Sunnah Ikatan Emosional

Tata Septayuda Purnama

Jurnalis, Mahasiswa Pascasarjana Psikologi Islam Universitas Indonesia

Ikatan emosional (emotional attachment) merupakan hubungan emosional yang dekat antara dua orang dengan karakteristik adanya kasih sayang antara dua pihak, dan keduanya menginginkan untuk memper­tahankan kedekatan itu.

Pada awal kehidupannya, seorang bayi yang masih lemah menjalin ikatan emosional dengan orangtuanya, terutama ibu. Sewaktu ia beranjak dewasa, ia mulai mengembangkan ikatan emosinya dengan orang lain, terutama pasangan hidupnya.

Melalui hubungan dengan pasangan, mereka kemudian memiliki anak dan menciptakan ikatan emosional yang baru dengan anaknya, yang terpelihara sampai mereka lanjut usia.

Dengan demikian, terdapat tiga bentuk ikatan emosional yang penting, yaitu ikatan emosional pada bayi, ikatan emo­sional terhadap pasangan dan ikatan emosional orangtua. Ikatan emosional ini tidak menutup hubungan sosial dengan orang lain, namun lebih memiliki arti yang signifikan dalam kehidupan seseorang.

Dalam Islam diingatkan bahwa ikatan emosional ini baru bersifat konstruktif, bila seseorang terlibat dalam ikatan ini tetap dalam rangka beribadah kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa mencitai karena Allah, membenci karena Allah, dan memberi karena Allah, maka ia telah menyempurnakan iman.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Kepada Bayi

Ikatan emosional antara orangtua dan bayinya bersifat timbal balik. Bayi terikat pada orangtuanya, dan orangtua terikat pada bayinya. Orangtua telah siap untuk menjalin ikatan emosional ini ketika mereka masih mengandung bayinya.

Ketika masih mengandung, orangtua sering membicarakan hal-hal yang menyenangkan tentang anaknya, atau rencana hidup bagi anaknya. Aksi ini melahirkan reaksi positif kepada si janin, misalnya ketika fetus/janin menendang dan lain-lain.

Berbagai stimulasi yang diberikan oleh orangtua kepada bayi mereka, menentukan kualitas ikatan emosional yang ada. Stimulasi ini tidak terbatas pada pemberian air susu oleh ibunya (ASI), meski saat pemberian ASI, ibu memberikan stimulasi fisik dan emosional yang sangat penting dalam perkembangan bayinya.

Al-Qur`an menggambarkan pentingnya hubungan ibu dan anak pada tahun-tahun pertama kelahirannya, terutama melalui pemberian ASI. Dan Islam mensyariatkan agar penyapihan baru layak dilakukan setelah proses penyusuan lewat dari dua tahun.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada ibu bapakmu. Hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqmân [31]: 14)

Kepada Pasangan Hidup

Ikatan emosi yang penting dalam kehidupan seseorang yang menginjak dewasa adalah ikatan emosi terhadap pasangan hidup. Salah satu bentuk dari ikatan emosional ini adalah terbentuknya ikatan pernikahan sepasang suami istri.

Al-Qur`an menggambarkan ikatan emosional untuk suami istri sebagai berikut, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Qs. ar-Rûm [30]: 21)

Orang yang dewasa dapat mengalami ikatan emosi terhadap pasangan romantiknya. Ikatan emosional merupakan pertalian kasih di mana individu mencari atau mempertahankan kedekatan satu sama lainnya.

Tujuan hubungan ini, baik pada bayi dan orang dewasa, adalah mempertahankan kedekatan emosional dan fisik, serta rasa aman antarkeduanya. Terlebih bagi orang dewasa yang memiliki perbendaharaan perilaku dalam melakukan hubungan dibandingkan bayi.

Ikatan emosi pada orang dewasa memiliki berbagai fungsi, yang pada umumnya memiliki karakter timbal balik, persahabatan, ikatan seksual, tujuan bersama dan kesamaan pengalaman.

Orangtua terhadap Anak

Saat memasuki usia tua, seseorang mulai mengalami kemun­duran fisik. Islam mewajibkan anak untuk memelihara orangtuanya, sebagai balasan dari apa yang telah orangtua lakukan sewaktu anaknya masih kecil.

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua ibu bapaknya. Ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. Sehingga apabila ia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa, “Wahai Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku, dan supaya aku dapat berbuat amal shalih yang Engkau ridhai. Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu, dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Qs. al-Ahqâf [46]: 15)

Selain itu, penurunan kondisi fisik dan intelektual pada masa tua, membuat orang pada usia ini memiliki masalah emosional tersendiri. Rasa frustrasi karena tak dapat melakukan hal-hal dengan mudah yang mereka lakukan saat masa muda, biasanya akan membuat mereka lebih mudah tersinggung.

Karena itu, anak sebaiknya menggunakan kata-kata yang halus kepada orangtuanya. “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”, dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Qs. al-Isrâ` [17]: 23)

Bahan Bacaan

M. Darwis Hude, et al., Emosi Penjelajah Religio-Psikologis Tentang Emosi Manusia di dalam al-Qur`an, Jakarta: Erlangga (2006).

Aliah B. Purwakania Hasan, Psikologi Perkembangan Islami, Jakarta: Rajagrafindo (2006).

Sarlito W. Sarwono, Berkenalan dengan Aliran-aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi, Jakarta: Bulan Bintang (2000).

M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, Jakarta: Lentera Hati (2000).

Achmanto Mendatu, Apakah Arti Emosi, http://www.e-psikologi.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: