Kerugian Akibat Ulah Penguntil

Yayah Hidayah Msi.

Sepulang mengajar saya melangkah ke sebuah toko serba ada (toserba) untuk membeli beberapa keperluan. Dan sebelum pulang, saya mampir di sebuah etelase kosmetika. Kaget saya melihat dua anak gadis tanggung berpenampilan rapih sedang asyik mengambil lipstik lalu memasukkannya ke dalam bleser dipakai. Saya kian terkesima melihat tingkah laku mereka. Sebab bukan hanya lipstik yang mereka ambil, tapi juga barang-barang kosmetik lainnya.

Ketika pulang, saya bertemu lagi dengan kedua gadis itu. Saya tanya pada mereka alasan menddapatkan barang dengan cara itu. Mereka menjawab serempak dengan santai sambil cekikikan dan berlalu begitu saja, “Sensasi, Bu.”

Kedua gadis tadi hanyalah sebagian dari kenyataan yang terjadi dalam kehidupan ini. Menurut perkiraan, penguntilan terjadi sejuta kali dalam satu hari di Amerika Serikat saja. Dan penguntilan telah menjadi problem global dan sangat merugikan. Tapi kebanyakan penguntil kurang memperlihatkan besarnya kerugian yang timbul akibat ulah mereka. Pelakunya bukan hanya orang yang tak punya uang, tapi banyak pula orang berduit suka menguntil.

Mengapa ada kesenangan seperti ini? Apa penyebabnya? Di Jepang, pihak kepolisian pernah menangkap dua anggota mereka karena kedapatan menguntil. Di Amerika Serikat, seorang dewan koperasi nirlaba bidang makanan, tertangkap basah sedang asik mencuri di toko milik koperasi itu.

Para remaja yang nakal, juga sering mencuri barang-barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan.

Seperti dua gadis di atas, beberapa penguntil merasakan sensasi serupa, dan membuat mereka ketagihan untuk terus mencuri. Setelah sukses mencuri untuk yang pertama kali, seorang wanita mengatakan, “Saya senang. Saya menguntil tanpa tertangkap. Dan rasanya luar biasa mengagumkan!”

Tapi selang bebera waktu, wanita itu ditanya lagi tentang perbuatannya tempo hari. Ia hanya berkomentar, “Saya malu terhadap diri sendiri. Tetapi saya juga gembira. Saya meresa hebat kaena mencuri tapi tak tertangkap.”

Biasanya para penguntil untuk kesenangan, tidak menginginkan barang yang mereka curi. Sebuah surat kabar India pernah melaporkan seringnya terjadi kasus penguntilan yang dilakukan hanya karena sensasi. Beberapa penguntil bahakn akan mengembalikan barang yang pernah berhasil mereka curi.

Alasan lain dari menguntil adalah depresi. Orang yang terkena depresi, akan melakukan perbuatan buruk apa saja, termasuk menguntil. Tekanan teman-teman sebaya untuk tes atau sebagai syarat untuk menjadi anggota sebuah geng, juga kerap mengharuskan seorang calon anggota baru untuk menguntil dulu. Selain itu, ada pula menguntil dilakukan untuk alasan mengusir kebosanan. Dan utamanya menguntil sebagai cara mencari nafkah.

Dr. Richard MacKenzie, seorang ahli kesehatan remaja mengatakan, “Setiap jenis perilaku anak yang tidak lazim, hendaknya dianggap sebagai kemungkinan depresi, sampai bukti menunjukan hal lain.”

Kleptomania

Kleptomania merupakan dorongan untuk mencuri yang tidak dapat dikendalikan, khususnya tanpa alasan ekonomi. Sifat ini bukan kecanduan biasa, tapi sudah menjadi kelainan, bersumber dari problem emosi yang berurat berakar.

Ada ahli menyebut pencuri kambuhan sebagai kleptomaniak. Tapi kalangan kedokteran yakin bahwa jarang ada orang yang benar-benar mengidap kleptomania. Menurut asosiasi Psikiatri Amerika, kurang dari lima persen penguntil mengidap kelainan ini. Maka ada baiknya untuk tidak tergesa-gesa mengaitkan orang yang suka mencuri dengan kleptomaniak. Karena bisa jadi ada alasan lain mengapa seseorang mencuri.

Kleptomania disebabkan adanya gangguan jiwa, sedangkan pengutil disebabkan kebiasaan buruk. Tapi kleptomania berbeda dengan mengutil, bukan saja dari pelakunya, tapi juga dari kadar barang-barang yang dicurinya.

Kleptomania bukan penyakit keturunan atau bawaan. Tapi kelainan ini cenderung banyak dijumpai pada wanita. Kemungkinan penyebabnya adalah gangguan biologis atau psikologis. Gangguan psikologis bisa terjadi karena cara pola asuh yang salah saat kecil, atau juga karena kejadian-kejadian tertentu yang pernah dialami.

Mengutil bisa jadi karena penderita mengalami depresi, dan salah satu cara pelampiasannya adalah dengan mengambil barang milik orang lain. Penderita klepto hanya mengambil barang-barang yang sebenarnya tidak berharga atau bermanfaat baginya.

Tempat mengambil barang juga tidak hanya di satu tempat. Seringnya mereka beraksi justru di tempat-tempat yang tidak biasa, seperti rumah, kantor atau hotel, bisa juga di mal.

Gangguan kejiwaan ini bisa diatasi selama ada kesadaran dan keinginan si penderita untuk sembuh. Namun penyebabnya harus dicari dulu melalui konsultasi dengan psikolog, baru kemudian disembuhkan oleh psikoterapi. Bila keinginan itu muncul dan belum terwujud, mereka akan terus merasa tegang dan gelisah. Saat itulah peran orang-orang terdekat dibutuhkan untuk membuat mereka rileks.

Tapi, orang-orang terdekat sekalipun, akan menemui kesulitan kalau si penderita bertabiat tertutup. Apalagi jika situasi dan pola mereka beraksi bersifat acak. Terkadang mereka beraksi karena memang mengutil sudah menjadi klepto dirinya, atau mereka tidak melakukan pengutilan sesungguhnya.

Kerugian Umum

Penguntilan telah merugikan pedagang di seluruh dunia hingga milyaran dolar AS setiap tahunnya. Di Amerika Serikat saja, kerugian diperkirakan mencapai lebih dari 40 miliar dolar. “Di samping aspek persaingan bisnis, penguntilan menjadi hal yang patut dikhawatirkan. Entah berapa lama usaha saya bisa bertahan,” ujar Luke, pemilik toko di New York City yang tak mampu memasang sistem keamanan elektronik di tokonya.

Sewaktu berada di sebuah toko bersama ibunya, seorang bocah laki-laki menyelinap ke bagian gula-gula. Ia buka sebuah kotak, lalu mengambil sepotong permen dan menyelipkan ke dalam sakunya. Apakah penguntilan kecil-kecilan seperti ini mempengaruhi toko itu?

Dalam brosur Curtailing Crime!—Inside and Out miliki Kementerian Administrasi Usaha Kecil AS dinyatakan, “Pencurian kecil-kecilan, mungkin tak nampak seperti suatu kejahatan besar. Tapi bagi usaha kecil yang kembang kempis, pencurian sekecil itu dapat membunuh usahanya.”

Apalagi untuk menutupi kerugian tahunan sebesar 1.000 dolar akibat penguntilan, pedagang eceran harus menjual 900 permen atau 380 sup kaleng tambahan setiap hari. Bahkan, Lembaga Pencegahan Kejahatan di AS melaporkan, hampir sepertiga dari semua usaha di AA terpaksa gulung tikat gara-gara pencurian.

Peguntilan bukanlah kejahatan tanpa korban, dan benda-benda yang dicuri para penguntil bukannya tak bernilai. Tetapi bagaimana seorang penguntil dapat memperoleh kekuatan untuk sama sekali berhenti mencuri? Apakah kejahatan ini dapat diberantas? Keyakinan saya, ajaran agama dapat menjadi penangkal bahkan pemberantasnya. Karena segala bentuk pencurian atau pengutilan dilarang segala agama, karena pasti akan merugikan orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: