Harmonis Berkat Memuji

Meski sepele, pujian atau perhatian pasangan sungguh sangat besar pengaruhnya bagi hubungan rumah tangga. Ucapan bernada pujian akan kian memperkuat ikatan dan cinta.

Fajar indah kemerahan masih di ufuk Timur, Diah Amalia begitu ceria di pagi itu. Selepas shalat Subuh ia sigap bergegas membersihkan rumah, lalu menyiapkan masakan untuk Andi, sang suami tercinta yang akan tiba dari tugas rutin jaga malam sebentar lagi.

Lelah setelah bergadang semalaman, Andi terlihat gontai memasuki pekarangan rumah. “Assalamu’alaikum,” sapa Andi sambil membuka pintu rumah. “Wa’alaikum salam,” sambut Diah dengan senyum manisnya. “//Wah//, bersih sekali rumah kita, //Mah//. //Engga// rugi Papa mendapatkan istri yang apik, rajin bersih-bersih rumah, dan enak lagi masakannya,” ujar Andi sambil mencium kening Diah.

Diah tertegun keheranan, tapi hatinya sangat senang, teduh bercampur bahagia mendengar ucapan Andi. Lelah dan letihnya membersihkan rumah dan menyiapkan masakan sejak pagi buta, sekejap hilang. Terlebih, Andi, yang sudah menikahinya sejak lima tahun lalu, bukan pria yang suka //“ngegombal”// dengan puja-puji. Suaminya itu cenderung pendiam dan tak suka banyak komentar dengan situasi lingkungannya. Maka ucapan Andi di pagi itu sungguh meneduhkan hati Diah.

Sempat dalam hati Diah bertanya, //kok// suaminya yang dulunya tidak pernah memuji, tapi pagi itu tiba-tiba memuji dengan indahnya. Tanpa sepengetahuan Diah, ternyata malam itu sambil menghilangkan kantuk Andi //ngobrol// dengan teman sekerjanya Mas Naskhin, kakek 2 orang cucu, yang memiliki keluarga begitu harmonis.

“Apa //sih// resep Mas Naskhin sampai tahan berumahtangga hampir 30 tahun?” tanya Andi. “Jangan malu untuk memuji istrimu!” jawab Nasikhin ringkas. “Kamu memuji istri, dia //seneng//, nanti kamu akan di//servis// apa saja yang kamu mau,” imbuh Nasikhin.

Selama perjalanan pulang dari pos jaga ke rumah, Andi berpikir keras, apa yang harus ia puji dari kebiasaan istrinya. Tak lama ia ingat, ternyata istrinya apik, rajin bersih-bersih rumah, dan jago masak. Bulat tekad Andi ingin puji istrinya sesampainya di rumah.

Menurut psikolog perkawinan dr. Yati Utoyo Lubis, pasangan suami-istri harus bisa mengungkapkan hal-hal positif yang dimiliki pasangannya. Karena, cara ini efektif untuk memberi rasa percaya diri pada pasangan. “Ia akan merasa dicintai dan dihargai, sehingga tak ada keraguan dalam menjalani perkawinan,” tegas Dekan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu.

Bila suami-istri mampu mengungkapkan perasaan mereka dan menunjukkannya dalam bahasa verbal, suami akan menjadi tahu apa yang menjadi kelebihan dirinya, dan ia juga terdorong mencari kelebihan istrinya. Begitupun sebaliknya. Bahkan, pada tahap selanjutnya, suami atau istri akan mencoba terus memperbaiki dirinya.

Walau memang, untuk sebagian orang kebiasaan memuji tidaklah mudah. “Bila suami atau istri memang tak pernah dididik dengan pujian sejak kecil, ia akan kesulitan untuk memuji orang lain atau pasangannya,” ungkap Yati.

Pada orang yang berkepribadian //introvert// (pendiam), kebiasaan memuji biasanya sulit dilakukan. Tapi bukan berarti mereka tak bisa melakukannya. Orang semacam ini harus dirangsang untuk membiasakan diri untuk memuji. “Mungkin awalnya agak sulit, tapi lama-lama mereka akan terbiasa dan mau mengungkapkan isi hatinya,” jelas Yati.

Sunnah Memuji

Memuji tidak butuh biaya atau ongkos mahal. Yang dibutuhkan adalah ketulusan dan rasa cinta pada pasangan. Memberi pujian dapat diungkapkan dengan kalimat-kalimat ringan, seperti: “Masakan Mama hari ini luar biasa, //loh//!” Atau, “Wah, Papa tambah keren //deh// pakai dasi itu.”

Pujian sangat signifikan berpengaruh terhadap perasaan pasangan, khususnya bagi istri yang akan merasa dihargai, dipercayai dan dihormati oleh suaminya. Tanpa pujian atau perhatian, mungkin yang ada hanya kecenderungan untuk saling mencela dan merendahkan pasangan.

Fathimah az-Zahra dalam buku //Mafâtih Qalb al-Mar`ah// (Kunci Hati Wanita) menuturkan, “Dengan pujian, Anda bisa mulai membenahi suatu kesalahan dalam kepribadian pasangan Anda. Diawali dengan menghormati pasangan Anda melalui pujian selayaknya, hingga kemudian ia akan memperlakukan Anda dengan penuh cinta. Ketika itu telah tercapai, maka Anda dapat mulai membenahi hal-hal negatif yang ada dalam dirinya.”

Pujian terhadap penampilan pasangan, juga akan berdampak sangat positif bagi keharmonisan hubungan rumahtangga. Dengan pujian itu, pasangan akan merasa diperhatikan. Sebab, rasa “butuh diperhatikan” adalah fitrah manusia. Dan bukan monopoli anak-anak kecil saja rasa senang untuk diperhatikan orang, orang dewasa juga memerlukannya. Sepertinya, tak ada seorang pun yang tak ingin dipuji atau tak butuh pujian.

Mari belajar dari teladan Rasulullah SAW. Walau beliau pemimpin besar rakyatnya, tapi tak pernah lupa untuk memberi pujian. Ali ibn Abu Thalib RA pernah beliau puji dengan menyebutnya “kunci perbendaharaan ilmu”. Abdurrahman ibn Auf, seorang sahabat yang kaya, juga beliau puji karena kedermawanannya. Kepada Aisyah RA, Rasulullah juga kerap memuji istrinya itu hingga sering membuat tersipu. Beliau suka memanggilnya //khumaira// (pipi yang kemerahan).

Tapi, pujian tak boleh diberikan berlebihan. “Pujian seperti minyak wangi. Ia menebar harum, tapi berbahaya bila diminum,” kata sebuah pepetah. Benar, pujian berpotensi bahaya menjerumuskan seseorang ke jurang petaka, jika diberikan secara tidak proporsional dan berlebihan. Orang yang terlalu dipuji, biasanya akan cenderung sombong.

Dalam sebuah riwayat disebutkan: Beberapa waktu setelah Rasulullah SAW wafat, Abdurrahman ibn Auf mengunjungi Aisyah, dan berkata, “Wahai Ummul Mukminin. Aku dengar Rasulullah pernah berkata kepadamu bahwa aku termasuk salah seorang Sahabat yang mendapat pujian surga, namun jalanku tertatih-tatih menuju surga.” Aisyah menjawab, “Benar.” Lantas Abdurrahman berkata, “Jika demikian, aku berjanji akan berbuat lebih baik lagi, agar jalanku menuju surga dapat lebih cepat.”

Dr Hasan Syamsi Basya dalam buku //As’id Nafsak wa As’id al-Âkharîn// (Bahagiakan Dirimu dan Orang Lain) menyarankan agar kita dapat memuji istri ketika ia melakukan sesuatu yang memang pantas untuk dipuji. Pujian adalah bagian dari ungkapan rasa syukur dan terima kasih kita. Seperti syukur kita atas nikmat dari Allah dengan mengucapkan, //“Alhamdulillâh”// (Segala puji bagi Allah). Sebab, Rasulullah telah menandaskan: //“Barangsiapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, berarti ia tidak berterima kasih kepada Allah.”// (ahmad taufiq)

Boks 1

Aturan Memuji Pasangan

– Pujian diucapkan tulus, dan tidak mengada-ada.

– Diucapkan tidak terlalu sering, tapi juga tidak terlalu jarang.

– Memuji di saat-saat penting. Misalnya, saat akan memulai aktivitas di pagi hari.

– Memuji di saat pasangan benar-benar membutuhkannya. Misalnya, saat suami atau istri tengah merasa tidak percaya diri.

– Memilih kata-kata pujian yang tepat dan cocok dengan kondisi.

– Memuji pasangan di depan orang lain, selain anak. Tapi, intensitasnya jangan terlalu sering, sebab akan membuat orang lain risih mendengarnya.

– Pilihlah pujian yang tak berlebihan.

One Comment to “Harmonis Berkat Memuji”

  1. Saya sedih,suami saya sm skali tdk pernah memuji. Cth: saya orangnx jarang berdandan,tp begitu saya berdandan suami pun biasa saja. Tdk ada kata2 pujian.atau ketika saya memakai pakaian baru pun,ia tdk pernah memuji saya..menyedihkan😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: