Akibat Kurang Percaya Diri

Novi Chamelia

Hilmiyah (13 tahun), santriwati di sebuah pondok pesantren modern di Jawa Tengah, terlihat begitu gugup dan tegang menanti giliran namanya dipanggil ke dalam ruang ujian lisan akhir tahun lalu di pesantrennya.

Menurut guru pembimbingnya, bukan cuma kali itu ia terlihat gugup, tapi setiap kali ada hal-hal penting dan mendesak, Mia nama panggilan anak itu, selalu gelagapan menyikapinya.

Mia terbilang anak yang cukup pintar. Saat duduk sekolah dasar (SD) ia sering masuk peringkat teratas di kelasnya. Tapi ketika memasuki pesantren yang terbilang ketat persaingan dengan anak seusia dan lulusan beragam sekolah dasar umum maupun agama, Mia menjadi “grogi”. Akibat kegugupannya itu, Mia harus menerima ganjaran tak naik kelas. Dalam dirinya ada perasaan selalu merasa lekas gagal, yang masih sulit ia perbaiki.

Mengulang kembali di kelas satu, membuat Mia banyak belajar dari kesalahannya tahun lalu. Sekarang ia lebih percaya diri menjalani aktivitas kepondokan dan pelajaran di kelas. Nilai semester genapnya juga terbilang jauh membaik dibanding nilai yang digapainya tahun lalu. Bukan karena ia harus mengulang pelajaran. Tapi karena ia kian percaya bahwa dirinya mampu maju seperti rekan-rekan sekelasnya dulu yang naik kelas.

Potret sosok Mia, termasuk satu dari jutaan anak Indonesia yang beranjak remaja yang menghadapi problem percaya diri. Di rumahnya dulu, orangtuanya yang terbilang sangat terdidik sangat berambisi dan selalu banyak menuntut, agar Mia mampu berprestasi. Sayangnya, kedua orangtua Mia tak lekas sadar telah menekan terlalu berlebihan kepada anak pertamanya itu. Akibatnya, ketika sebuah kegagalan terjadi, Mia cenderung cepat mengalami frustrasi, rasa takut gagal selalu menyelimuti hatinya, dan tak jarang ia merasa dirinya tak berharga.

Cepat Merasa Gagal

Banyak orang, kalangan remaja khususnya yang belum banyak merasakan pahit getir kehidupan, ketika didera oleh sebuah masalah, apalagi kegagalan kecil, ia akan merasa kesempatannya untuk sukses telah habis. Padahal, Sunnatullah telah menggariskan bahwa alam dan isinya berpasang-pasangan. Ada hukum tarik menarik dalam segala hal. Artinya, alam akan selalu dinamis sesuai kehendak Penciptanya.Pun kehidupan manusia, yang akan mengalami rotasi (perputaran), antara di bawah dan di atas, sukses dan tidak sukses, bahagia dan susah.

Begitu pula dengan iman yang bisa datang dan pergi, naik dan turun. Ibnu Mas’ud mengatakan, “Sesungguhnya jiwa manusia itu mempunyai saat di mana ia ingin beribadah, dan ada saat di mana enggan beribadah. Di antara dua keadaan itulah manusia menjalani kehidupan ini. Dan diantara dua keadaan itu pula nasib manusia ditentukan.”

Artinya, semakin seseorang berada dalam iman yang rendah, maka besar kemungkinan dalam kondisi ini ia akan mengakhiri hidupnya. Demikian sebaliknya, jika seseorang semakin sering berada pada kondisi iman yang tinggi, maka semakin besar peluangnya memperoleh akhir kehidupan yang baik.

Untuk itu butuh pribadi yang pantang menyerah (tangguh) dalam mengarungi kehidupan ini, atau pribadi yang tidak lemah atau lekas merasa lemah terhadap sesuatu yang menimpanya. Salah satu caranya, pribadi itu harus memiliki dan bisa menumbuhkan rasa self esteem dalam dirinya.

Self esteem adalah berpikir setinggi mungkin, agar seseorang bisa menyukai diri sendiri sebanyak mungkin, apapun yang dimilikinya, baik di dalam maupun di luar diri. Self esteem juga berarti memberi penghargaan pada harga diri sendiri. Agar seseorang tidak lekas merasa gagal, ia harus menumbuhkan self esteem dirinya agar bangkit dan mampu membenahi diri.

Abraham Maslow, tokoh psikologi modern, mendeskripsikan ada dua bentuk kebutuhan self esteem. Pertama, kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan (respect) dari orang lain. Kedua, kebutuhan mendapatkan pengakuan dari diri sendiri.
Self respect atau pengakuan dari diri sendiri, mencakup rasa percaya diri (feeling of confidence), prestasi, kompetensi, dan ketidak tergantungan. Penghargaan atau pengakuan dari orang lain mencakup penerimaan, apresiasi, dan pengakuan (recognition).

Jika kebutuhan-kebutuhan ini tidak terpenuhi, maka akan timbul rasa ketidakpercayaan diri, ketidakberanian, lemah dan rendah diri (inferior).

Eustress dan Dystress

Menurut psikolog Leila CH Budiman, lekas merasa gagal merupakan persoalan klasik yang sering dihadapi kaum muda. Karena kekurang pengalaman mereka, tak jarang anak-naka muda dan remaja mudah menyerah ketika sebuah hambatan, walau ringan, merintangi hidupnya. Laila memberi tips, “Lihatlah ke sekeliling Anda, apa yang membuat orang lain dapat hidup. Dan tetaplah terbuka untuk belajar sesuatu yang baru, juga belajar untuk berhasil.”

Dalam konteks islami, seorang muslim tak layak untuk mudah menyerah, apalagi lekas merasa gagal. Atau kalah sebelum berperang. Karena, sebagai hamba Allah, secara fitrah setiap individu pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Tinggal bagaimana kemampuan pribadi untuk memusatkan perhatian dan memotivasi diri dapat membantu meningkatan pencapaian yang ia cita-citakan maupun pengembangan dirinya. Jika itu tercapai, maka akan muncul gejala yang disebut eustress, atau stres yang berdampak positif (awalan eus dalam bahasa Yunani berarti baik).

Seorang muslim yang mengalaminya akan mampu mengatasi tuntutan, tantangan dan tekanan. Terlebih, Allah SWT telah menegaskan, “Sesungguhnya kesulitan itu disertai kemudahan, Sesungguhnya kesulitan itu disertai kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (Qs. al-Insyirâh [94]: 5-8).

Namun, bila tuntutan-tuntutan tersebut sampai pada titik di mana seseorang merasakan kegagalan atau kehilangan kemampuan untuk mengatasinya, maka situasi tersebut dikenal sebagai dystress, yang berarti stres buruk dan berdampak negatif (awalan dy berarti buruk). Dalam kondisi demikian, orang yang mengalaminya cenderung akan merasa kewalahan, dan merasa kehidupan di luar kendali dirinya karena terpaan rasa cemas yang berlebihan, rasa takut, kepanikan, kebingungan dan kecenderungan putus asa yang berakibat pada kebuntuan, ketumpulan, kemandulan dan kontra produktif diri.

Dalam ajaran Islam, Allah telah mensyariatkan agar hamba-Nya selalu optimisme, tegar, bangkit bergairah penuh harapan akan pertolongan-Nya. Dan Allah juga melarang hamba-Nya untuk stres yang mengantarkan kepada keputusasaan. (Qs.Yûsuf [12]: 87, dan al-Isrâ` [17]: 83).

Boks 1

5 Jurus Memompa Self Esteem
Ketika Anda mengalami keterpurukan diri, bagaimana cara tepat yang patut dilakukan untuk meningkatkan self esteem diri? Berikut ini beberapa kiatnya:

1. Stop membandingkan diri sendiri dengan orang lain.
2. Yang berlalu biarlah berlalu. Jangan menguras waktu dan energi pikiran untuk memikirkan kesalahan yang telah lewat.

3. Menerima diri sebagai pribadi yang unik. Karena dunia ini akan membosankan jika dihuni oleh orang yang sama.

4. Membuat jurnal pribadi. Tuliskan apa adanya, semua hal yang memicu menurunnya self esteem diri kita. Perkembangan kemajuan diri mungkin tidak kita sadari, apabila tidak dicatat.

5. Tentukan beberapa tujuan hidup. Tapi realistislah dengan tujuan yang dibuat. Tentukan jangka waktu untuk mencapainya. Jika gagal mencapai sesuai waktu, jangan merasa gagal. Tapi set ulang tujuan itu, dan buatlah ukuran yang lebih jelas.

Boks 2

Opitimis dengan Berpikir Positif

1. Berpikir positif kepada Allah SWT, dan meyakini bahwa setiap kejadian, peristiwa dan fenomena kehidupan pasti ada sebab musababnya.

“Tugas manusia hanya berpikir dan membaca. Ada apa dibalik semua itu? Lalu, mengambil pelajaran dari kejadian yang ada, dan selanjutnya mengamalkan yang baik dalam perilaku keseharian.”

2. Berpikir positif terhadap diri sendiri.

Setiap manusia, dilahirkan sebagai pribadi yang unik. Sifat dan pribadi unik itu harus dijaga, karena merupakan potensi positif dan modal dasar pengembangan diri.

“Bagaimana orang lain akan menjunjung kita, kalau diri kita sendiri meremehkannya?”

3. Berpikir positif pada orang lain. Sebagai manusia biasa layaknya diri kita, orang lain juga memiliki kesalahan dan kekhilafan yang tentunya tak dikehendaki hati nuraninya.

“Pandanglah, orang lain dari sisi positifnya, dan menerima sisi negatifnya sebagai pelajaran kita.”

4. Berpikir positif pada waktu. Setiap manusia, di manapun ia berada, diberi waktu yang sama: 24 jam sehari atau 86.400 detik perhari.

“Setiap detik hidup manusia akan diminta pertanggung jawabannya kelak di hadapan Allah. Orang yang biasa mengisi waktunya dengan amalan-amalan shalih dan iman, maka kelak ia akan memperoleh kehidupan yang lebih baik (Qs. an-Nahl [16]: 97).”

One Comment to “Akibat Kurang Percaya Diri”

  1. trmakasih ilmunya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: