Ketika Pasangan Berbeda Usia

Agung R. Harmoko Spi.

Dosen dan Konsultan Psikologi, Anggota HIMPSI Jaya

Meski terdengar naif, walau bukan harga mati, usia sering menjadi pertimbangan dalam menentukan pilihan, bahkan tak jarang menjadi penghalang seseorang untuk mengekspresikan perasaan cintanya kepada pasangan.

Banyak orang berpikir, bahwa membina hubungan rumahtangga dengan perbedaan usia, akan menemukan banyak hambatan. Terlebih dalam tradisi sosial dan budaya Timur, sudah rebak anggapan bahwa pasangan yang ideal adalah yang usia laki-laki lebih tua dari pasangan wanitanya.

Memang, perbedaan usia sering dan bisa menimbulkan masalah, karena adanya perbedaan kondisi fisik dan psikis. Tapi, perbedaaan usia bukan berarti akan menimbulkan perbedaan dalam pemikiran. Pasalnya, dalam bahasa psikologi dikenal istilah cronological age, atau usia kalender pertumbuhan yang menilai bahwa wanita memiliki kematangan pribadi lebih cepat daripada pria seusianya. Bahkan secara psikologis, wanita cenderung memiliki kedewasaan dua tahun lebih maju dari usia sebenarnya.

Terlepas dari perbedaan, untuk urusan cinta, selalu saja ada persamaan. Yaitu persamaan semua orang yang mengalaminya untuk merasakan aneka perasaan indah dan bahagia ketika cinta berlabuh di hatinya. Dalam keputusan menentukan pasangan hidup, hal utama yang harus dilakukan adalah menggali kesamaan-kesamaan itu, bukan beda usia yang dikedepankan.

Yang penting dan dibutuhkan untuk menjaga hubungan sekali untuk selamanya, adalah adanya komitmen dan kesetiaan, tujuan dan usaha memahami kekuatan, serta menerima kelemahan–kelemahan masing-masing pasangan. Sebab, dunia tak selalu sempurna, selalu saja ada koreksi. Untuk itu, buatlah hubungan yang indah agar kebahagian abadi tercapai.

Kesiapan Mental

Ketika memutuskan untuk memilih pasangan yang lebih tua, seseorang tentunya telah menyadari dan memahami kendala yang akan dihadapinya kelak. Karena itu, saat timbul masalah dalam hubungan rumahtangga mereka, maka tak arif jika mereka malah saling menyalahkan. Salah menyalahi hanya akan makin membebani pasangan masing-masing.

Yang perlu selalu dilakukan adalah membangun komunikasi terbuka, agar pemahaman dan pengertian terhadap situasi atau suatu hal dapat terjaga, dan tak ada lagi rahasia di antara mereka. Rasa curiga juga tiada.

Resiko menjalin sebuah hubungan rumahtangga adalah kesiapan menghadapi perubahan. Dalam hubungan beda usia, superioritas dari salah satu pasangan rentan muncul, khususnya dari pihak yang lebih tua. Ketika gejala ini timbul, masing-masing pihak hendaknya segara berupaya untuk mendiskusikan segala hal dengan bijak dan terbuka. Atau melakukan proses negosiasi dengan sikap dewasa dan proaktif menyikapi masalah yang ada.

Kendala umum yang biasa terjadi dalam hubungan beda usia adalah rasa sungkan. Agar keharmonisan terjalin, sikap sungkan untuk mengekspresikan perasaan dan kasih sayang terhadap pasangan yang personalnya berbeda usia, harus dihilangkan. Sebab, ekspresi perasaan cinta dan kasih sayang sangat dibutuhkan untuk menopang kekuatan rumahtangga. Dan beda usia, tak boleh menjadi alasan yang menghalangi seorang suami untuk bersikap romantis dan sering mengungkapkan, ”Aku sayang kamu,” kepada istri tercintanya walau berusia lebih tua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: