Multiple Inteligen

Mengenali Jenis Kecerdasan Anak

Anak berprestasi, itu keinginan banyak orangtua. Sayangnya, banyak yang abai mengidentifikasi kecerdasan anak.

Kita mungkin sering mendengar celotehan para orangtua, “Setiap naik kelas, anakku harus mendapat ranking satu.” Atau, “Anakku harus berprestasi agar mendapat beasiswa bergengsi, dan masuk universitas favorit.”

Impian dan idaman itu sangat umum kita temukan dalam masyarakat kita. Para orangtua seakan tren berlomba memberi perhatian dan dukungan optimal agar anaknya berhasil dan sukses belajar. Tak jarang, ada yang nyaris memaksa untuk menyekolahkan anaknya di usia yang belum layak bersekolah, agar si anak lebih cepat sukses.

Dulu, untuk jenjang taman kanak-kanak (TK), orangtua biasanya menyekolahkan anaknya saat si kecil berusia lima tahun. Namun kini, banyak orangtua justru mendorong anaknya bersekolah saat masih berusia dini.

Menurut psikolog Agung R. Harmoko, orangtua semacam itu menggambarkan kealfaan mereka terhadap tujuan menyekolahkan anak. Dan orangtua itu tak tahu kebutuhan dan potensi anak sesungguhnya. “Pola asuh dan pendidikan seperti ini nampak belum optimal atau kurang tepat sasaran,” tegas Corporate HRD PT Modern Group ini.

Menurut Agung, orang-orang sukses kelas dunia, kebanyakan semasa sekolahnya dulu tidak menonjol dalam pendidikan, apalagi menjadi juara kelas. Contohnya Bill Gates, sang pemilik Microsoft, atau Tiger Wood, mantan raja golf. Mereka mungkin dianggap sebagai satu dari ribuan orang dulunya kurang berhasil di sekolah, namun dalam dunia profesionalnya kini, mereka justru sangat sukses.

Jika memang inteligensi quoetient (IQ) tak bisa meramalkan seorang menjadi sukses, lalu apalagi? Bagaimana mempersiapkan anak di masa depan? Apa yang perlu dilakukan para orangtua? Dan bagaimana merancang kesuksesan anak?

Menurut Agung, jawabannya dengan mengenali potensi kecerdasan majemuk yang ada dalam diri anak. Potensi ini termaktub dalam teori Multiple Intelligence yang dikemukakan Dr Howard Gardner, peneliti dari Harvard. Teori itu menyebutkan keberadaan delapan jenis kecerdasan: kecerdasan bahasa (cerdas dalam mengolah kata), kecerdasan menggambar (imajinasi tinggi), kecerdasan musikal (peka terhadap suara dan irama), kecerdasan tubuh (terampil dalam mengolah tubuh dan gerak), kecerdasan matematis dan logika (sains dan berhitung), kecerdasan sosial (kemampuan tinggi dalam membaca pikiran dan perasaan orang lain), kecerdasan diri (menyadari kekuatan dan kelemahan diri), dan kecerdasan alam (peka terhadap alam sekitar).

“Dalam merancang kecerdasan anak, dapat dikatakan kita sedang membuat suatu blue print awal potensi anak. Yang kelak akan orangtua gunakan sebagai pondasi untuk memberi perlakuan maupun pendidikan, sesuai kekuatan potensi anak,” ungkap Agung.

Menurutnya, semakin kita mengetahui sisi kuat anak, semakin mudah pula bagi kita untuk memberi rangsangan dan arahan hidup anak.

Untuk mengenali kecerdasan majemuk anak, para orangtua dapat mengawalinya dengan membuat tujuan pendidikan yang sesuai dengan kondisi anak. Dan dalam rangka melakukan identifikasi kecerdasan ini, diperlukan tenaga ahli, seperti psikolog, guna menjelaskan kondisi anak secara menyeluruh. Tak lupa pula, bekerjasama dengan lingkungan dan masyarakat guna mewujudkan kesuksesan ini. (taufiq)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: