisosial pada ibu, mungkin disebabkan pengalaman yang dialami oleh ibu itu pada pola asuh yang salah dari orang tuanya. Pada kasus lain ditemukan bukti bahwa ternyata ibu tersebut mengalami gangguan somatis seperti contohnya (menurut istilah medis) gangguan neurotik, hypochondria, atau gangguan yang bersifat semu lainnya). Ditemukan pula, bahwa ibu-ibu yang tega melakukan hal ini terhadap anaknya ternyata mengalami gangguan kepribadian yang cukup parah.

Depresi

Peneliti Chaffin, Kelleher dan Hollenberg (1996) terhadap anak-anak yang orangtuanya mengalami depresi atau psikopatologi menemukan fakta banyaknya anak yang mengalami penyiksaan fisik. Akibatnya, korban anak-anak dilaporkan mengalami banyak masalah kejiwaan, seperti depresi, interpersonal, perilaku yang aneh dan bermasalah dalam belajar.

Pecandu Minuman

Keluarga alkoholis cenderung tidak stabil. Segala aturan dapat berubah setiap waktu, dan seringnya mudah mengingkari janji. Kecenderungan ini terbawa pula dalam urusan pola asuh mereka terhadap anak. Pola asuh yang diterapkan orangtua alkoholis akan sering berubah-ubah secara acak. Ini menyebabkan tidak ada celah bagi anggota keluarga untuk mengungkapkan perasaan secara normal, karena banyaknya batasan, aturan dan larangan dalam keluarga.

Karena hal ini merupakan aib keluarga, biasanya anggota keluarga akan menutupnya agar tidak diketahui orang lain. Situasi ini akan melahirkan perasaan tertekan, frustrasi, marah, tidak nyaman dan gelisah di hati anak. Ia akan sering berpikir bahwa ia telah melakukan suatu kekeliruan yang menyebabkan orangtuanya memiliki kebiasaan buruk. Akibatnya, akan timbul rasa tak percaya, kesulitan mengekspresikan emosi secara tepat, dan kesulitan menjalin hubungan sosial yang erat. Dan masalah ini akan terus terbawa hingga ia dewasa.

Menurut para ahli, anak-anak dari keluarga seperti ini lebih beresiko mengembangkan kebiasaan alkoholis di masa dewasa. Menurut Chaffin, Kelleher dan Hollenberg (1996), para pecandu obat terlarang, menjadi faktor paling umum penyebab terjadinya penyiksaan dan pengabaian terhadap anak, dan pengasuhan anak dengan cara yang keliru.

Masalah Perkawinan

Keluarga yang bermasalah, akan berpengaruh pada ketidak-keharmonisan keluarga, dan dampaknya akan buruk pada kehidupan emosional anak. Karena para anggota keluarga akan kian merasakan beban mental atau tekanan emosional yang terus meningkat. Beban ini akan semakin berat apabila suasana keluarga terasa mencekam, tak ada yang berani mengemukakan emosi, pikiran, dan tiada lagi keleluasaan untuk bertindak.

Pada umumnya, anak akan menjadi korban pelampiasan ketegangan, kecemasan, kekesalan, kemarahan dan segala emosi negatif yang tidak bisa dikeluarkan itu. Sebab, anak berada pada posisi lemah, sehingga mudah menjadi sasaran agresivitas orangtua tanpa perlawanan.

09/12/2009

Psikoterapi Islam

Dr. Ahmad Fauzi Tidjani

Psikoterapi (psychotherapy) adalah pengobatan alam pikiran, atau lebih tepatnya, pengobatan dan perawatan gangguan psikis melalui metode psikologis. Istilah ini mencakup berbagai teknik yang bertujuan untuk membantu individu dalam mengatasi gangguan emosionalnya. Dengan cara memodifikasi perilaku, pikiran, dan emosi, sehingga individu tersebut mampu mengembangkan dirinya dalam mengatasi masalah psikis.

Dalam ajaran Islam, selain psikoterapi duniawi, juga terdapat psikoterapi ukhrawi. Psikoterapi ini merupakan petunjuk (hidayah) dan anugerah (‘athâ`) dari Allah SWT, yang berisikan kerangka ideologis dan teologis dari segala psikoterapi. Sementara psikoterapi duniawi merupakan hasil ijtihâd (upaya) manusia, berupa teknik-teknik pengobatan kejiwaan yang didasarkan kaidah-kaidah insaniah.

Kedua model psikoterapi ini sama pentingnya, ibarat dua sisi mata uang yang saling terkait. Pendekatan pencarian psikoterapi Islam, didasarkan atas kerangka psiko-teo-antropo-sentris. Yaitu psikologi yang didasarkan pada kemahakuasaan Tuhan dan upaya manusia.

Kemahakuasaan Tuhan tergambar dalam firman Allah surah asy-Syu’arâ` ayat 78-80, ”(Yaitu Tuhan) yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjukiku, dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.” Juga telah Rasulullah SAW tandaskan dalam sabdanya, ”Allah tidak menurunkan suatu penyakit, kecuali penyakit itu telah ada obatnya.” (HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah)

Terapi al-Qur`an

Al-Qur`an merupakan sarana terapi utama. Sebab di dalamnya memuat resep-resep mujarab yang dapat menyembuhkan penyakit jiwa manusia. Tingkat kemujarabannya sangat tergantung seberapa jauh tingkat sugesti keimanan pasien. Sugesti itu dapat diraih dengan mendengar dan membaca, memahami dan merenungkan, serta melaksanakan isi kandungannya.

Masing-masing tahapan perlakuan terhadap al-Qur`an dapat mengantarkan pasien ke alam yang dapat menenangkan dan menyejukkan jiwanya. Allah berfirman, Dan kami turunkan dari al-Qur`an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. al-Isrâ` [17]: 82)

Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyebutkan, ada dua pendapat dalam memahami term syifâ` dalam ayat tersebut. Pertama, terapi bagi jiwa yang dapat menghilangkan kebodohan dan keraguan, membuka jiwa yang tertutup, dan menyembuhkan jiwa yang sakit. Kedua, terapi yang dapat menyembuhkan penyakit fisik, baik dalam bentuk azimat maupun penangkal.

Sementara Thabathaba’i mengemukakan, bahwa syifâ` memiliki makna terapi ruhaniah yang dapat menyembuhkan penyakit batin. Dengan al-Qur`an, seseorang dapat mempertahankan keteguhan jiwa dari penyakit batin, seperti keraguan dan kegoncangan jiwa, mengikuti hawa nafsu, dan perbuatan jiwa yang rendah. Al-Qur`an juga dapat menyembuhkan penyakit jasmani, baik melalui bacaan atau tulisan.

Al-Faidh al-Kasyani dalam tafsirnya menilai, lafadz-lafadz al-Qur`an dapat menyembuhkan penyakit badan, sedangkan makna-maknanya dapat menyembuhkan penyakit jiwa. Dan menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah, bacaan al-Qur`an mampu mengobati penyakit jiwa dan badan manusia. Menurutnya, sumber penyakit jiwa adalah ilmu dan tujuan yang rusak. Kerusakan ilmu mengakibatkan penyakit kesesatan, dan kerusakan tujuan mengakibatkan penyakit kemarahan. Obat yang mujarab yang dapat mengobati kedua penyakit ini adalah hidayah al-Qur`an.

Tahajud dan Dzikir

Terapi kedua adalah shalat di waktu malam, bukan shalat wajib dengan mengakhirkan shalat Isya. Yang dimaksudkan adalah shalat sunah, seperti Tahajud, Hajat, Muthlak, Tasbih, Tarawih (khusus bulan Rhamadan), dan witir. Keampuhan terapi shalat-shalat ini sangat terkait dengan pengamalan shalat wajib. Sebab kedudukan terapinya hanya merupakan suplemen bagi terapi shalat wajib (Qs. al-Isrâ` [17]: 79 dan as-Sajdah [32]: 16)

Tahajud berarti meninggalkan tidur. Sedangkan shalat Tahajud adalah shalat yang dikerjakan malam hari, utamanya setelah bangun tidur. Shalat ini merupakan bagian dari shalat al-lail atau qiyâm al-lail. Shalat Tahajud merupakan shalat yang paling utama dari sekian shalat gairu rawâthib. Bagi melakukannya, ia akan mendapatkan kedudukan terpuji (maqâm mahmûdah).

Shalat Tahajud memiliki banyak hikmah. Di antaranya: mendapat kedudukan terpuji di hadapan Allah (QS. al-Isrâ [17]: 79, dan HR. al-Bukhari dan Muslim dari Salim ibn Abdillah). Pelakunya juga akan memiliki kepribadian layaknya orang-orang shalih yang selalu dekat (taqarrub) kepada Allah, dosanya juga akan terhapus, dan ia akan terhindar dari perbuatan munkar (HR. Muslim).

Jiwa orang yang mengerjakannya akan selalu hidup, sehingga mudah mendapatkan ilmu dan ketentraman. Bahkan Allah menjanjikan kenikmatan surga baginya (HR. al-Hakim, Ibnu Majah, dan Tirmidzi). Selain itu, doa pelaku Tahajud akan diterima, dan ia akan diberi rizki yang halal lagi lapang, tanpa susah payah mencarinya.

Ibadah lainnya yang dapat menjadi sarana terapi adalah berdoa, berdzikir dan wirid. Dzikir dapat mengembalikan kesadaran seseorang yang hilang. Dengan berdzikir, seseorang akan terdorong untuk mengingat, dan menyebut kembali hal-hal yang tersembunyi dalam hatinya. Ia pun akan menyadari, bahwa yang membuat dan menyembuhkan penyakit hanyalah Allah. Sehingga ibadah yang dilakukan dapat menjadi sugesti penyembuhan.

Dzikir dapat menormalisasi kembali fungsi sistem jaringan saraf, sel-sel, dan seluruh organ tubuh. Bagi aliran psiko-sufistik yang memiliki cara-cara khas dalam berdzikir, setiap gerakan yang mereka lakukan memiliki rahasia-rahasia (asrâr). Apabila dilakukan dengan benar, kesembuhan dari penyakit akan dirasakan.

Dalam Tarekat Naqsyabandiyah, misalnya, ada gerakan ujung lidah yang ditempelkan pada langit-langit mulut sambil membaca lafadz, “Allah, Allah,” sebanyak 1000 kali secara sirri (dibaca dalam hati). Atau, dalam Tarekat Tijaniyah terdapat gerakan untuk mengucapkan kalimat tauhid lâ ilâha (tiada tuhan) dengan pandangan mata pendzikir dipusatkan kepada kalbu, kemudian menengadahkan kepala ke atas atau memalingkannya ke samping saat mengucapkan illallâh (kecuali Allah).

Gerakan-gerakan semacam ini, jika dilakukan dengan penuh semangat dan berulang-ulang, diyakini mampu mengaktifkan optimalisasi fungsi organ tubuh.

Dalam psiko-sufistik, juga terdapat konsep latha`if, yang dikembangkan sebagai metode dzikir dalam hati. Latha`if adalah esensi yang lembut dan halus yang terdapat dalam kalbu manusia. Agar ia tetap dapat terus berada dalam fitrah asal (suci dan bersih), diperlukan pemeliharaan melalui dzikir dan perjuangan spiritual (mujâhadah). Pengembangan konsep latha`if dalam psiko-sufistik ini, sama halnya dengan Psikologi Fisiologis (physiological psychology), yaitu cabang psikologi yang meminati interelasi dari sistem syaraf, reseptor, kelenjar endokrin, proses tingkah laku, dan proses mental.

Begitulah manfaat terapi-terapi islami berdasarkan doa dan munajat. Dengan berdoa, harapan dan permohonan kepada Allah agar segala gangguan dan penyakit jiwa yang diderita dapat hilang. Dan terapi ini dapat dilakukan kapan saja, setiap kali kita mengerakan ibadah. Baik dalam shalat, puasa, haji, maupun dalam aktivitas sehari-hari. Wallâhu a’lam

09/12/2009

Psikoterapi dalam Islam

Muhammad Yusuf

Penggagas, Penyusun dan Koordinator Program Islam Therapy, Staf Yayasan Maha Kasih Kuningan, Jawa Barat

Psikoterapi (psychotherapy) adalah pengobatan alam pikiran. Atau lebih tepatnya, pengobatan dan perawatan gangguan psikis melalui metode psikologis. Istilah ini mencakup berbagai teknik yang bertujuan untuk membantu individu dalam mengatasi gangguan emosionalnya. Dengan cara memodifikasi perilaku, pikiran, dan emosi, sehingga individu tersebut mampu mengembangkan diri mengatasi masalah psikisnya.

James P.Chaplin lebih jauh membagi pengertian psikoterapi dalam dua sudut pandang. Secara khusus, psikoterapi diartikan sebagai penerapan teknik khusus pada penyembuhan penyakit mental atau kesulitan-kesulitan penyesuaian diri setiap hari. Secara luas, psikoterapi mencakup penyembuhan lewat keyakinan agama, melalui pembicaraan informal atau diskusi personal dengan guru atau teman.

Pada pengertian ini, psikoterapi selain digunakan untuk penyembuhan penyakit mental, juga dapat digunakan untuk membantu, mempertahankan dan mengembangkan integritas jiwa, agar ia tetap tumbuh secara sehat dan memiliki kemampuan penyesuaian diri lebih efektif terhadap lingkungannya.

Tugas utama psikiater adalah memberi pemahaman dan wawasan yang utuh mengenai diri pasien, serta memodifikasi atau bahkan mengubah tingkah laku yang dianggap menyimpang. Oleh karena itu, boleh jadi psikiater yang dimaksudkan di sini adalah para guru, orangtua, saudara, maupun teman dekat, yang biasa digunakan sebagai tempat curahan hati dan memberi nasehat-nasehat kehidupan yang baik.

Menurut Carl Gustav Jung, psikoterapi telah melampaui asal-usul medisnya, dan tak lagi merupakan suatu metode perawatan orang sakit. Psikoterapi kini digunakan untuk orang yang sehat, atau pada mereka yang mempunyai hak atas kesehatan psikis yang penderitaannya menyiksa kita semua.

Berdasarkan pendapat Jung ini, bangunan psikoterapi selain digunakan untuk fungsi kuratif (penyembuhan), juga berfungsi preventif (pencegahan) dan konstruktif (pemeliharaan dan pengembangan jiwa yang sehat). Ketiga fungsi tersebut mengisyaratkan bahwa usaha-usaha untuk berkonsultasi pada psikiater, tak hanya ketika psikis seseorang dalam kondisi sakit. Alangkah lebih baik jika dilakukan sebelum datangnya gejala atau penyakit mental, karena hal itu dapat membangun kepribadian yang sempurna.

Banyak keguanaan dalam pengetahuan tentang psikoterapi. Pertama, membantu penderita dalam memahami dirinya, mengetahui sumber-sumber psikopatologi dan kesulitan penyesuaian diri, serta memberikan perspektif masa depan yang lebih cerah dalam kehidupan jiwanya. Kedua, membantu penderita dalam mendiagnosis bentuk-bentuk psikopatologi. Ketiga, membantu penderita menentukan langkah-langkah praktis dan pelaksanaan terapinya.

Diakui atau tidak, banyak orang yang sebenarnya telah mengidap penyakit jiwa, namun tak sadar akan sakitnya. Bahkan ia tidak mengerti dan memahami bagaimana seharusnya ia berbuat untuk menghilangkan penyakitnya. Karena itulah dibutuhkan pengetahuan tentang psikoterapi.

Bentuk dan Teknik Psikoterapi

Setelah mempelajari teks-teks al-Qur`an, Muhammad Abdul al-Aziz Al-Khalidi, membagi obat (syifâ`) dengan dua bagian: Pertama, obat hissi, yaitu obat yang dapat menyembuhkan penyakit fisik. Seperti berobat dengan air, madu, atau buah-buahan yang telah disebutkan dalam Al-Qur`an. Kedua, obat maknawi. Yaitu obat yang dapat menyembuhkan penyakit ruh dan kalbu manusia, seperti doa-doa dan isi kandungan dalam al-Qur`an.

Pembagian kategori ini didasarkan atas asumsi bahwa dalam diri manusia terdapat dua substansi yang bergabung menjadi satu. Yaitu jasmani dan ruhani. Masing-masing substansi memiliki Sunnah (hukum) tersendiri, yang berbeda satu dengan lainnya.

Kelainan (penyakit) yang terjadi pada aspek jasmani, harus ditempuh melalui Sunnah pengobatan hissi, bukan dengan Sunnah pengobatan maknawi seperti berdoa. Tanpa menempuh Sunnah ini, maka kelainan yang ada tak akan sembuh.

Permasalahannya menjadi lain, jika yang mendapat kelainan itu berupa kepribadian (tingkah laku) manusia (personality disorder), seperti paranoid, schizoid, eksploisif, histerik, maupun anti sosial. Dan kepribadian merupakan produk fitrah nafsani (jasmani-ruhani). Dengan aspek ruhani sebagai esensinya, dan aspek jasmani menjadi alat aktualisasi.

Karena kedudukan seperti ini, maka kelainan kepribadian manusia tak akan dapat disembuhkan dengan Sunnah pengobatan hissi, tapi harus dengan maknawi. Demikian juga, kelainan jasmani sering disebabkan oleh kelainan ruhani, dan cara pengobatannya pun harus dengan Sunnah pengobatan maknawi pula.

Dokter sekaligus filosof Muslim yang pertama kali memfungsikan pengetahuan jiwa untuk pengobatan medis adalah Abu Bakar Muhammad Zakaria ar-Razi (864-925). Menurut ar-Razi, tugas seorang dokter di samping mengetahui kesehatan jasmani (ath-thibb al-jismâni), ia dituntut pula mengetahui kesehatan jiwa (ath-thibb ar-rûhâni). Hal ini untuk menjaga keseimbangan jiwa dalam melakukan aktivitas-aktivitasnya, supaya tidak terjadi keadaan minus atau berlebihan.

Berkat konsep ini, ar-Razi menyusun dua buku terkenal, yaitu ath-Thibb al-Manshûriyyah (Kesehatan al-Manshur), yang menjelaskan pengobatan jasmani, dan ath-Thibb ar-Rûhâni (kesehatan mental) yang menerangkan pengobatan jiwa.

Kesehatan Mental

Pemaparan di atas memperlihatkan penting pengetahuan tentang psikis. Karena pengetahuan ini tak sekadar berfungsi untuk memahami kepribadian manusia, tapi juga untuk pengobatan penyakit jasmani dan ruhani. Banyak di antara penyakit jasmani, seperti kelainan fungsi pernapasan, usus perut, dan sebagainya, justru diakibatkan oleh kelainan jiwa manusia.

Penyakit jiwa seperti stres, was-was, dengki, iri hati, kemunafikan, dan sebagainya, sering menjadi penyebab utama penyakit jasmani. Ketika penyakit-penyakit jiwa itu kambuh, maka kondisi emosi seseorang akan labil dan tak terkendali. Kelabilan jiwa inilah yang akan mempengaruhi syaraf dan fungsi organ, sehingga terjadi penyempitan di saluran pernapasan, atau usus perut yang mengakibatkan penyakit jasmani.

Diskursus kesehatan mental (mental health) kontemporer, telah menemukan suatu jenis penyakit yang disebut dengan psikosomatik (psychosomatic disorders). Penyakit ini ditandai dengan keluhan-keluhan dan kelainan-kelainan pada alat tubuh, misalnya jantung, alat pernapasan, saluran perut, kelamin dan sebagainya.

Kelainan ini disebabkan oleh faktor emosional melalui syaraf-syaraf otonom. Kelainan emosional ini akan menimbulkan perubahan-perubahan struktur anatomik yang tidak dapat pulih kembali. Tanda-tanda dari penyakit ini adalah jantung dirasakan berdebar-debar (palpitasi), denyut jantung tidak teratur (arrhythmia), pendek napas (shortnes of breath), kelesuhan yang amat hebat (fatique), pingsan (faiting), sukar tidur (insomnia), tidak bernafsu makan (anoxia nervosa), impotensi dan frigiditas pada alat kelamin. Diduga keras, penyebab utama penyakit-penyakit ini adalah perasaan resah dan kecemasan (anxiety).

Ibnu Qayyim al-Jauzi dalam Ighâtsah al-Lahfân, lebih spesifik membagi psikoterapi dalam dua kategori. Yaitu tâbi’iyyah dan syar’iyyah. Psikoterapi tâbi’iyyah adalah pengobatan secara psikologis terhadap penyakit yang gejalanya dapat diamati dan dirasakan oleh penderitanya dalam kondisi tertentu. Seperti perasaan kecemasan, kegelisahan, kesedihan, dan amarah. Penyembuhannya dengan cara menghilangkan sebab-sebabnya.

Sementara psikoterapi syar’iyyah adalah pengobatan secara psikologis terhadap penyakit yang gejalanya tak dapat diamati dan dirasakan oleh penderitanya dalam kondisi tertentu. Tapi ia benar-benar penyakit berbahaya, yang dapat merusak kalbu seseorang. Seperti penyakit yang ditimbulkan dari kebodohan, syubhat, keragu-raguan, dan syahwat.

Pengobatannya adalah dengan penanaman syariah yang datangnya dari Allah SWT. Hal itu dipahami dari firman-Nya, “Barangsiap yang Allah kehendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia lapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak dan sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (Qs. al-An’âm [6]: 125)

Muhammad Mahmud Mahmud, seorang psikolog muslim ternama, membagi psikoterapi Islam dalam dua kategori. Pertama, bersifat duniawi. Berupa pendekatan dan teknik-teknik pengobatan yang dilakukan setelah memahami psikopatologi dalam kehidupan nyata. Kedua, bersifat ukhrawi. Berupa bimbingan mengenai nilai-nilai moral, spiritual, dan agama.

Model psikoterapi yang pertama, lebih banyak digunakan untuk penyembuhan dan pengobatan psikopatologi yang biasa menimpa pada sistem kehidupan duniawi manusia. Seperti neurasthenia, hysteria, psychasthenia, schizophrenia, manic depressive psychosis, kelainan seks, paranoia, psychosomatik, dan sebagainya.

Bahan Bacaan:

Abdul Mujib, M.Ag & Jusuf Mudzakir, M. Si, Nuansa-Nuansa Psikologi Islam, Divisi Buku Perguruan Tinggi PT Raja Grafindo Persada.

Ilmu Pengetahuan Populer, Jilid 8, Grolier International, Inc.

Ibnu Qayyim al-Jauzi, Ighâtsah al-Lahfân.

09/12/2009

Penyakit Maknawi

Emmalia Sutiasasmita

Kandidat Magister Psikologi Islam, Universitas Indonesia

Kesehatan adalah mahkota bagi kehidupan manusia yang harus selalu dijaga dan dilestarikan. Kebahagiaan dan kemaslahatan hidup di dunia dan akhirat, telah menjadi orientasi utama yang diajarkan Islam, dan dinyatakan tak lepas dari nilai kesehatan.

Kecenderungan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup dan keinginan mencapai kebahagiaan, memang telah dilindungi oleh syariat Islam. Tapi, untuk memenuhi kebutuhan tersebut, syariat memberi batas tegas agar tidak terbawa hawa nafsu secara tak terkendali (kemunkaran). Seperti cara hidup hedonis yang cenderung ingin memuaskan segala keinginan, dan kerap melampaui batas keseimbangan rohani dan jasmani.

Falsafah menyesatkan ini harus dihindari. Salah satu jalan dengan memiliki jiwa yang sehat secara fisik dan metafisik. Sebab, jiwa yang sehat, pasti akan menghadirkan hidup bahagia dan membahagiakan. Kinerja, kepedulian dan kasih sayang juga akan meningkat, dendam akan tiada, diri menjadi tegar dan penuh sabar diri, emosi pun bisa terkendali. Pribadi yang berjiwa sehat, juga akan menjadi pribadi yang mengasyikkan kala berinteraksi.

Dalam sebuah ungkapan dinyatakan, ”Al-’aqlus-salîm fîl jismis-salîm,” (Di dalam akal yang sehat, terdapat jiwa yang sehat pula). Ungkapan tersebut melahirkan kaidah agar kita mendahulukan penjernihan akal dan jiwa dari segala sesuatu yang merugikan. Seperti rasa iri, dengki, dendam, dan perbuatan maksiat.

Kaidah itu juga mengajarkan kita untuk memupuk hal-hal baik. Seperti berpikir positif, tawakal, dan menjaga kesucian hati, yang akan berimplikasi pada komponen fisik. Antara lain membuat metabolisme tubuh teratur, aliran darah lancar, tenang beribadah, hingga semangat menjalankan aktivitas sehari-hari pun muncul.

Pribadi yang sehat secara fisik, mental (jiwa), dan biologis adalah awal untuk menemukan kebahagiaan hakiki. Karena Allah menyukai pribadi yang kuat secara fisik dan mental. Juga, dengan kesehatan, manusia dapat melaksanakan fungsinya sebagai khalifah Allah di muka bumi.

Kemunafikan

Di samping penyakit fisik, hal yang paling penting untuk dijaga dari penyakit adalah kesucian hati. Penyakit hati atau penyakit maknawi (al-maradh al-ma’nawi), secara qur`ani disebut dalam firman Allah, ”Di dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya. Dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (Qs. al-Baqarah [2]: 10) Maksudnya, penyakit hati berbentuk kemunafikan atau sikap acuh dalam menerima kebenaran.

Penyakit ini timbul akibat kekosongan hati dari penjagaan, taufîq, pemeliharaan dan dukungan Allah. Maka, al-maradh (penyakit) di sini mengandung arti kegelapan (azh-zhulmah), atau kiasan bagi sesuatu yang menimpa seseorang yang menodai kesempurnaan dirinya. Seperti sifat marah, lupa, akidah yang buruk, dengki, dan lain-lain yang menodai dirinya dan mengakibatkan rusaknya rohani. Dan kerusakan ini lebih dahsyat daripada kerusakan jasmani.

Hakikat penyakit maknawi atau penyakit hati, disebut juga sebagai kemunafikan. Orang-orang munafik biasa suka menipu, menampakkan keimanan padahal terus dalam kekafiran. (Qs. 2:10, 5:52, 8:49, 9:125, 22:53, 24:50, 33:22 dan 60, 47:20 dan 29).

Mereka tak sadar, saat mereka menipu, sebenarnya mereka hanya menipu diri sendiri. Sebab, akibat perbuatan menipu, mereka akan merasakannya sendiri. Yaitu bertambahnya penyakit hati yang mereka derita, karena tak lekas sadar diri. Seperti dinyatakan dalam surah al-Baqarah ayat 2 di atas.

Selain melakukan penipuan, orang munafik juga cenderung mempunyai penyakit penyimpangan hati. Seperti disebutkan dalam banyak ayat-ayat al-Qur`an dengan kata az-zaigh (penyimpangan) (Qs. 3:7, 3:8, 61:5, 4:142-143). Az-zaigh berarti berpaling dari kebenaran, yang bermakna penyimpangan, dan merupakan fitnah. Orang-orang yang yang tak tahu bahwa diri mereka terjerumus ke dalam syubhat dan kesamaran, maka mereka akan masuk dalam kesesatan. Dengan kesesatan ini, berarti hati mereka telah dicondongkan kepada kesesatan yang ada.

Bergabungnya kecondongan kepada kesesatan dengan penyakit hati, merupakan salah satu sifat orang-orang munafik. Sifat seperti ini dapat kita temui pada sikap mereka yang tidak konsisten dalam menghadapi perubahan. Ucapan mereka pun mudah berubah-ubah.

Pembagian hati

Menurut para Sahabat Rasulullah, seperti Abu Sa’id al-Khudri RA, hati manusia dibagi menjadi empat jenis: Pertama, qalbun ajrad, hati yang di dalamnya terdapat pelita yang gemilang, dan inilah hati orang-orang yang beriman. Kedua, qalbun aghlaf, yaitu hati orang-orang kafir. Ketiga, qalbun mankûsh, yaitu hati orang-orang munafik yang sebenarnya mengetahui tapi kemudian ingkar, atau hati yang melihat tapi kemudian buta. Keempat, qalbun mutaraddid, berupa hati yang di dalamnya ada materi keimanan dan kemunafikan, ia akan condong kepada pemenang antara kedua materi tersebut. (HR. Ahmad dalam Musnad)

Sedangkan menurut Ibnu Qayyim, hati terbagi menjadi tiga: Pertama, hati yang sehat, yaitu hati yang menjadikan pemiliknya selamat di hari Kiamat kelak. Hati seperti ini adalah hati yang selamat dari syahwat yang menjauhi larangan Allah dan syubhat yang bertentangan dengan perintah-Nya. Serta hati yang senantiasa mengutamakan keridhaan Allah dalam segala hal. Hati jenis ini dikatakan sebagai hati yang hidup, tunduk, lembut dan sadar.

Kedua, hati yang mati. Yaitu hati yang tidak memiliki kehidupan, tak bisa lagi mengenal Allah, tak mengikuti perintah-Nya, dan tak tahu lagi mana yang Allah cintai atau ridhai. Hati yang mati akan terus bergelimang bersama syahwat dan kelezatannya, dan mengutamakan hawa nafsu. Ia akan kering kerontang, dan kemudian mati.

Ketiga, hati yang sakit. Yaitu hati yang masih memiliki kehidupan, namun terjangkit penyakit hati. Hati seperti ini memiliki dua kecenderungan, terkadang ditarik oleh materi yang baik, dan terkadang kepada yang buruk. Ia akan condong kepada materi yang menyenangkan. Hati jenis ini akan dekat kepada keselamatan, tapi juga rentan kepada kehancuran. Maka, hati-hatilah dengan hati kita.

Bahan Bacaan:

Ahmad Husain Ali Salim, Al-Maradh wa asy-Syifâ` fi al-Qur`ân (Terapi al-Qur`an untuk Penyakit Fisik dan Psikis Manusia), Astana Buana Sejahtera, Jakarta.

09/12/2009

Pentingnya Konseling Psikologi Islam

Prof. Dr. Achmad Mubarok MA

Pengasuh Center For Indigenous Psychology (Pusat Pengembangan Psikologi Islam)

Manusia memiliki dua predikat. Yaitu sebagai ‘abdullâh atau hamba Allah SWT, dan sebagai khalîfah atau wakil Allah di muka bumi. Predikat pertama menunjukkan kelemahan, kekecilan, keterbatasan, dan ketergantungan manusia kepada yang lain. Sehingga setiap manusia berpotensi untuk mengidap masalah. Sedangkan predikat kedua menunjukkan kebesaran manusia, sekaligus besarnya tanggungjawab yang ia dalam kehidupannya di muka bumi.

Dari sudut pandang itu, maka urgensi bimbingan dan konseling bagi manusia merujuk kepada dua predikat tersebut.

Sebagai makhluk yang lemah (‘abdun), suatu ketika manusia tak tahan menghadapi realita kehidupan yang pahit, sempit, dan berat. Dalam kondisi fisik tak berdaya, orang membutuhkan bantuan orang lain, dokter misalnya untuk memulihkan kesehatannya.

Demikian pula dalam kondisi mental yang kacau (gangguan jiwa), seseorang membutuhkan bantuan kejiwaan untuk memulihkan rasa percaya dirinya, meluruskan cara berpikir, pandang dan merasanya agar ia kembali realistis, mampu melihat kenyataan yang sebenarnya, dan mampu mengatasi problema dengan cara-cara yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sebagai khalifah Allah, manusia dibebani tanggungjawab menyangkut kebaikan diri maupun masyarakatnya. Setiap manusia diberi kebebasan untuk memutuskan sendiri apa yang baik untuk dirinya, asal bukan perbuatan maksiat yang dilakukan secara terang-terangan.

Sebagai khalifah Allah yang dibebani tanggungjawab kemaslahatan masyarakatnya, maka seorang muslim harus merasa terpanggil untuk memelihara ketertiban masyarakat. Oleh karena itu, ia terpangil untuk meluruskan hal-hal yang menyimpang, menata hal-hal yang salah tempat, mendorong hal-hal yang mandeg dan menghentikan kekeliruan-kekeliruan yang berlangsung.

Dalam perspektif bimbingan dan konseling, seorang musim sebagai khalifah Allah terpanggil untuk membantu orang lain yang sedang mengalami gangguan kejiwaan, yang menyebabkan orang itu tak mampu mengatasi tugas-tugasnya dalam kehidupan.

Jadi, secara kodrati manusia memang membutuhkan bantuan kejiwaan, termasuk konseling agama. Dan secara konsepsional, harus ada orang yang menekuni bidang ini agar layanan konseling agama dapat diberikan secara profesional, sebagai perwujudan dari rasa tanggungjawabnya sebagai khalifah Allah.

Untuk mengetahui kedudukan bimbingan dan konseling agama dalam perspektif keilmuan maupun ajaran Islam, sekurangnya perlu diketahui lebih dahulu empat hal berikut ini: Pertama, bahwa kodrat kejiwaan manusia membutuhkan bantuan psikologis. Kedua, gangguan kejiwaan yang berbeda-beda membutuhkan terapi yang tepat. Ketiga, meski manusia memiliki fitrah kejiwaan yang cenderung kepada keadilan dan kebenaran, tapi daya tarik kepada keburukan lebih banyak dan lebih kuat, sehingga motif kepada keburukan akan lebih cepat merespon stimulus keburukan dan mendahului respon motif kepada kepada kebaikan. Keempat, keyakinan bahwa agama (keimanan) merupakan bagian dari struktur kepribadian. Sehingga getar batin dapat dijadikan penggerak tingkah laku (motif) kepada kebaikan.

09/12/2009

Mukjizat Psikologis Al-Qur`an

Nazlah Hidayati M.Psi

Secara umum, mukjizat dikenal sebagai kejadian ajaib yang sulit dijangkau kemampuan akal manusia. Dalam Islam, mukjizat berarti melemahkan atau menjadikan tidak mampu. Dan al-Qur`an merupakan mukjizat besar Islam yang terbentang sepanjang masa. Tak akan ada seorangpun mampu membuat tandingannya hingga akhir zaman nanti.

Al-Qur`an memiliki banyak aspek keistimewaan dan kemukjizatan. Salah satunya adalah mukijzat psikologis. Al-Qur`an diyakini sebagai satu-satunya kitab suci yang memiliki energi daya gubah dan gugah yang luar biasa, serta semacam pengaruh yang dapat melemahkan dan menguatkan jiwa seseorang. Peristiwa keislaman Umar ibn Khaththab RA setelah membaca lembaran ayat-ayat al-Qur`an, menjadi bukti kemukjizatan al-Qur`an secara psikologis ini.

Allah berfirman, ”Sesungguhnya orang-orang mukmin (yang sempurna) adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, bergetar hati mereka. Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, bertambah iman mereka.” (Qs. al-Anfâl [8]: 2)

Bukti lain misalnya, penelitian yang dilakukan DR. Ahmad al-Qadhi mengenai pengaruh ayat-ayat al-Qur`an terhadap kondisi psikologis dan fisiologis manusia. Ia buktikan, al-Qur`an mampu menciptakan ketenangan batin (psikologis) dan mereduksi ketegangan-ketegangan saraf (fisiologis). Penelitian ini dilakukan terhadap lima sukarelawan non-muslim, berusia antara 17-40 tahun, menggunakan alat ukur stres jenis MEDAQ 2002 (Medical Data Quetient), yang dilengkapi software dan sistem detektor elektronik hasil pengembangan Pusat Kedokteran Universitas Boston, Amerika Serikat.

Sebelum penelitian dimulai, setiap responden dipasangi empat jarum elektrik di tubuh masing-masing, yang dikoneksikan ke mesin pengukur berbasis komputer. Ini dilakukan untuk mendeteksi gelombang elektromagnetik, dan mengukur reaksi urat saraf reflektif pada masing-masing organ tubuh responden.

Pada ujicoba pertama, kelima responden diperdengarkan 85 kali ayat-ayat al-Qur`an secara mujawwad (tanpa lagu). Pada percobaan kedua, 85 kali diperdengarkan kalimat-kalimat biasa berbahasa Arab secara mujawwad. Dan pada percobaan ketiga, 40 kali responden dibiarkan duduk membisu sambil menutup mata, tanpa dibacakan apa-apa. Hasilnya, 65% responden yang mendengarkan ayat-ayat al-Qur`an mendapat ketenangan batin dan ketegangan sarafnya turun hingga 97%.

Begitulah kemukjizatan al-Qur`an yang bukan sekedar kitab bacaan, namun mampu memotret jiwa dan raga manusia. Tapi, untuk menyingkap tabir dan rahasia al-Qur`an, tidak akan mampu dilakukan menggunakan cara-cara sombong (Qs. al-A’râf [7]: 146). Seperi diungkap Prof. DR. Jeffrey Lang, guru besar Matematika Amerika dari Universitas Kansas yang kini telah masuk Islam, ”Anda tidak dapat membaca al-Qur`an begitu saja, kecuali jika Anda bersungguh-sungguh memberi perhatian dengan penghayatan mendalam. Anda tinggal memilih, menyerahkan sepenuhnya, seluruh jiwa dan raga, kepada al-Qur`an, atau Anda akan memeranginya dengan akal dan nalar Anda. Maka al-Qur`an akan menyerang Anda lebih kuat dari yang Anda bayangkan, mendebat, mengkritik dan membuat malu para penantangnya.”

Selain sebagai potret jiwa dan raga, al-Qur`an juga berfungsi sebagai obat/terapi psikologis. Efek penyembuhan dengan memperdengarkan ayat-ayat al-Qur`an atau meminta pasien untuk membacanya, terbukti sangat luar biasa.

Sebuah riwayat yang disampaikan Ibnu Sunni dari Abdurrahman ibn Abu Laila disebutkan, pernah seorang lelaki datang menghadap Rasulullah SAW dan berkata, ”Saudaraku sedang sakit, wahai Rasulullah.” Nabi bertanya, ”Sakit apa saudaramu?” ”Sejenis penyakit hilang ingatan (gila),” jawab lelaki itu. Lalu Nabi memeritahkan, ”Bawalah ia padaku.” Setelah si pasien dihadapkan kepada Rasululla, lalu beliau menerapinya dengan membacakan ayat-ayat dari surah al-Fâtihah, al-Baqarah ayat 2-5, 163-164, 225, 284-286, Âli ’Imrân ayat 2, 18, al-A’râf ayat 54, al-Mu`minûn ayat 116, al-Jin ayat 3, al-Hasyr ayat 22-24, al-Ikhlâs ayat 1-4, al-Falaq ayat 1-5, dan an-Nâs ayat 1-6. Setelah beberapa kali diterapi si pasien sembuh dan normal kembali. Subhânallâh.

Membentuk Kepribadian

Seperti dikemukakan di atas, al-Qur`an hanya akan berpengaruh secara psikologis jika seseorang benar-banar mampu bersahabat akrab dengannya. Baik dengan membaca, menghayati dan mengamalkannya penuh keyakinan, disiplin dan berulang-ulang.

Membaca al-Qur`an dengan memahami maknanya melalui tafsir dan takwil (al-hikmah), akan menghasilkan potensi pencegahan, perlindungan dan penyembuhan banyak penyakit psikologis. Segala penyebab gangguan psikologis dan terganggunya eksistensi kejiwaan akan lenyap dengan menjadikan al-Qur`an sebagai pedoman hidup.

Ketika seseorang mampu menjadikan al-Qur`an sebagai pedoman hidup, berarti ia telah memiliki kepribadian Qur’ani. Kepribadian semacam ini diperoleh ketika seseorang telah berhasil mentransformasikan isi kandungan al-Qur`an ke dalam dirinya, untuk kemudian diinternalisasikan dalam kehidupan nyata. Proses transformasi dan internalisasi tersebut harus tercermin dalam semua dimensi nilai-nilai al-Qur`an. Yaitu dimensi i’tiqâdiyah (keimanan), khuluqiyyah (etika), dan ’amaliyyah (perilaku).

Simbologi al-Qur`an

Sebuah wacana mukjizat al-Qur`an yang kini mulai diteliti oleh beberapa ahli sebagai ilmu baru adalah simbologi al-Qur`an yang mampu memetakan dan membaca karakter manusia. Menurut ilmu ini, karakter setiap orang terwakili oleh salah satu dari 30 juz di dalam al-Qur`an. Artinya, baik masa lalu, kelebihan dan kekurangan, bakat dan minat, problem solving, sifat, dan prediksi kehidupan masa depan seseorang, dapat diketahui dengan menganalisis dan mempelajari juz yang menjadi karakternya. Penentuan juz, didasarkan pada pemaknaan simbol-simbol dalam al-Qur`an yang meliputi huruf, ayat, surah, halaman, angka dan tema.

Kriteria huruf Hijaiyah yang dipergunakan dalam penentuan juz adalah deret 32 huruf, dengan menambahkan empat huruf tâ`, alîf lâm, hamzah, dan lâm alîf dari 29 deret huruf yang lazim dikenal. Setiap huruf memiliki makna simbolik tersendiri. Misalnya huruf-huruf dari âlîf sampai syîn, diasumsikan sebagai simbol tubuh atau fisik. Huruf shâd sampai kâf, diasumsikan memetakan tentang masa depan dalam realitas sehari-hari. Sedangkan huruf lâm sampai alîf lâm menggambarkan masa lalu.

Berbagai metode yang digunakan, antara lain metode identifikasi karakter berdasarkan surah, struktur huruf, huruf cetak tebal di setiap awal juz, tanda ruku’ (’ain juz), dan makna halaman. Misalnya, ketika analisis menggunakan metode identifikasi karakter berdasarkan surah, maka seseorang yang memiliki karakter juz dua (surah al-Baqarah) dengan total 111 ayat, jika dikorelasikan dengan surah ke-111 (al-Lahab/gejolak api), maka orang yang memiliki karakter juz tersebut cenderung menanggapi sesuatu dengan emosi dan sulit mengendalikan emosi.

Makna lainnya, surah al-Baqarah artinya sapi betina. Sapi adalah binatang yang kuat menghadapi perubahan cuaca. Maka orang dengan karakter juz dua, cenderung memiliki ketahanan fisik terhadap cuaca. Ia seorang pekerja keras dan pantang menyerah, namun kadangkala ia bisa kehilangan inisiatif jika emosi sedang menguasai.

Begitulah. Selain efek menenangkan dan menggetarkan jiwa, al-Qur`an juga memiliki efek preventif, kuratif dan terapeutik terhadap berbagai penyakit kejiwaan, spiritual hingga fisik. Wallâhu a’lam bishshawâb.

Bahan Bacaan:

H.B. Adz-Dzakiey, Konseling dan Psikoterapi Islam; Penerapan Metode Sufistik, Jogjakarta: Fajar Pustaka Baru, 2003.

I. Mirza dan G Iful, Holistic HSQ; Metode Menemukan Karakter Diri Berdasarkan Simbolisasi al-Qur`an, Bandung: Dzikir Press, 2007.

A. Mujib, Kepibadian dalam Psikologi Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006.

09/12/2009

Hakikat Khusyu'

Dr. Amir Faishol Fath

Kata khusyu’ dalam al-Qur`an hampir selalu digandengkan dengan shalat. Dalam surah al-Baqarah ayat 45, Allah SWT berfirman, “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`.” Demikian pula dalam surah al-Mu`minûn ayat 2, Allah berfirman, ”(Yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya.”

Imam Ibn Abbas menjelaskan, makna khusyu’ adalah tenang. Dalam bahasa ulama fikih disebut thuma’nînah (tidak tergesa-gesa). Berdasarkan argumen ini, shalat khusyu’ berarti shalat yang ditegakkan dengan tenang dan tidak terburu-buru. Karena, orang yang tergesa-gesa mengerjakan shalat, ia tak akan pernah biasa menikmatinya. Ibarat orang yang tergesa-gesa ketika makan, ia tak akan pernah menikmati lezatnya makanan tersebut.

Selain itu, kata khusyu’ juga digunakan untuk menerangkan kondisi psikologis orang-orang kafir dan pendosa di hari kiamat kelak. Bahwa mereka dalam kondisi jiwa yang penuh kesedihan dan ketakutan.

Dalam surah al-Qalam ayat 43 Allah berfirman, ”Pandangan mereka tunduk ke bawah, dan mereka diliputi kehinaan. Sesungguhnya mereka dulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera (tetapi mereka tidak melakukannya).”

Dipertegas lagi dalam surah al-Ma’ârij ayat 44, ”Mereka menekurkan pandangannya (serta) diliputi kehinaan. Itulah hari yang dahulunya diancamkan kepada mereka.” Dan dalam surah an-Nâzi’ât ayat 9 lagi-lagi ditegaskan makna yang sama, abshâruhâ khâsyi’ah (pandangannya tunduk). Begitu pula dalam surah al-Ghâsyiyah ayat 2, wujûhuy-yama`idzin khâsyi’ah (banyak muka pada hari itu tunduk terhina).

Dalam surah Fushshilat ayat 39, kita menemukan ayat yang menggambarkan ketandusan bumi dengan kata khusyu’. Allah berfirman, ”Dan sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus (khâsyi’atan). Maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang Menghidupkannya tentu dapat Menghidupkan yang mati. sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Ini menunjukkan, bahwa kata khusyu’ juga digunakan dalam al-Qur`an untuk menuturkan kondisi yang nampak mati, tidak ada kehidupan, lalu ia menjadi bangkit dan hidup dengan disirami air hujan.

Khusyu’ dalam Shalat

Ada beberapa makna khusyu’ yang telah diterangkan ayat-ayat al-Qur’an di atas: Pertama, ada gambaran sebuah makna yang saling melengkapi tentang hakikat khusyu’ dalam shalat. Yaitu: suatu kondisi di mana seseorang yang sedang shalat benar-benar menyadari kelemahan dirinya yang terbatas dan serba tergantung kepada selainnya, terutama kepada Allah. Dengan kesadaran itu, ia akan menegakkan shalatnya dengan sungguh-sungguh. Bukan asal-asalan.

Inilah maksud firman Allah dalam surah al-Mu`minûn ayat 2, alladzîna hum fî shalâtihim khâsyi’ûn. Karenanya Ibn Abbas mengartikan kata khâsyi’ûn sebagai sâkinûn (tenang).

Bila kondisi seperti ini yang dicapai seseorang dalam shalatnya, maka ia akan merasa nikmat, dan tak akan pernah sedikitpun merasa terbebani. Inilah makna ayat dalam surah al-Baqarah ayat 45, wa innahâ lakabîratun illa ‘alal-khâsyi’în (Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`).

Dari kesadaran shalat seperti inilah akan tercapai kesadaran mendalam bahwa shalat bukan hanya ritual, melainkan harus tercermin dalam kehidupan nyata sehari-hari. Bila seseorang benar-benar menjiwai hakikat shalat seperti ini, maka ia tak hanya baik secara ritual, melainkan di saat yang sama ia pasti baik secara sosial (akhlak mulia).

Ini yang di maksud dengan firman Allah, ”Sesungguhnya shalat pasti akan mencegah dari perbuatan keji dan munkar.” (Qs. al-’Ankabût [29]: 45)

Perhatikan ayat ini. Di dalamnya terkandung suatu jaminan dari Allah, bahwa seorang yang mengerjakan shalat pasti akan tercegah dari perbuatan keji dan munkar. Artinya, tak mungkin seorang yang shalatnya baik, perilakunya tidak baik. Ingat, bahwa ini jaminan dari Allah. Dan kita tahu Allah tak pernah bohong. Maka jika ada seorang yang shalat, tetapi perilakunya jahat, sungguh yang harus dipertanyakan adalah kualitas shalatnya.

Kedua, shalat adalah ibadah yang sangat agung. Tak ada ibadah dalam Islam yang langsung Allah berikan kepada Rasulullah SAW tanpa perantara Jibril AS, kecuali shalat. Ini menunjukkan betapa agungnya ibadah shalat. Di hari kiamat nanti, ibadah ini akan menjadi barometer bagi ibadah kita lainnya.

Karenanya, seperti disebutkan dalam sebuah hadist, yang pertama kali dihisab dari diri seseorang kelak do akhirat adalah shalat. Bila shalatnya baik, maka ibadah yang lainnya pasti akan menjadi baik. Sebaliknya, bila shalatnya buruk, ibadah lainnya juga akan dianggap buruk.

Jadi, peran khusyu’ dalam shalat sangatlah penting. Karenanya, Ibnu Taimiyah dalam kitab Majmu’ Fatâwâ menjelaskan bahwa khusyu’ adalah syarat diterimanya shalat. Ia mendasarkan pendapatnya pada surah al-Mu`minûn ayat 1-2, ”Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya.”

Dari sini Ibnu Taimiyah lalu mengambil kesimpulan bahwa tidak mungkin bisa mencapai kebahagiaan, bila seseorang tidak mempunyai kualitas khusyu’ dalam shalatnya.

Seperti disebutkan di atas, para ulama fikih membahasakan khusyu’ dengan kata thuma’nînah. Kedua kata ini (khusyu’ dan thuma’nînah) menunjukkan makna yang sama, yaitu shalat yang ditegakkan dengan tenang, tidak terburu-buru, penuh dengan kesadaran kehambaan kepada Allah.

Ketiga, hakikat khusyu’ berdasarkan keterangan di atas bila dinisbahkan kepada shalat, maka maksudnya adalah shalat yang tidak hanya tegak secara fisik, melainkan juga jiwa.

Nampak di sini betapa peran penting terlibatnya jiwa ketika seorang mengerjakan shalat. Karenanya tak heran jika banyak hal dalam al-Qur`an, masalah jiwa (an-nafs) menjadi penekanan. Kata tazkiyyah (pembersihan), selalu dimaksudkan untuk pembersihan jiwa (tazkiyyatun-nafs). Allah berfirman, “Demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Qs. asy-Syams [91]: 7-10)

Lebih dari itu, di alam akhirat nanti, ketika tiba saatnya ahli surga masuk surga dan ahli neraka masuk neraka, Allah akan lebih dahulu memanggil orang-orang yang jiwanya tenang mentaati-Nya, menegakkan ibadah kepada-Nya, tidak terpengaruh godaan apapun. ”Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Qs. al-Fajr [89]: 27-30). Wallâhu a’lam bish-shawâb.

09/12/2009

Dzikir Melapangkan Dada

Fuad Nashori, S.Psi., M.Si., Psi

Ketua Umum PP Asosiasi Psikologi Islami Indonesia, Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta

Setiap bangsa dan setiap institusi memiliki tanggungjawab dan tugas untuk mengembangkan sumber daya manusia an

ggotanya. Dimensi-dimensi sumber daya manusia yang perlu memperoleh pengembangan lebih lanjut bukan hanya yang berkaitan dengan fisik, psikologis dan sosial, tapi juga spiritual.

Salah satu aspek psiko-spiritual yang dipandang penting adalah kelapangan dada. Kelapangan dada adalah suatu kondisi psiko-spiritual yang ditandai oleh kemampuan menerima berbagai kenyataan yang tidak menyenangkan dengan tenang dan terkendali.

Beberapa tahun belakangan ini dalam diri bangsa Indonesia terdapat berbagai kenyataan yang memprihatinkan. Orang Indonesia, yang sebelumnya dicitrakan sebagai bangsa yang lapang dada, ternyata sering menunjukkan berbagai reaksi yang bersifat negatif terhadap stimulus yang tidak menyenangkan.

Reaksi yang ditunjukkan seseorang saat menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan bermacam-macam. Salah satunya adalah melakukan agresi membalas, yaitu menyerang balik secara fisik atau psikologis terhadap seseorang yang dianggap sebagai penyebab peristiwa yang tidak menyenangkan.

Reaksi yang lain adalah diam. Dalam hal ini secara lisan tidak bicara, tapi alam hati tetap menyimpan peristiwa yang tidak menyenangkan, bahkan traumatik. Salah satu kebiasaan yang diajarkan budaya, adalah diam itu emas (tidak berbicara itu mulia).

Dalam budaya Jawa, sikap diam sangat dijunjung tinggi. Orang Jawa menyebutkan konsep ngono yo ngono ning ojo ngono (secara harfiah: begitu ya begitu tapi jangan begitu). Maksudnya, orang boleh jadi merasa menderita, tapi jangan mengungkapkan penderitaan itu apa adanya.

Ciri Lapangan Dada

Kelapangan dada (al-basîth, as-samhah) adalah suatu kondisi psiko-spiritual yang ditandai oleh kemampuan menghayati realitas yang terjadi, menyadari bahwa realitas itu diciptakan oleh Allah SWT, dan kesediaan untuk menerima berbagai kenyataan yang boleh jadi tidak menyenangkan secara fisik dan psikologis.

Yang dimaksud kondisi psiko-spiritual adalah keadaan yang berada dalam diri seseorang yang berkaitan dengan perasaan dan pemikirannya sebagai makhluk Allah SWT. Kenyataan yang tidak menyenangkan adalah semua kondisi yang berada di dalam dan di luar diri, yang secara objektif tidak disukai seseorang. Semakin tinggi kelapangan dada seseorang semakin mampu ia menerima realitas yang beragam, termasuk yang tidak menyenangkan.

Sekurang-kurangnya terdapat tujuh ciri pribadi yang lapang dada : Pertama, kesadaran spiritual (spiritual awareness). Yaitu kesadaran bahwa keadaan yang tidak menyenangkan merupakan ujian dari Allah. Orang yang lapang dada adalah seseorang yang kokoh menghadapi berbagai kenyataan hidup dan memandang kenyataan hidup sebagai ujian. Kekokohan itu dapat dicapai bila seseorang dilatih atau diuji secara terus menerus oleh Allah (Qs. al-Ankabût [29]: 2).

Kedua, kesiapan psikologis (psychological preparatory). Berupa kesiapan untuk menerima stimulasi yang tidak menyenangkan. Setelah sadar bahwa orang yang kokoh atau hebat harus melewati banyak ujian, maka tumbuhlah dalam diri orang tersebut kesiapan untuk berhadapan dengan hal-hal yang tidak menyenangkan. Kesiapan ini merupakan respons atas kepastian datangnya ujian dari Allah (Qs. Âli ‘Imrân [3]: 186).

Ketiga, keyakinan akan kesanggupan diri menanggung beban. Yaitu keyakinan bahwa kesulitan yang ditanggung tak akan melebihi kesanggupan dirinya untuk menerima beban itu. Apapun ujian yang bakal atau dijalani seseorang, pasti telah tersedia kemampuan psiko-spiritual dalam diri seseorang untuk mampu menerima beban itu (Qs. al-Baqarah [2]: 286).

Keempat, pertobatan atas dosa yang telah dilakukan kepada Tuhan. Orang yang lapang dada, akan sadar bahwa salah satu yang menjadikan kesulitan adalah dosa-dosa yang dilakukan manusia. Kadang kesulitan, yang sesungguhnya merupakan ujian itu, terjadi akibat kesalahan manusia.

Bila seseorang sadar sesuatu yang terjadi merupakan kesalahannya, maka ia akan meminta ampunan dari Allah. Aktivitas bertobat akibat kesalahan ini dicontohkan oleh Nabi Daud AS (Qs. Shâd [38]: 24) (Lihat pula 38: 34-35).

Kelima, pemaafan (forgiveness). Yaitu kesiapan memberi ampun/maaf bagi orang lain. Keterbukaan diri untuk memberi maaf kepada orang lain adalah tanda utama yang dapat segera ditangkap orang lain. Setiap kali menerima stimulasi yang tidak menyenangkan, Nabi Muhammad SAW selalu memiliki kesiapan untuk memberikan maaf orang yang menyakitinya.

Keenam, pencarian hikmah (seeking meaning). Yakni keyakinan akan adanya hikmah atau pelajaran di balik peristiwa. Orang yang sehat secara ruhani, akan dapat mengambil pelajaran bahwa di balik kesulitan ada pelajaran atau hikmah. Sementara orang-orang yang tidak sehat (munafik) tidak dapat mengambil pelajaran (Qs. at-Taubah [9]: 126).

Ketujuh, berpikir positif tentang masa depan (positive thinking). Berupa keyakinan akan adanya perbaikan keadaan setelah berlangsungnya keadaan yang tidak menyenangkan. Keadaan yang tidak menyenangkan pasti akan berlalu, dan akan datang keadaan yang menyenangkan, tentu saja melalui usaha (Qs. al-Insyirâh [94]: 5-6).

Faktor Pengaruh

Ada beberapa hal yang mempengaruhi tinggi rendahnya kelapangan dada seseorang. Yaitu:

a. Keimanan. Seseorang yang memiliki iman yang kokoh , akan percaya adanya takdir (ketentuan) baik dan buruk yang telah Allah tetapkan. Kalau seseorang selalu menyadari bahwa Allah menetapkan takdir ini, maka mereka cenderung bisa menerima segala ketentuan-Nya. Dan seseorang yang selalu beribadah adalah seseorang yang cenderung mengukuhkan iman terhadap takdir Allah.

b. Dzikir. Menurut Subandi (1997), dzikir akan menghasilkan perasaan lapang atau los (terbebas dari beban yang menghimpit). Salah satu aspek yang mempengaruhi hasil dari dzikir adalah sejauh mana kualitas dzikir yang dilakukan.

c. Tingkat penderitaan yang dialami. Berat ringannya penderitaan yang dialami seseorang, ikut serta mempengaruhi kelapangan dadanya. Penderitaan yang luar biasa berat, biasanya cenderung bisa diterima dengan lapang dada dibanding yang agak kurang berat.

d. Sumber penderitaan. Kalau sumber penderitaan karena ulah manusia, maka orang akan cenderung lebih sulit untuk berlapang dada. Sementara jika ia memahami bahwa penderitaan yang dialami berasal dari Tuhan, maka ia cenderung berlapang dada.

e. Usia. Orang yang berusia memasuki Lansia, cenderung lebih bisa menerima penderitaan daripada orang yang lebih muda. Ini berkat perbandingan banyaknya pengalaman hidup.

f. Lingkungan. Orang yang berada dalam lingkungan yang terlatih untuk berhadapan dengan suasana tidak menyenangkan, akan lebih besar kelapangan dadanya dibanding mereka yang berada dalam lingkungan yang tidak melatih mereka untuk menerima beragam situasi. Pondok pesantren adalah lingkungan yang melatih anak didik untuk terbiasa hidup prihatin.

Dzikir dan Lapang Dada

Aktivitas keagamaan memberi peluang pada seseorang untuk memperluas diri atau berlapang dada. Berdzikir, membaca al-Qur`an dan berdoa, dapat melapangkan dada seseorang. Dzikir yang dijalani seseorang secara berkualitas, akan membantu pembentukan wadah psiko-spiritual yang luas dalam sistem kepribadian seseorang.

Wadah psiko-spiritual yang luas, dapat digambarkan sebagai danau yang luas. Jika seseorang memiliki danau yang luas dalam jiwanya, maka mereka akan menganggap kotoran yang masuk ke danau tersebut tidak berarti.

Maksudnya, bila seseorang memiliki wadah psiko-spiritual yang luas, maka ia tak akan serta merta menjadi marah besar, putus asa, atau stres, manakala menghadapi musibah atau peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan.

Namun, kalau wadah psiko-spiritual seseorang sempit, misalnya sesempit gelas, maka bila ada kotoran atau polusi menghambat, mereka akan merasakan adanya pengaruh buruk kehadiran benda-benda tersebut. Adanya danau yang luas, dipengaruhi oleh aktivitas ibadah dan perilaku sehari-hari seseorang. Salah satu aktivitas ibadah yang penting adalah berdzikir.

Bahan Bacaan:

Hanna Djumhana Bastaman, Integrasi Psikologi dengan Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar & Yayasan Insan Kamil, 2005.

H. Fuad Nashori, “Menjadi Pribadi yang Lapang Dada,” dalam Buletin al-Islamiyyah, No. 18, Th. XII, Februari 2004.

H. Fuad Nashori, Manajemen Qalbu: Bagaimana Menyikapi Penderitaan Hidup? Bahan Kuliah Blok Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran UII Yogya, 2004.

Muhammad Arifin Ilham & Debby Nasution, Hikmah Dzikir Berjamaah, Jakarta: Penerbit Republika, 2004.

H. Fuad Nashori, Potensi-Potensi Manusia: Seri Psikologi Islami, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003.

Subandi, “Tema-tema Pengalaman Spiritual Pengamal Dzikir” dalam Jurnal Psikologika, II, 1997.

Rahmat Hidayat, Peta Problem Psikologis Para Survivor Bencana Gempa dan Tsunami Aceh. Makalah. Asosiasi Psikologi Islami dan Panitia Psikologi UII Peduli Aceh, Yogyakarta, 2004.

Ahmad Cahyadi, Hubungan antara Dzikir dengan Kontrol Diri pada Remaja. Laporan Penelitian, Yogyakarta: Fakultas Psikologi UII, 2003.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.