Aliah B. Purwakania Hasan: Rasional Memilih Presiden

Psikolog dan Dosen Universitas Indonesia

Setiap zaman pasti akan melahirkan pahlawannya masing-masing. Seperti juga Indonesia yang sedang menanti suksesi kepemimpinan nasional. Sebagian kalangan berharap, akan muncul pemimpin bertipe kepemimpinan kenabian. Namun, ”Saat ini, perwujudannya masih jauh,” kata psikolog Aliah Purwaknia Hasan yang juga dosen Pascasarjana Kajian Islam dan Psikologi UI. Berikut petikannya:

Menurut Anda, apa saja kriteria yang harus dipenuhi calon pemimpin masa kini?

Seorang pemimpin harus dapat menyesuaikan gaya kepemimpinannya dengan tuntutan keadaan dan orang yang dipimpinnya. Artinya, saat masyarakat membutuhkan profil yang kuat untuk menaikkan keterpurukan negara, maka seorang pemimpin harus dapat memberi jawaban dari hal yang diminta rakyatnya.

Untuk itu, seorang pemimpin harus memiliki kompetensi sikap, pengetahuan, keterampilan, dan kharisma yang dapat dirasakan masyarakat.

Perbedaan sipil-militer masih terus hangat dibicarakan. Siapa yang paling siap itu pemimpin dari kalangan sipil atau militer?

Menjadi calon presiden yang terpenting adalah kematangan pribadi. Baik sipil maupun militer, dapat menjadi presiden. Tentu saja, pengalaman membentuk kematangan seseorang, dan beda jalur pengalaman, dapat membuat karakter kepemimpinan berbeda pula.

Jalur militer membuat seseorang cenderung dipandang sebagai yang lebih kuat untuk mempimpin negara. Tetapi latarbelakang profesi lain, juga tetap memiliki kelebihan tersendiri. Masyarakat tertentu mungkin lebih memilih figur demokratis, dibandingkan figur otoriter.

Menurut Anda, berapa usia yang pantas untuk jabatan Presiden?

Asalkan ia memenuhi persyaratan usia untuk memilih dan dipilih. Tak ada patokan khusus untuk menjadi presiden. Secara umum, kita berharap ia tidak terlalu muda, sehingga memiliki kematangan dalam memimpin. Tetapi juga tidak terlalu tua, sehingga tidak terganggu kesehatannya ketika memimpin negara.

Ada yang bilang, pemimpin yang baik adalah yang loyal kepada negara dan bangsanya. Apa indikasi loyalitas itu?

Kita jelas mengharapkan pemimpin yang dapat mengutamakan kepentingan negara dan bangsa, daripada kepentingan pribadi atau golongan. Hal ini dapat dilihat dari keberpihakan keputusan yang diambilnya, lebih menguntungkan siapa, rakyat atau hanya golongan elitis tertentu. Apalagi jika golongan elit ini justru pihak asing.

Misalnya, jika Presiden memutuskan untuk mencari dana atau bantuan asing, siapa yang diuntungkan dari pinjaman dana tersebut. Apalagi jika dananya kemudian menghilangkan kemandirian negara. Tetapi, memang tdak mudah mengambil keputusan dalam situasi berkonflik kepentingan.

Bagaimana kecenderungan masyarakat memilih pemimpin saat ini? Bisa dikaitkan dengan sosok SBY yang berwibawa, JK yg pengusaha dan atau Megawati yg keibuan?

Saya melihat masyarakat kita masih cenderung memilih berdasarkan kharisma masing-masing calon presiden. Atau lebih bersifat irasional. Dengan cepatnya pergantian kepemimpinan, masyarakat saat ini menjadi bisa merasakan, siapapun yang menjadi pemimpin negara kelak, tak terlalu banyak akan mampu mengubah kehidupan mereka secara fundamental. Kita bisa melihat dari banyaknya golongan putih (Golput) ketika Pemilu legislatif yang lalu.

Belajar dari Pemilu lalu, masih ada masyarakat yang mudah terbujuk uang untuk memilih seorang calon. Mengapa?

Bagi masyarakat kecil, uang dirasakan kongkrit untuk mengatasi kehidupan mereka. Walau hanya sekejap. Bagi mereka, manfaat uang dari politik uang, lebih jelas daripada janji politik yang tak pernah pasti.

Daripada dibohongi dengan perhatian dan basa basi politik yang tak akan pernah mengubah nasib mereka, pemberian uang dapat sedikit menghibur mereka yang sedang susah. Ini memperlihatkan masih redahnya tingkat kemakmuran masyarakat kita.

Bagaimana dengan masyarakat memilih karena figur? Apa yg diharapkan?

Kita masih bisa mengharap lahirnya para pemilih rasional, jika tingkat pendidikan dan ekonomi membaik. Karena pendidikan dan kondisi ekonomi akan membentuk kemandirian dalam memilih.

Figur pemimpin dapat menjadi salah satu kriteria untuk menentukan pemilihan, terutama bila sesuai dengan harapan masyarakat. Khususnya figur yang dapat menyelesaikan masalah negara, dan meningkatkan kemakmuran rakyat.

Bagaimana peran faktor latarbelakang pribadi masyarakat untuk memilih calon pemimpin dari latar belakang yang sama, misalnya pengusaha atau militer?

Biasanya kita memang cenderung menyukai orang yang memiliki kesamaan dengan diri kita. Tapi itu bukan variabel penentu tunggal. Artinya, sikap terhadap calon presiden juga dipengaruhi pengetahuan dan pengalaman masa lampau, terhadap si calon tersebut.

Orang Indonesia cenderung mudah bersimpati. Seperti unggulnya SBY dulu karena ia menjadi pihak “terzhalimi” pemerintah saat itu. Seberapa besar rasa itu mempengaruhi masyarakat?

Simpati karena melihat seseorang dikorbankan, bukan satu-satunya kriteria untuk memilih. Masyarakat butuh pahlawan yang dapat menjadi simbol perlawanan, yang dapat membawa mereka keluar dari kesulitan.

Tapi kinerja nyata para calon pemimpin, tentunya lebih menentukan. Artinya, simpati itu akan hilang, jika prestasi yang mereka tunjukkan tak seperti yang diharapkan.

Sejauh mana pengaruh primordialisme terhadap pemilih?

Kencenderungan primordialisme masih terjadi. Secara umum, manusia memang lebih menyukai orang yang memiliki kesamaan dengan diri mereka. Selain itu, mereka mengharapkan agar orang yang memiliki kesamaan dengannya dapat lebih memperhatikan dan membawa aspirasi mereka.

Kepemimpinan prophetik (kenabian) sangat dibutuhkan dalam menata kehidupan bangsa ini. Bisakah itu diwujudkan?

arus diperjelas dulu yang dimaksud kepemimipinan prophetik. Apakah dilihat dari akhlaknya yang semata-mata mencerminkan al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah. Atau dari semangatnya bahwa ia semata-mata ikhlas menjalankan perintah dan rencana Allah bagi kehidupan manusia?

Untuk memenuhinya, tentu saja masih tergantung pada kapasitas pemimpin dan orang-orang yang dipimpinnya. Untuk saat ini, perwujudannya masih terasa jauh.

Apa saja indikator kepemimpinan prophetik? Apakah dari ketiga pasangab Capres 2009 ini ada yg memenuhi kriteria itu?

Masing-masing calon memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun saya tak melihat ada yang menunjukkan karakter atau gaya kepemimpinan prophetik dari ketiga pasang calon yang ada. (Tata Septayuda)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: