Amir: Bangkit dari Kegagalan

Sesuatu yang kecil, dengan ketekunan, lama-lama akan menjadi besar juga. Demikian bunyi pepatah umum. Banyak pengusaha memulai bisnis dari hal kecil, namun kemudian bisa menjadi pengusaha besar. Yang dibutuhkan hanya kesabaran, keuletan (tahan uji) dan ketekunan untuk melampaui masa-masa sulit dan bangkit dari kegagalan.

Amir, seorang pengusaha di sebuah kota kecil Jawa Tengah. Dulu, saat lulus kuliah, layaknya pemuda desa pada umumnya, Amir ingin menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan jalur profesi guru yang dipilihnya.

Dengan status guru tidak tetap di SMA dan merangkap sebagai tenaga pengajar di sekolah swasta, Amir mendapat honor yang sangat kecil. Orang tuanya bahkan masih membantu mencukupi kebutuhannya, dengan harapan suatu saat, secepat mungkin, Amir bisa diangkat menjadi PNS.

Di usia 30 tahun, Amir sudah mengabdi sebagai guru selama enam tahun, namun berbagai lowongan PNS tidak pernah berhasil ia dapatkan. Sebenarnya Amir masih bersabar, hingga suatu saat, ia bertemu Rahmat, seorang sahabat SMA yang kebetulan menggeluti bisnis rempah-rempah. Sekilas bisnisnya terdengar sepele dan kecil, namun ternyata omset bulanannya mencapai Rp 150 juta, dengan keuntungan bersih rata-rata Rp 7,5 juta/bulan.

Amir takjub dan terkesan, karena Rahmat tidak kuliah dan hanya lulus SMA. Sementara, pendapatan Amir—yang sarjana pendidikan jurusan matematika, dari mengajar di tiga sekolah hanya kurang lebih Rp 1 juta perbulan. Bila dikalkulasi, pendapatan Rahmat 7,5 kali lipat pendaptan Amir. Artinya, hasil usaha Rahmat 1 tahun sebanding dengan kerja Amir 7,5 tahun. Perbandingan yang cukup besar. Ia masih ingat Rahmat mulai berjualan rempah-rempah begitu lulus SMA, karena tidak ada biaya kuliah.

Setelah beberapa kali pertemuan, Amir termotivasi menjadi pengusaha. Ia tahu bahwa keterbatasan modal bukan hambatan tuk menjadi pengusaha, karena akan selalu ada jalan. Ia lalu memutuskan beternak ikan lele, yang dari analisanya tidak membutuhkan modal besar dan relatif mudah. Juga kebetulan orang tuanya memiliki sawah + 5000 m2. Ia memanfaatkan sedikitnya 100 m2 untuk beternak lele, sebagai uji coba. Beternak ikan lele relatif mudah karena 3 bulan sudah bisa panen, dan sudah banyak pedagang pengepul yang siap membeli.

Tahun Ke-1

Amir memulai usaha dengan modal Rp 8 juta, dengan memanfaatkan tabungan dan pinjaman dari orang tua. Kolam sementara dibuat dari terpal, bukan kolam permanen. Perencanaan kebutuhan modalnya:

Biaya pembuatan kolam : Rp 5.000.000,-

Biaya 15.000 bibit lele : Rp 975.000,-

Biaya pakan untuk 3 bulan : Rp 2.000.000,-

Amir tetap menjadi guru, karena beternak lele tidak memerlukan perawatan ketat. Tiga bulan kemudian Amir, sudah panen, dan menghasilkan 1 ton ikan lele. Hanya sedikit lele yang mati. Dengan harga jual untuk pembeli besar Rp 6000/kg, Amir mendapatkan uang + Rp 6 juta.

Amir mulai asyik berbisnis, sekalipun keuntungan kotornya hanya Rp 3 juta dalam tiga bulan. Kadang sebagian hasil panen ia bagikan ke beberapa tetangga agar orang lain bisa ikut menikmati.

Amir panen empat kali dalam setahun bisnis. Ia melunasi utang kepada orangtua. Keuntungan belum banyak, namun Amir cukup puas. Toh, ia masih bisa hidup dengan gaji mengajar.

Tahun Ke-2

Amir merasa yakin bisa mengembangkan bisnis dan mendapat keuntungan lebih besar. Ia merancang pembuatan kolam ikan permanen seluas 300 m2, agar perawatan lebih mudah dan ikan lebih aman, misalnya dari serangan ular.

Obsesi untuk sukses begitu menggebu dan menggelora. Amir meyakinkan keluarganya dan mendapatkan bantuan Rp 30 juta dari orang tua dan Rp 20 juta dari pamannya, dengan janji angsuran pelunasan kepada pamannya selama 1 tahun. Rencana pembiayaannya:

Kolam permanen 300 m2 : Rp 35.000.000,- (35 juta)

Bibit 45.000 ekor : Rp 3.150.000,- (3,6 juta)

Biaya pakan 3 bulan : Rp 7.000.000,- (7 juta)

Sisa modal digunakan untuk biaya operasional, termasuk Rp 400.000/bulan gaji satu orang tenaga kerja paruh waktu. Amir lalu memutuskan berhenti mengajar dan fokus pada bisnis, meski ditentang keluarga.

Tiga bulan kemudian, sesuai rencana, Amir panen. Ia melakukan pengembangan bertahap, diatur agar tiap bulannya bisa panen 15.000 ekor dan mendapatkan ikan lele sekitar satu ton senilai Rp 6 juta.

Rp 1,5 juta untuk mencicil utang pada paman, Rp 2 juta untuk putaran perbulan, dan Rp 400.000 untuk gaji pekerja. Sisanya (Rp 2,1 juta/bulan) digunakan untuk kebutuhan pribadi dirasa sudah cukup.

Bulan-bulan berikutnya, panen bertambah dan meningkat di atas satu ton, didukung naiknya harga ikan lele di pasar. Amir semakin menikmati bisnisnya.

Bulan ke delapan, tiba-tiba harga pakan naik dan harga ikan lele malah turun. Amir mencoba tetap tenang, dan berharap bulan berikutnya situasinya membaik. Namun tak seperti harapan, di bulan ke sepuluh, situasi tetap buruk, dan tiba-tiba hampir separuh lelenya mati. Akibatnya, pendapatan menurun drastis, untuk mencicil utang, menggaji pekerja serta memutar modal pun sudah sangat pas-pasan.

Keadaan ini berlanjut hingga akhir tahun kedua. Amir menjadi kacau dan tidak bisa tenang lagi. Bisnisnya semakin jelas akan bangkrut karena banyak merugi. Ia sangat malu karena cicilan kepada pamannya tidak lancar, dan ia terlanjur memberi harapan yang menggiurkan kepada keluarganya. Beberapa rekan guru, menyalahkan karena telah meninggalkan profesi guru.

Tahun Ke-3

Amir belum siap menghadapi kekacauan bisnis. Selama tiga bulan hidup Amir berantakan, tidak bisa tidur dan sering gelisah sendiri. Dari sisa uang yang ada, Amir hanya sanggup beternak bibit sebanyak 30.000 ekor, semakin lama jumlahnya semakin kecil. Meski dengan susah payah, Amir tetap mempertahankan bisnis ini, mengurangi gaji pegawai dengan kompenasasi pengurangan tugas.

Di saat gairah bisnis melemah, Amir mulai bimbang dan berpikir untuk berhenti. Tapi ia akan berhadapan dengan masalah besar, karena sawah yang terlanjur menjadi bangunan, sangat sulit mengembalikannya menjadi sawah lagi. Ia betul-betul tertekan.

Hingga akhirnya, Amir bertemu Rahmat lagi yang justru menyarankan agar tetap sabar, dan terus berusaha. Katanya, kegagalan seperti itu wajar dalam permulaan bisnis, pengusaha harus selalu berprasangka baik kepada Allah SWT. Berpikir positif, akan memudahkan mendekatkan diri kepada Allah, dan kalau sudah dekat, diri akan tenang. Tetap dalam ketenangan akan memudahkan mencari menyelesaikan masalah.

Amir melanjutkan usaha dan mencoba bangkit lagi. Dengan perasaan penuh malu, Amir menemui pamannya dan memohon kelonggaran waktu menunda cicilan hutang. Paman yang semula menolak, akhirnya menerima karena melihat kesungguhan Amir. Kepada orang tuanya, Amir meminta maaf dan memohon restu melanjutkan bisnis.

Amir meminjam uang dari sebuah BPR dengan jaminan sepeda motor miliknya dan milik bapaknya. Tidak perlu banyak, karena yang dibutuhkan hanya biaya produksi.

Lalu apa yang terjadi? Beberapa bulan, pendapatan masih belum bisa menutupi biaya pakan, karena harga jual ikan lele masih flukuatif cenderung turun. Mungkin karena pasokan yang terlalu tinggi di pasar. Selama ini, Amir masih memasarkan dengan cara pembeli yang datang ke rumah, Amir tidak pernah mencari pasar sendiri.

Usahanya bahkan bangkrut lagi karena lelenya tiba-tiba banyak yang mati di akhir tahun ketiga. Amir kembali menemui kekacauan baru. Kendati ia telah belajar menghadapi kegagalan, tapi situasi sekarang menjadi tambah berat, karena ia terjerat hutang BPR senilai Rp 10 juta, hasil penggadaian dua sepeda motor. Setidaknya ia harus mengangsur hampir Rp 500.000/bulan. Belum lagi hutang pada paman.

Tahun Ke-4

Kebangkrutan yang kedua berlanjut sampai tahun keempat. Modalnya habis lagi, karena sisa penjualan sudah digunakan untuk mengangsur hutang. Amir benar-benar hidup dalam tekanan dan keprihatinan, di tambah situasi di lingkungannya yang selalu menyudutkan. Hanya Rahmat satu-satunya orang yang mengerti dan selalu memotivasi untuk tidak putus asa.

Sampai suatu saat, sebuah instansi pemerintah mengadakan training kewirausahaan gratis. Kebetulan trainernya memiliki background bisnis yang sama seperti Amir, ia seorang pengusaha yang berjuang dari nol, dan telah mengalami beberapa masalah, namun mampu bangkit dari keterpurukan. Hasil training itu benar-benar mampu memotifasi, membangkitkan semangat dan memberikan keyakinan baru bahwa akan selalu ada jalan keluar bagi setiap masalah kalau mau berusaha.

Dengan semangat baru, Amir berpikir keras. Dari pada terus menerus memikirkan kegagalan dan beban hutang, lebih baik fokus pada usaha agar bisa menguntungkan.

Sekali lagi, ia menemui pihak-pihak pengutang meminta toleransi pembayaran. Kemudian menego penjual bibit lele agar pembayaran bisa dilakukan setelah panen. Amir melangkah lebih jauh lagi dengan mengembangkan pakan lele. Melihat harga pakan ikan lele yang tetap mahal, ia berinisiatif mencari alternatif pakan lain.

Amir memanfaatkan limbah makanan yang cukup banyak dari warung-warung makan. Di antara limbah itu ada nasi, tulang, duri ikan, kepala ikan dan lain-lain yang ternyata mengandung protein yang dibutuhkan ikan lele. Amir membeli limbah itu dengan harga sangat murah, beberapa warung bahkan memberikannya secara gratis. Jauh akan lebih menghemat pakan lele yang harganya sudah melambung sampai Rp 4.500/kg.

Hasilnya luar biasa, ia tidak membutuhkan banyak modal untuk bibit, pakan alternatifnya ternyata sangat cocok. Ikan lele tumbuh lebih besar dan menjadi lebih kebal terhadap serangan hama. Di bulan-bulan berikutnya, Amir telah mengurangi pembelian pakan lele dari toko hingga 75% dan menggantinya dengan pakan alternatif.

Akhir tahun keempat ini, bisnisnya sudah berjalan lagi dan menguntungkan. Secara bertahap Amir sudah bisa mulai mengangsur pembayaran hutang dan menambah investasi. Belajar dari pengalaman masa lalu, Amir tidak mudah lupa diri. Ia sadar, pentingnya mengembangkan usaha, tetap memilih hidup secukupnya tanpa berfoya-foya, dan menggunakan setiap sisa keuntungan untuk menambah investasi.

Tahun Ke-6

Kolamnya sudah berkembang menjadi 600 m2, memanfaatkan pinjaman lunak dari sebuah bank dengan bunga sangat ringan. Seluruh hutang sudah lunas. Dengan cara pembesaran ikan lele yang baru, kini Amir sudah bisa memanen + 2,5 ton/bulan dengan keuntungan bersih Rp 6 juta/bulan.

Amir merencanakan pembangunan kolam yang bisa disewakan kepada masyarakat sekitar yang mulai tertarik, dengan menggaunakan sistem bagi hasil. Terlebih setalah bertemu seorang pengusaha ekspor ikan yang ingin mencoba ekspor ikan lele.

Amir juga menjadi lebih taat beribadah dan lebih bijak menghadapi persoalan. Kalau bertemu orang yang mengalami kesulitan, ia segera menyarankan untuk mendekatkan diri pada Allah SWT, dan mengingatkan firman-Nya, “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (Qs. al-Baqarah [2]: 45–46)

Boks

Inti Keberhasilan

Pelajaran berharga dari keberhasilan Amir:

1. Mengajar dengan cita-cita menjadi PNS tidak akan membawa berkah.

2. Selalu berpikir positif terhadap Allah SWT, sehingga bisa terus tekun dan ulet berusaha, dan tidak mudah berputus asa.

3. Tenang dalam menghadapi kesulitan akan memunculkan kreatifitas. Ketenangan menciptakan pikiran yang fokus dan terarah.

4. Keputusan untuk keluar dari pekerjaan, dan fokus ke bisnis memang beresiko besar. Namun resiko besar seringkali sepadan dengan hasilnya.

5. Keberhasilan selalu membutuhkan waktu dan proses, tidak ada yang tiba-tiba dan instan. Kalaupun ada, itu tidak untuk diikuti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: