Melerai Cekcok Rumahtangga

Fathurroji NK

Wajar dan manusiawi jika ada perselisihan dalam rumahtangga. Tapi, bagaimana cara mengantisipasinya agar tidak menjadi konflik? Dan bagaimana pula menghadapinya ketika sudah menjadi konflik?

Sebutlah namanya Sutrisno (Trisno), pria kelahiran Tegal 35 tahun lalu ini sudah puluhan tahun berprofesi sebagai penjual sayur di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Penghasilannya terbilang lumayan untuk ukuran pedagang kecil. Rumah kontrakan yang dulunya harus ia bayar sekitar Rp 300.000 perbulan, kini sudah tak perlu ia pusingkan.

Pasalnya, setelah menikahi Kokom (Nurkomariah, 28 tahun) perempuan Betawi asli, Sutrisno tak lagi ”wajib” membayar kontrakan yang kini ia tumpangi bersama istri, karena sang istrilah pemilik kontrakan warisan keluarganya itu.

Tapi, beban keuangan yang semestinya telah sedikit tertanggulangi, malah kerap menjadi biang pertengkaran mereka berdua. Masalah-masalah kecil, seperti piring pecah karena terjatuh tanpa sengaja, atau ceceran nasi di lantai sisa makan Ina, anak pertama mereka, selalu menjadi besar, karena tak ada pihak yang mau mengalah.

Trisno merasa ”berkuasa” karena ia lelaki yang berperan sebagai kepala rumahtangga. Sementara Kokom terus keras kepala merasa yang paling berhak mengatur rumahtangga, karena ia dan suaminya tinggal di rumah warisan keluarga Kokom.

Cerita seperti Trisno dan Kokom, hanya satu dari bagian episode hidup berkeluarga yang banyak dialami jutaan masyarakat. Khususnya bagi pasangan berbeda kultur, kebiasaan, karakter, penghasilan, wawasan, pendidikan, gaya hidup, hingga ekonomi.

Padahal sejatinya, pernikahan merupakan upaya menyatukan dua kekuatan, untuk sama-sama berjuang menggapai ridha Allah SWT. Dan untuk menyatukan kekuatan tersebut, butuh waktu dan penyesuaian diri. Sebab masing-masing orang memiliki beda latarbelakang budaya, kebiasaan, maupun karakter.

Menurut Psikolog Rina M. Taufik, interaksi dua manusia yang beda latarbelakang kultur, karakter dan gaya hidup, rentan mengalami pergesekan nilai dan kebiasaan, sehingga percekcokan mudah timbul. Ini wajar dan manusiawi, karena rumah tangga Rasulullah pun tak lepas dari percekcokan.

”Bedanya, Rasulullah memiliki akhlak mulia dan dibimbing Allah untuk menjadi contoh bagi umatnya,” tandas pengasuh situs konsultasi-keluarga-muslim.blogspot.com itu.

Tak jarang terjadi, keluarga Muslim yang hanya disebabkan masalah kecil, kerap mudah memutuskan untuk mengakhiri pernikahannya. Seperti masalah yang hanya bermula dari salah persepsi karena macetnya komunikasi, atau kebiasaan kecil suami yang tak disukai isteri, atau sebaliknya.

Agar konflik rumahtangga bisa dihindari, menurut Rina, setiap pasangan hendaknya memiliki pengetahuan yang cukup, sebelum memasuki jenjang pernikahan. Sehingga goncangan, pergesakan, dan hambatan yang akan dihadapi saat menjalankan bahtera rumahtangga telah siap dihadapi.

Kategori Konflik

Mohammad Fauzil Adhim, penulis buku best seller Kado Pernikahan untuk Istriku menegaskan, kehidupan pernikahan memang kadang harus menghadapi benturan. Baik benturan keadaan, seperti kesulitan ekonomi, tekanan sosial, fitnah, tuntutan teman hidup, dan lain sebagainya. Benturan ini akan mengakibatkan lahirnya tiga kategori masalah rumah tangga menuju konflik tertutup maupun terbuka.

Pertama, perbedaan dalam perkara permukaan. Seperti perbedaan selera makan, bentuk rumah, dan sebagainya. Menurut Fauzil, yang menyebabkan orang peka terhadap beda masalah ini, adalah karena adanya kebiasaan suka menggunjing.

Kedua, perbedaan sikap terhadap hidup dan teman hidup. Contoh, suami yang tak suka mendapat kejutan hadiah ulang tahun. Istri yang semula berniat baik memberi hadiah untuk suaminya, akan kecewa dan membuatnya akan tak acuh lagi kepada sang suami. Dari masalah itu, pintu konflik pun mulai terbuka, dan jika dibiarkan akan menghancurkan rumah tangga.

Perbedaan kecil ini, tegas Fauzil, sangat mungkin terjadi karena tidak adanya tabâyun (upaya saling menjelaskan) secara lapang dada. Hingga kedua belah pihak akan beranggapan dengan prasangka sendiri dan cenderung untuk saling menyalahkan.

Ketiga, perbedaan prinsip keimanan. Baik terjadi karena faktor tidak seiringnya fluktuasi (naik turun) keimanan suami atau istri, maupun konflik yang menimpa orang yang baru mengalami penyadaran keimanan. ”Begitu ada kesalahan, kadang akan segera ditanggapi dengan cara yang tidak bijak,” paparnya.

Lalu, bagaimana sebaiknya pasangan suami-istri bersikap ketika konflik mendera? Fauzil menerangkan beberapa hal yang perlu diperhatikan: Pertama, mereka harus sabar. Yaitu sabar untuk rela menerima dan mampu bertahan menghadapi atau menahan diri agar tidak melakukan sesuatu yang mendatangkan mudhârat.

Berikutnya adalah dialog. Dalam hidup rumah tangga, dialog sangat berguna untuk mengikis hambatan psikis. ”Boleh jadi, hanya dengan dialog ringan, konflik yang kelihatannya sulit untuk dipecahkan dapat cair,” terang Fauzil.

Banyak manfaat dari dialog. Seperti untuk tabâyun meluruskan informasi antarpasangan, membangun kembali bagian-bagian hubungan mereka yang retak, memaafkan kesalahan sesama, dan memberi kesempatan untuk memerbaiki diri.

Tapi, jika konflik terjadi, namun tak bisa diatasi dengan dialog, sebaiknya suami istri mencari sosok penengah. ”Ambillah penengah dari kalangan keluarga,” tandas Fauzil.

Boks 1 Kecil

Penyebab Konflik Rumah Tangga

1. Komunikasi kurang lancar

2. Kurang ilmu

3. Kurang mampu mengendalikan diri

4. Kurang ibadah

=========

Boks 2

Butuh Banyak Penyuluhan

Dibandingkan negara-negara Islam lainnya, Indonesia berada di peringkat tertinggi dalam angka perceraian setiap tahunnya. Dan dari tahun ke tahun, perceraian di Indonesia cenderung meningkat. Demikian dinyatakan Dirjen Bimas Islam Departemen Agama Prof. Nazaruddin Umar beberapa waktu lalu.

“Setiap tahun ada dua juta perkawinan, tetapi yang memilukan perceraian bertambah dua kali lipat. Setiap 100 orang yang menikah, 10 pasangannya bercerai. Umumnya mereka yang baru berumahtangga,” tegasnya.

Menurut Nasaruddin, tingginya perceraian tersebut antara lain disebabkan karena ketidakharmonisan rumahtangga yang mencapai 46.723 kasus, faktor ekonomi 24.252 kasus, krisis keluarga 4. 916 kasus, cemburu 4.708 kasus, poligami 879 kasus, kawin paksa 1.692 kasus, kawin bawah umur 284 kasus, dan penganiayaan dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sebanyak 916 kasus.

Suami atau isteri dihukum lalu kawin lagi 153 kasus, cacat biologis (tidak bisa memenuhi kebutuhan biologis) 581 kasus, perbedaan politik 157 kasus, gangguan pihak keluarga 9.071 kasus, dan tidak ada lagi kecocokan (akibat selingkuh) sebanyak 54. 38 kasus.

Tingginya permintaan gugat cerai isteri terhadap suami tersebut, diduga karena kaum perempuan merasa mempunyai hak yang sama dengan lelaki. Atau akibat globalisasi yang oleh kebanyakan kaum perempuan dipahami secara kebablasan.

Karena itu, peran lebih kuat Badan Penasehat Pembinaan Pembinaan Pelestarian Perkawinan (BP4) dalam meminimalisasi fenomena perceraian teramat sangat dibutuhkan. Nazaruddin mencontohkan, di Eropa, nasihat sebelum perkawinan diperoleh pasangan yang hendak menikah, diberikan secara teratur dan setara dengan kuliah satu semester.

Sementara di Indonesia, nasihat penting itu hanya diberika selama tujuh menit, saat kedua mempelai berhadapan dengan penghulu. Dari situ, terlihat sangat rentannya pasangan muda suami-istri terhadap konflik rumahtangga mereka akibat kurangnya wawasan dan bimbingan pranikah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: