Cermin Disiplin Kerja

Ali Ibnu Anwar

Disiplin dalam bekerja, merupakan bagian utama pendidikan menuju perbaikan. Tapi tak jarang keinginan baik itu malah memunculkan persepsi keliru.

Suasana ruangan ber-AC itu tiba-tiba panas seketika. “Siapa yang tak jengkel bila terusik saat bekerja?” ucap ketus Mursida (42), seorang pegawai negeri sipil (PNS) yang giat bekerja di sebuah departemen. Sejak tadi ia hiir mudik keluar masuk ruangan, mengkopi arsip-arsip bantuan di ruang sebelah, karena mesin foto copy di ruangannya rusak.

Saat ia sibuk bekerja mengurus bantuan untuk daerah terpencil, beberapa rekan kerjanya malah asik bergerombol duduk-duduk di sofa pojok ruangan, mengobrol rencana berlibur esok hari. Mursida praktis “bekerja sendiri” di ruang itu. Padahal, tugas dan tanggungjawab rekan-rekan sekantornya masih banyak bahkan menumpuk untuk segera diselesaikan, tapi mereka tak peduli.

Lain lagi yang dialami Rohmat (36), salah seorang PNS di salah satu lembaga pemerintahan. Urip (bukan nama sebenarnya), rekan sekerjanya tak henti-henti bermain game. Di saat waktu luang atau jam kerja. Sangat risih Rohmat melihatnya, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Kemampuan, apalagi kewenangan ia tak punya untuk memperbaiki sifat dan kinerja rekannya yang seharusnya mengabdi untuk kepentingan publik, tapi malah sibuk dengan kesenangan sendiri itu.

Pengalaman Mursida dan Rohmat, rasanya sudah begitu umum bisa kita dapati di lingkungan kerja PNS. Dengan gaji tetap yang membuai, mereka makin terbui dengan leha-leha. Padahal, mereka disebut-sebut sebagai ujung tombak, dan abdi negara yang dibiayai oleh rakyat. Semestinya mereka melayani masyarakat pada objek-objek vital. Tapi pada kenyataannya, “hampir” kebanyakan PNS bertindak tidak profesional dalam menjalankan tugas mulia itu.

Menurut data Kementerian Aparatur Negara, pada tahun 2008 jumlah PNS telah mencapai 3,8 juta orang. Untuk mempekerjakan mereka, berdasarkan Nota Keuangan RAPBN 2009, negara harus merogoh kocek kas sebesar 143,8 triliun rupiah. Bayangkan, dana sebesar itu digulirkan dari dana rakyat menjadi mubazir tiada arti, bila para PNS sang abdi rakyat tak mampu –apalagi mau- bekerja maksimal dan baik.

Masih kuat dalam ingatan publik, betapa Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan) Taufiq Effendi di awal-awal masa jabatannya, begitu rajin melakukan sidak (inspeksi mendadak) mengunjungi departemen atau lembaga negara pelayanan publik, untuk melihat langsung “kerajinan” para aparatur negara itu.

Dan hingga kini terkadang “masih suka” dilakukan tindakan ini untuk menjerat para PNS nakal yang berkeliaran bukan di lingkungan kerja dan dengan tujuan non-pekerjaan formalnya. Kedisiplinan para PNS pun mulai terbangun untuk “takut” keluar kantor khawatir terjerat razia. Tapi di lingkungan kerja mereka, kantor maupun tenpat-tempat formal lainnya, masih saya masyarakat kerap mendapati perilaku mereka yang tidak disiplin bekerja.

Dalam sebuah kesempatan, Menpan Taufiq Effendi menyatakan kurang efektifnya pola sidak terhadap PNS. “Sidak sudah sering dilakukan oleh pendahulu kita selama 50 tahun, dan tidak pernah ada perbaikan,” tegasnya.

Taufiq menilai, permasalahan yang terjadi di lingkungan PNS bukan pada orangnya, tetapi pada sistem. “Saya akan mengubah sistem yang ada, bukan dengan memberi sanksi-sanksi atau Sidak yang akan mempermalukan mereka. Pemberian sanksi juga bukan cara yang efektif untuk meningkatkan kinerja PNS,” jelasnya.

Menurut Taufiq, cara yang efektif adalah dengan memanggil para pemimpin di departemen masing-masing, karena merekalah yang menjadi kunci untuk merubah anak buahnya. Taufiq tak ingin menciptakan PNS seperti menciptakan pembantu rumah tangga yang hanya bekerja jika dilihat majikannya saja. PNS harus bekerja tanpa menunggu komando dari pimpinannya.

Yang terpenting sekarang ini, imbuh Taufiq, untuk mengubah citra PNS adalah memperbaiki kinerjanya. Bukan mementingkan masalah kehadiran. “Untuk apa masuk setiap hari, tapi hanya bengong-bengong saja. Yang harus kita perbaiki adalah sistemnya,” katanya.

Ia berharap, kelak setiap PNS memiliki job description yang jelas. Datang ke kantor dan pekerjaan sudah menunggu. Bukan seperti sekarang, setiap ke kantor harus mencari-cari apa yang mau dikerjakan.

Disiplin Profesional

Bukan hanya dalam lingkup pelayan negara atau PNS, dalam semua lingkungan kerja (swasta maupun perofesional), juga dibutuhkan adanya upaya meningkatkan kompetensi kepribadian, sosial, profesionalisme, budaya dan disiplin kerja para pegawai atau pekerjanya. Yang tinggi dalam kaitan kapasitas pekerjaan, butuh SDM yang bermental teguh, kuat pendirian, dan malas melalaikan pekerjaannya.

Mendisiplinkan para pekerja, merupakan bagian dari upaya mendidik untuk perbaikan. Tapi, tak jarang keinginan baik itu malah memunculkan persepsi keliru tentang disiplin. Pemimpin yang buruk bisa terjebak menggunakan disiplin guna mempertahankan “status quo” kepemimpinannya. Atau untuk mengekspresikan wibawanya terhadap bawahan.

Disiplin sering diidentikkan hanya dengan hukuman. Para karyawan atau bawahan, akan melihat disiplin sebagai “hukuman yang mengancam nasib”, atau usaha atasan untuk menghalang-halangi kemajuan mereka.

Mewujudkan Disiplin Kerja

Banyak jalan menuju Roma. Demikian pepatah menyebutkan. Sama pula halnya dengan disiplin yang dapat diwujudkan dengan berbagai cara. Bagi pemimpin kepada bawahannya, rekan kerja kepada sesama, atau seorang bawahan kepada pimpinan/atasan, disiplin dapat diwujudkan dengan teguran (reprimend).

Teguran dapat diberikan secara bertahap. Mulai teguran lisan, hingga tertulis yang dicatat secara teratur. Teguran dapat diberikan bagi kekeliruan yang dinilai ringan. Namun bila teguran ini tak lekas menghasilkan perubakan yang baik, barulah dapat diberi hukuman (punishment), yang didahului dengan peringatan atau ancaman keras bagi pelanggaran yang dinilai berat/besar. Peringatan maupun ancaman keras, harus diberikan dalam bentuk tertulis.

Pada dasarnya, teguran bersifat mengingatkan. Sayangnya banyak orang tidak menyadarinya. Hingga ketika seseorang menegur rekan kerjanya, tak sedikit bukan malah ucapan terima kasih yang didapat, tapi raut muka tidak mengenakkan imbalannya.

Disiplin yang baik dan benar dalam kepemimpinan akan selalu membangun dan membawa kemajuan. Pemimpin yang berkhidmah, akan mampu menerapkan disiplin dalam hidup dan kerja, sehingga membawa dampak positif bagi kemajuan hidup dan kerja organisasi.

Dalam kehidupan berorganisasi, bekerja, berkelompok, maupun individu, disiplin menjadi gambaran tekad, kemauan, dan komitmen yang tengah ingin diejawentahkan. Dalam mekanisme sosial, disiplin menentukan kohesi tinggi, yang memastikan hubungan dan eratnya kerjasama antarmasyarakat, yang kelak akan mengarah pada keberhasilan/kesuksesan hidup maupun kerja mereka.

========

Boks 1

Fungsi Disiplin

1. Dapat meningkatkan kualitas karakter.

Kualitas karakter akan terlihat pada komitmen seseorang kepada Allah, organisasi, diri, orang lain, dan kerja. Puncak komitmen akan terlihat pada integritas diri yang tinggi dan tangguh.

Sikap demikian dapat mendukung proses pengejawantahan kualitas karakter, sikap, dan kerja. Di sinilah, kualitas sikap (komitmen dan integritas) ditunjang, didukung, dikembangkan, dan diwujudkan. Komitmen dan integritas akan terlihat dalam kinerja yang konsisten.

2. Memproduksi kualitas karakter. Ditandai adanya karakter kuat dari setiap orang, baik pemimpin maupun bawahan. Apabila pemimpin terbukti berdisiplin tinggi dalam sikap hidup dan kerja, para bawahan akan terpengaruh untuk berdisiplin tinggi dan menjadikan pemimpinnya sebagai figur.

====

Boks 2

Model Disiplin

Dalam prosesnya, disiplin dapat dilukiskan dengan tiga perbandingan:

1. Disiplin bagai mercusuar yang membuat nakhoda tetap siaga akan kondisi yang dihadapi dan tetap waspada menghadapi kenyataan hidup dan kerja.

2. Disiplin dapat digambarkan seperti air sungai yang terus mengalir dari gunung ke lembah dan terus membawa kesegaran dan membersihkan bagian sungai yang keruh.

3. Disiplin bagaikan dinamo yang menyimpan kekuatan/daya untuk menghidupkan mesin. Apabila kunci kontak dibuka, daya pun mengalir dan menghidupkan mesin yang mencipta daya dorong yang lebih besar lagi dan yang berjalan secara konsisten.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: