Pintu Surga Orangtua

KH. Moh. Khoiri Husni, S.Pd.I

Majelis Kiai/Dewan Riasah dan Mudir ’Aam TMI Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan

Dalam Islam, orangtua menempati posisi sangat mulia. Bahkan orangtua menjadi faktor penentu turunnya keridhaan Allah SWT. Disebutkan dalam sebuah sabda Rasulullah SAW, “Ridha Allah tergantung pada keridhaan orangtua, dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orangtua.” (HR Tirmidzi)

Satu hal yang sangat dianjurkan oleh Islam adalah menghormati dan berbakti kepada orangtua. Berbakti kepada orangtua, berarti kesadaran diri untuk mengakui jasa-jasa dan pengorbanan orangtua. Allah berfirman, “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqmân [31]: 14)

Mari kita renungi sejenak, betapa pengorbanan orangtua sungguh luar biasa. Bayangkan misalnya pengorbanan ibu, terutama saat akan melahirkan. Ia rela mempertaruhkan jiwa untuk kita. Apabila kita sakit, orang pertama yang akan mengurusi kita adalah ibu. Pun bapak juga akan berusaha agar kita cepat sembuh dengan lekas membawa ke dokter. Berkat kasih sayang mereka berdua, kita sekarang menjadi seorang manusia.

Berbakti kepada kedua orangtua lebih mulia daripada jihad. Jihad tidak akan berarti jika dilakukan dengan durhaka kepada orangtua. Berbakti kepada kedua orangtua, merupakan amal yang paling utama dan kebajikan yang harus didahulukan. Karena amal ini termasuk yang paling Allah cintai setelah ibadah shalat tepat waktu.

Lalu, bagaimana bentuk konkret amal berbakti kepada orangtua? Pertama, seorang anak, meski sudah berkeluarga, tetap wajib berbakti kepada kedua orangtuanya. Kewajiban ini tidak gugur lantaran seseorang telah berkeluarga. Bukan malah sebaliknya, menjadikan orangtua sebagai pembantu dalam kehidupan baru kita bersama istri dan anak.

Kedua, mentaati semua perintah dan larangan orangtua. Selama mereka tidak memerintahkan kita untuk bermaksiat kepada Allah. Ketiga, memberi kedua orangtua segala sesuatu yang mereka sukai sebelum mereka memintanya.

Sebuah beruntung orang yang masih memiliki orangtua. Karena orangtua adalah ladang surga kita. Berkat ridha mereka berdua, kita bisa disayangi Allah. Karena doa mereka juga, cita-cita kita Allah kabulkan.

Maka, berbuat baiklah kepada mereka. Bahagiakan keduanya selagi masih hidup di tengah-tengah kita. Jangan pernah buat mereka marah. Dan muliakan mereka dengan pengabdian yang tulus.

Apabila kedua orangtua kita telah meninggal dunia. Kita wajib mendoakan, memintakan ampunan, melaksanakan janji mereka, dan menyambung silaturrahim sanak keluarga keduanya.

Akhirnya, kualitas pengabdian kita kepada kedua orangtua ditentukan sejauh mana kita menyadari bahwa orangtualah orang pertama yang berandil besar mengantarkan kita ke gerbang kehidupan. Karena itu, tak ada kata malas dan putus asa untuk berbakti kepada kedua orangtua. Kecuali bagi mereka yang ”durhaka”. Berbakti kepada orangtua berarti semakin mendekatkan diri kita kepada pintu surga. Wallâhu a’lam bish-shawâb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: