Bahagia Bersama Suami Shalih

Dia Hidayati Usman MA

Dosen Tafsir Sekolah Tinggi Agama Islam Shalahudin al-Ayyubi Jakarta

Setiap wanita pasti mendambakan pasangan hidup yang baik, penuh cinta, kasih sayang, dan bertanggungjawab. Tak satupun wanita ingin memiliki suami yang bejat, tak bermoral dan tak bertanggungjawab. Sebab, bagaimanapun, suami adalah pemimpin dalam rumah tangga.

Ibarat nakhoda, suami adalah penentu mau dibawa ke mana bahtera rumah tangganya. Bila sang nakhoda seorang yang shalih dan jujur, seluruh penumpang tentu akan tenang. Karena mereka yakin, bahtera tak akan dibawa ke tempat yang mencelakakan. Tapi bila nakhodanya seorang pembohong dan pengkhianat, pasti para penumpang akan selalu khawatir. Gelisah ketakutan.

Suami shalih, adalah seorang yang patuh kepada Allah SWT. Ia tak akan pernah menzhalimi isterinya. Karena ia tahu, isteri adalah amanah Allah kepadanya. Ia yakin, kelak di akhirat ia akan dimintai pertanggungjawaban atas amanh itu. Karena itu, ia tak hanya akan tampil sebagai seorang yang bertanggungjawab menafkahi, tapi ia juga akan membangun dirinya dengan moral dan akhlak mulia.

Berkah Suami Shalih

Secara psikologis, seorang isteri yang hidup di bawah naungan suami yang shalih, paling tidak akan merasakan beberapa hal berikut ini. Pertama, merasa tenang dan optimis akan masa depan keluarga, di dunia maupun akhirat. Sebab, suami shalih akan selalu memberinya contoh yang baik. Setidaknya, anak-anak mereka akan selalu melihta perilaku yang baik.

Dari perilaku yang baik, tentunya akan terbentuk akhlak yang baik pula. Seorang berakhlak baik, tak akan mengalami kesuraman masa depan. Karena, dalam kebaikan akhlak tercakup segala kebutuhan orang lain kepadanya. Sejatinya, seorang yang baik akan selalu dipercaya orang lain. Dari modal kepercayaan inilah jalan hidup masa depan akan terbuka.

Sebaliknya, seorang pembohong, sekalipun mempunyai keahlian yang hebat, akan sulit mendapat kepercayaan. Isteri yang hidup di bawah naungan suami pembohong, pasti tak mungkin bahagia. Bila isteri saja tak mempercayainya, apalagi orang lain.

Tak salah jika dikatakan, keshalihan adalah bekal utama membangun optimisme rumah tangga. Lebih jauh, dengan modal keshalihan, Allah akan memberkahi jalan hidup seseorang. Kemudian, ketenangan seluruh anggota keluarga pun akan subur berkembang. Sebab, rumah bukan hanya akan menjadi tempat makan dan tidur, tapi menjadi layaknya masjid, penuh dengan nuansa rohani yang menyejukkan.

Kedua, isteri yang hidup di bawah naungan suami shalihIakan merasa ringan dan tak sendirian dalam mendidik anak. Sebab, suami shalih akan selalu menyempatkan diri mengontrol pendidikan anak, dan membantu segala permasalahan anak.

Dari sinergi yang saling meringankan ini, akan terlahir kebahagiaan. Isteri merasa tidak terbebani tugas-tugas rumah. Paling tidak, dengan kondisi ini, isteri akan selalu segar, tak menampakkan kelelahan. Bila isteri segar, ia pun dapat maksimal melayani suami.

Ketiga, isteri akan selalu berbaik sangka menyikapi semua kebijakan dan sikap suami. Suami yang selalu menghargai pendapat dan keinginan isteri, sejatinya tak akan memutuskan segala sesuatu sendirian. Setiap permasalahan akan ia musyawarahkan bersama isteri.

Dengan berbaik sangkan, meski suami pergi jauh berhari-hari mencari nafkah, isteri tetap tenang. Ia yakin sang suami tak akan nyeleweng. Ketika suaminya pulang larut malam, ia tak gudah karena tahu sang suami dapat selalu menjaga diti dari dosa. Begitu pula sebaliknya, bila isteri yang ditinggalkan shalihah, suami akan percaya isterinya mampu menjaga amanah diri, keluarga dan hartanya.

Keempat, keshalihan suami akan nampak dari sikapnya yang selalu berterus terang, tak ada yang disembunyikan. Transparansi semacam ini akan membuat isteri terbuka berbagi segala kondisi yang dihadapi suami. Jika isteri merasa dihargai karena selalu dilibatkan dalam segala urusan, jati diri dan rasa percaya diri (self confidence) isteri akan terbangun.

Patut diingat, kebahagaiaan seorang isteri bukan dirasa dari semata pemberian materi. Banyak kebahagiaan dapat ia rasakan ketika seorang suami menghargai pendapatnya, dan memberikannya kesempatan berperan secara sempurna. Belajar dari Rasulullah SAW, beliau tak pernah segan meminta pendapat isterinya, hingga dalam urusan kebijakan besar, seperti beliau teladankan saat terjadi perjanjian Hudaibiyyah.

Kelima, suami yang shalih, pasti akan tulus menjalankan kewajibannya. Ketulusan ini tentu akan dibalas ketulusan sang isteri melayani. Ia tak akan pernah menolak keinginan suami, karena ia sadar bahwa suami yang shalih hanya bisa berteduh kepada isterinya di rumah.

Ucapan lembut suami shalihah akan selalu memperlembut hati sang isteri. Isteri menjadi suka mendengarkan nasihat-nasihatnya, karena ia tahu suaminya selalu berkata dengan hati yang tulus. Maka tak segan istri akan menyambut suaminya dengan penampilan yang baik, senang dan harum. Baik ketika suami pulang membawa nafkah maupun tidak.

Keenam, suami shalih akan selalu menampilkan qanâ’ah diri atas segala rezeki yang Allah berikan. Sikap ini sangat mempengaruhi isteri untuk turut qanâ’ah dengan harta suami. Ia akan yakin, bahwa jatah rezeki yang ia dapat, adalah yang terbaik dari pemberian Allah melalui suaminya.

Ia tak hanya bersyukur ketika mendapat banyak limpahan rezeki, tapi ia akan selalu sabar saat mendapatkan sedikit rezeki. Ia paham bahwa suaminya telah melakukan yang terbaik untuk keluarga. Apapun hasilnya, ia pasrah dan menerima, lalu mengembalikannya kepada Allah. Akhirnya, fitnah dunia pun terhindar dari rumah tangga mereka.

Ketujuh, istri dari suami shalih, akan berusaha menjaga nama baik dan harta suaminya. Istri akan merasa, kebahagiaan bersama suami shalih, tak ada duanya di dunia. Ia pun tak rela jika reputasi diri dan suaminya rusak. Berbekal iman dan takwa, ia akan selalu menjaga pergaulan dan tak sembarangan mempergunakan harta suami. Ia sadar, semua itu adalah amanah.

Ketujuh, istri dari suami shalih, akan berusaha menghormati keluarga suami. Karena baginya, suami bukan hanya pasangan hidup, tapi ia bagaikan guru yang membimbingnya. Bagaikan teman dalam suka dan duka, berbagi perasaan di saat sedih maupun gembira. Layaknya saudara kandung seperti yang Rasulullah sabdakan, ”Annisâ` syaqâ`iqur-rijâl” (Wanita adalah saudara kandung laki-laki).

Keluarga suami akan dianggapnya sebagai keluarga. Orangtua suami adalah orangtua yang wajib dihormati. Ketika mereka datang berkunjung, mereka akan disambut hangat dan senang. Saat mereka berhalangan berkunjung, ia akan sering menziarahi dan menjenguk mereka. Alangkah indahnya memiliki suami shalih, berbalas istri yang shalihah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: