Ego Centered Bukan Percaya Diri

Ego Centered Bukan Percaya Diri

Ghufron Hasan

Percaya diri atau Pede adalah kualitas personal yang dibutuhkan oleh seseorang untuk terlibat secara aktif dengan lingkungannya. Percaya diri amat penting bagi setiap orang, lebih-lebih bagi seorang remaja yang baru memulai dunia sosialisasinya dengan orang lain.

Dengan merasa Pede, seorang remaja sesungguhnya tengah memulai perjalanan hidupnya dengan cara menunjukkan keunggulan dan kualitas diri, arah dan tujuan hidup yang jelas, fokus pada tujuan, dan keputusan hidup yang diambil secara mandiri. Tak cuma itu, Pede juga membuat seorang remaja kian yakin dengan kapasitas diri dalam menghadapi tantangan apapun di hadapannya, lalu secara mandiri ia akan mencoba untuk menyelesaikannya.

Hanya saja dalam praktiknya, percaya diri (self confident) yang tunjukkan seorang remaja, cenderung menyimpang dan berlebihan, sehingga kerap mengarah pada sikap ego centered (egoisme), menang sendiri, atau merasa benar sendiri. Hal ini disebabkan karena remaja merasa dirinya sebagai pusat perhatian, menjadi objek sekaligus subjek dari perubahan kultur budaya lokal maupun global. Ditambah lagi kecenderungan untuk selalu tampil, diperhatikan, diakui eksistensinya sebagai pribadi dewasa.

Munculnya penyimpangan pada rasa percaya diri remaja ini, kemungkinan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Di antaranya ’merasa kurang’ (feeling of lack) secara berlebihan. Ketika seorang remaja membuat asumsi tentang dirinya sebagai pribadi yang tidak memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu, tidak memiliki kualitas pribadi, merasa lemah, terjangkit sindrom “the I cannot attitude”, maka dapat dipastikan ia tak akan menghargai dirinya sendiri.

Akibatnya, ia akan mencari alternatif lain sebagai jalan keluar dari lorong sempit dirinya, yaitu sikap ego centered. Sikap ini baginya dianggap cara yang paling efektif untuk menutupi lubang ‘kekurangan’ dirinya yang menganga, dan menjadi cara lain untuk berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan orang lain.

Jika komunitas pergaulannya dari kalangan orang-orang kaya, maka ia akan berperilaku layaknya mereka; berpakaian necis meski hasil pinjaman, naik mobil bagus dari rental, dan seterusnya. Menjadi orang biasa-biasa saja di tengah lingkungan pergaulan seperti itu baginya sebagai sebuah kekurangan yang mesti ditutupi dan disembunyikan. Akibatnya akan sangat parah, ia tak hanya kehilangan jati diri sebagai individu, tapi juga arah dan tujuan hidup.

Faktor lainnya, perasaan takut yang berlebihan (feeling of fear). Yaitu perasaan yang muncul akibat ketakutan yang berlebihan terhadap resiko-resiko yang kemungkinan datang akibat keputusan, pilihan hidup, dan sikapnya terhadap sebuah persoalan yang dihadapi.

Remaja yang mengidap sindrom ini, biasanya cenderung agresif atau submisif, pemarah, dan labil emosinya, yang ditunjukkan ketika dirinya merasa terancam atau kepentingannya diganggu orang lain. Sikap-sikap ini muncul akibat perasaan rendah diri (inferioritas) yang ia tutup-tutupi.

Perasaan takut, ragu-ragu, atau khawatir menghadapi persoalan hidup, merupakan hal normal yang bisa saja menyergap orang yang paling kuat secara psikologis sekalipun. Hanya saja yang membedakan adalah kemampuan masing-masing dalam menguasai diri (self mastery) agar tetap seimbang dan terkendali.

Orang yang memiliki rasa percaya diri tinggi, akan mengasumsikan dirinya sebagai pribadi yang mampu mengatasi persoalan-persoalan dan meraih apa pun yang ia inginkan. Rasa percaya diri jenis ini lahir dari kualitas personal melalui proses usaha, pendidikan, pengalaman, dan pembiasaan diri secara terus-menerus.

Sementara percaya diri yang cenderung ego centered muncul akibat kualitas personal yang rendah, tertutup, kurang pengalaman, dan sebagainya.

Rujukan Agama

Setiap orang yang merujuk agamanya dengan baik dan benar, akan memiliki imunitas (kekebalan) psikologis di atas rata-rata. Selain memiliki keseimbangan yang baik, ia juga mampu melakukan penyembuhan-penyembuhan psikologis secara mandiri.

Dalam konteks keseimbangan ini dan kualitas personal dalam tatanan sosial, al-Qur`an telah menjelaskan secara lugas dalam surah al-Hujurât ayat 13, ”Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling takwa di antara kamu.”

Tuhan menciptakan manusia dalam garis strata yang equivalen (seimbang), tanpa perbedaan atau pengecualiaan. Artinya, setiap orang memiliki entitas personal dan fitrah bawaan yang sama. Karena itu, tak ada alasan bagi seseorang untuk merasa lebih baik atau lebih rendah dari yang lain. Yang membedakan adalah beda kualitas pengolahan proses dari setiap entitas itu.

Allah SWT menyebut orang yang memiliki kualitas personal yang baik sebagai orang yang bertakwa. Yaitu, orang yang percaya akan adanya Allah, para utusan, dan hari akhir, lalu keimanannya itu menstimulus lahirnya keseimbangan dalam dirinya, berikutnya lahir energi gerak untuk melakukan sesuatu bagi kemaslahatan orang lain (amal shalih).

Internalisasi nilai-nilai keimanan ke dalam diri seseorang, akan membuatnya percaya terhadap kapasitas diri yang Allah anugerahi, mengetahui dengan baik ke mana hidupnya akan mengarah, memahami makna hidup yang penuh arti, dan seterusnya. Inilah himpunan makna percaya diri yang sesungguhnya.

Untuk memupuk rasa percaya diri pada diri seseorang, agama menyarankan dua hal: Pertama, komitmen. Komitmen yang kuat berkaitan dengan keyakinan terhadap nilai-nilai hidup dan tindakan nyata. Dalam penjewantahannya, akan mendorong seseorang untuk percaya pada dirinya sendiri.

Setiap orang beriman pastilah percaya diri, sebab ia mengetahui dengan jelas tujuan penciptaan dirinya dan ke mana hidupnya akan berakhir. Komitmen seorang mukmin amat jelas, yaitu dari Allah, karena Allah, dan kembali kepada-Nya.

Jika demikian, apa yang mesti ditakutkan oleh seorang muslim? Karena, setiap saat, seorang muslim mendapat ‘the moment of truth’ untuk mencapai impian yang paling agung. Sementara orang yang ego centered, memiliki kualitas kebalikannya.

Kedua, identifikasi kekuatan. Rasa percaya diri identik dengan kekuatan pribadi (personal power) yang diyakini dan diberdayakan dengan baik. Orang yang meyakini kemampuannya, akan melakukan sesuatu sesuai dengan keyakinannya.

Jika Anda yakin mampu melakukan sesuatu, maka Anda akan mengeluarkan kemampuan terbaik yang Anda miliki untuk menghasilkan sesuatu yang terbaik pula. Sebaliknya, orang yang tidak yakin kemampuan dirinya, ia akan menjadi orang yang lemah, rendah percaya diri (inferior), dan cenderung pemalas.

Islam lebih menyukai orang yang kuat. Sebab orang yang kuat mampu merealisasikan apapun yang ia inginkan dengan kemampuan dan usaha maksimal. Orang yang ego centered sesungguhnya memiliki kepribadian paling lemah. Sebab, ia tak mampu mengidentifikasi siapa dirinya, apa kemampuannya, mengapa ia diciptakan di muka bumi, dan seterusnya. Ia hidup dalam bayang-bayang keangkuhan yang membungkus kekurangan dirinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: