Berbisnis dengan Hati Bekerja dengan Cinta

Ahmad Muhajir

Ingin sukses bisnis? Tak cukup hanya bermodal keyakinan. Gunakan hati dan cinta.

Alkisah, seorang pria sedang asyik memancing ikan di sebuah kolam pemancingan, lalu datang seorang anak muda dan menyapa, “Bapak sedang mancing?” “Iya,” jawab pria itu. “Pakai apa, Pak?” tanya si pemuda. “Cacing,” jawab si Bapak. “Pernah enggak mencoba mancing dengan biji salak?” tanya pemuda. Si Bapak terheran, tapi pikirnya tak salah jika mencoba kiat itu. Semoga saja ikan bisa didapat.

Seharian penuh pria itu menunggui pancingannya, tapi tak satu ikan pun lantas memangsanya. Ia bertanya kepada si pemuda, “Saya sudah memakai biji salak, tapi kok enggak juga dapat ikan?” Pemuda itu menjawab enteng, “Biji salak memang bisa digunakan memancing, Pak. Tapi enggak bisa untuk dapat ikan!”

Begitu cerita Mario Teguh saat menjadi pembicara dalam seminar entrepreneur bertajuk “Berbisnis dengan Hati Bekerja dengan Cinta” memperingati 10 tahun Pesantren Darut Tauhid, Bandung, pimpinan KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) beberapa waktu lalu. Dari cerita itu, Mario ingin menggambarkan bagaimana si Bapak pemancing begitu yakin dan terdorong mendapatkan ikan, tapi cara yang ia gunakan sangat tidak tepat.

Biji salak, atau barang apapun, pasti bisa digunakan untuk memancing, tapi jangan harap dapat menarik minat ikan untuk memangsanya. Intinya, menurut Mario, tidak semua cara yang digunakan untuk mencapai sesuatu akan mendatangkan hasil yang diinginkan. “Perlu dipikirkan cara yang tepat untuk mendapatkan hasil yang diinginkan, asal tidak menyalahi aturan,” tandas motivator ulung itu.

Menurut Mario, sebelum melakukan sesuatu, seseorang sudah harus yakin ia bisa melakukan apa yang akan dikerjakannya. Tapi masalahnya, apakah dengan keyakinan itu ia pasti berhasil? “Tidak,” tandas Mario. Sebab, banyak orang masih suka meyakini bahwa yang ia lakukan akan membawa keberhasilan, tanpa  mengerti maksud perbuatannya.  “Melakukan sesuatu tak cukup hanya dengan keyakinan,” tegasnya.

Mario mengilustrasikan cerita lain, seorang karyawan rendahan yang kemudian bisa menjadi direktur, hanya karena ia mau menjadi orang yang disalahkan atasannya. Suatu ketika dalam rapat, pimpinan perusahaan mempresentasikan sebuah proyek besar yang berpotensi menggaet keuntungan besar. Selepas presentasi, ia menawarkan para karyawannya siapa yang mau menjadi pimpinan proyek dan penanggungjawab.

Mengingat beban resiko kesalahan yang harus ditanggung, tak ada seorang manajer pun yang berani angkat tangan. Tiba-tiba salah seorang karyawan berpangkat rendah berani angkat tangan. Tapi pintarnya, ia tak langsung mengajukan diri sebagai pimpinan proyek. Ia hanya bertanya kepada atasannya, “Apakah sebagai atasan Bapak sudah memikirkan strategi-strategi untuk meraih keuntungan yang besar itu?” tanya si karyawan.

Sang Atasan menjawab belum memikirkannya. Dengan enteng karyawan itu berujar, “Saya tidak tahu banyak tentang strategi proyek. Jika saya dipercaya memimpin proyek ini, saya butuh bantuan teman-teman ahli di bidangnya.” Atasan itu menganggukkan kepala, lalu menunjuk orang-orang yang akan membantu karyawan tadi melaksanakan tugasnya. Semua menjadi siap, sistem kerja yang digawangi para pakar di bidangnya pun telah ada.

Setelah semua orang ditunjuk untuk membantu karyawan tadi, Atasannya lalu bertanya, “Berapa lama proyek ini akan selesai?” Dengan santai karyawan itu menjawab, “Akan saya tanyakan kepada teman-teman kapan kerja mereka akan selesai.” Tugas pun dibagi. Setelah semua mendapat tugas, jadwal kerja tertata, karyawan itu pun hanya duduk manis menunggu hasil kerja kawan-kawannya. Hanya bermodal siap disalahkan, ia menikmati hasilnya.

Ada alasan tersendiri mengapa karyawan harus mengabdi dengan baik kepada atasan. Salah satunya mengharap imbalan gaji untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tapi apakah alasan itu sudah harga mati agar karyawan mematuhi atasannya? Mario mengajak kita untuk mencoba berpikir baik-baik, darimana datangnya rezeki? Jawabnya dari Allah SWT. Lalu dari mana datangnya gaji? Dari Tuhan ataukah dari atasan?

Menurut Mario, jika kita sepakat bahwa gaji merupakan rezeki dari Allah yang disalurkan melalui perantara atasan, berarti tak ada jumlah gaji yang diterima seseorang yang jumlahnya tidak disetujui oleh-Nya. Maka, kalau seorang karyawan merasa dibayar kurang, bertanyalah kepada Allah melalui munajat yang penuh instrospeksi, mengapa jumlah itu dipantaskan bagi dirinya?

Kebaikan yang Berbalas

Dalam berbisnis maupun bekerja, hati dan cinta tak boleh dilepas untuk digunakan. Sebab rasionalitas kerap terkendala oleh amuk emosi yang menutupi segala kebaikan. Begitu tandas Mario. Sebagai ilistrasi, Mario mengisahkan, ada seorang lelaki Muslim keturunan Tionghoa yang beristrikan wanita pesolek. Suatu hari, ia mendapati istriya berselingkuh. Sungguh kemarahan besar ia rasakan.

Saking marahnya, ia pergi meninggalkan istri durhaka itu dan memberinya seluruh harta kekayaan yang ia miliki. Lelaki itu hanya mengambil uang 20 ribu rupiah dan memilih tidur di masjid.

Siang menjelang, lelaki itu merasa lapar. Ia bergegas mencari warung nasi, tapi belum sempat membeli makanan, datang seorang pengemis lusuh sambil membawa seekor kucing. Si pengemis mengadu butuh makan, dan hanya memiliki seekor kucing sebagai barang yang bisa dijual. Dengan lapang hati lelaki itu memberi si pengemis uang 10 ribu rupiah dan menerima kucing mungil nan lucu sebagai pengganti.

Tak lama berselang setelah pengemis itu pergi, datang mobil mewah dan berhenti di depan masjid dan bertanya kepada lelaki itu, “Lucu sekali kucing ini. Apakah mau Bapak jual? Saya berani beli 200 juta,” ujar orang kaya itu penuh yakin. Tanpa ragu lelaki itu mengiyakan dan menerima uang kontan dari pembeli nan dermawan itu.

Begitu ilustrasi kisah bahwa mementingkan orang lain lebih utama daripada diri sendiri. ”Allah akan mencatat amal perbuatan seorang manusia, dan akan menggantinya dengan melipat gandakan pengorbanannya itu,” tandas Mario.

Boks 1

Triangle Walfare

Agar hidup dan berbisnis penuh berkah, masih banyak orang kurang paham bagaimana menggunakan harta sebaik-baiknya. KH Miftahul Luthfi Muhammad al-Mutawakkil memberi kiat konsep wirausaha yang penuh berkah ini dengan istilah Triangle Walfare (segitiga kemakmuran). Menurutnya, rumus ini merupakan pangkal kesejahteraan, berkat adanya tiga titik pertanggungjawaban yang dapat mendorong dan menyemangati seseorang untuk sukses bisnis dan hidup.

Tiga titik itu merupakan tiga bagian alokasi dana yang didapat dari hasil usaha. 1/3 dari pendapatan bersih layak digunakan kembali sebagai modal dan usaha mendapatkan profit. 1/3 lainnya digunakan untuk mencukupi biaya kebutuhan harian, seperti biaya kebutuhan hidup dan rumah tangga. Sedangkan bagian 1/3 lain harus digunakan untuk sedekah, sebagai bentuk dana segar dalam rangka meningkatkan diri menjadi manusia yang berguna bagi orang lain, dan optimalisasi diri dalam menomorsatukan Allah SWT.

Menurut Gus Luthfi, begitu Kiai ini akrab disapa, ukuran 1/3+1/3+1/3 tersebut adalah ukuran yang sangat manusiawi dan dapat dipraktekkan oleh siapa saja dalam kehidupan sehari-hari. Dengan konsep ini, tanpa disadari keimanan dan keyakinan kepada Allah akan semakin kuat. Keseimbangan hidup, kemakmuran, dan penguatan bisnis juga akan terpacu.

Konsep Triangle Walfare ini masih harus didukung oleh etika kewirausahaan lainnya. Antara lain upaya untuk selalu jujur, menghargai waktu, menjaga hubungan baik, menepati janji, mampu membaca peluang, dan berkeinginan mengubah keadaan lebih baik. Semua kiat positif itu Gus Luthfi tuangkan dalam bukunya Human Elyon (Manusia Mulia).

One Comment to “Berbisnis dengan Hati Bekerja dengan Cinta”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: