Rekaan Psikologi Evolusioner Darwin

Peringatan Ulang Tahun Darwin ke-200

Rekaan Psikologi Evolusioner Darwin

Perlu dipertimbangkan kembali pengajaran psikologi evolusioner Darwin yang jelas-jelas bersikap ateis, materislistik, antituhan, dan terbukti keliru.

Semarak peringatan 200 tahun Charles Robert Darwin berlangsung sejak akhir tahun lalu di seantero dunia. Banyak penerbitan ilmiah menurunkan laporan mengenai Darwin, seorang ilmuwan Inggris yang telah mengubah cara pandang banyak manusia tentang makhluk di jagat semesta itu. Berbagai universitas dan badan penelitian menyelenggarakan seminar dan pameran untuk memperingati hari ulang tahunnya ke-200, yang bertepatan 12 Februari 2009.

Namun di tengah pesta itu, para pendukung teori evolusi tak bisa menutupi kenyataan bahwa teori Darwin semakin terpuruk. Misalnya majalah iptek Inggris pendukung-evolusi, New Scientist, malah mengungkap fakta bahwa “tree of life” alias pohon silsilah evolusi kehidupan rekaan Darwin, sudah tak bisa dipertahankan lagi. Perusahaan konsultan ComRes juga mengungkap hasil jajak pendapat yang menyebut lebih dari separuh warga Inggris percaya bahwa teori evolusi tak dapat menjelaskan kerumitan makhluk hidup di bumi (Telegraph, 6/2/2009).

Darwin mengusulkan teori bahwa makhluk di muka bumi berevolusi melalui proses seleksi alam. Hewan atau tumbuhan yang paling bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya, adalah yang paling besar peluangnya untuk bertahan hidup dan bereproduksi, sambil meneruskan karakteristik yang membantunya bertahan hingga keturunannya. Berdasarkan teori ini, manusia (homo sapiens) diyakini bukanlah ciptaan Tuhan, tapi hanyalah wujud lain dari hewan yang telah berevolusi, mungkin dari kera.

Untuk menjelaskan kemampuan berpikir pada manusia yang membedakannya dari binatang, Darwin kemudian memperluas cakupan teori evolusinya, yang semula telah ia ulas dalam bukunya On the Origin of Species by Means of Natural Selection (Tentang Asal-usul Spesies Melalui Seleksi Alam). Soal kemampuan berpikir pada manusia ini Darwin tuangkan dalam bukunya yang lain, The Descent of Man (Keturunan Manusia). Ia berpendapat, bahwa sifat-sifat pada diri manusia, seperti moralitas dan emosi, muncul melalui evolusi.

Tak ayal, teori Darwin menuai kontroversi selama 150-an tahun. Namun para pendukungnya terus mengembangkan Darwinisme, bukan hanya ke dalam bidang biologi, tetapi juga bidang-bidang ilmu lainnya. Termasuk psikologi, dengan konsep-konsep yang tentunya berakar pada teori evolusi. Terkadang, psikologi evolusioner tak cuma dipandang sebagai subdisiplin dari psikologi, bahkan kerap dianggap sebagai framework berbasis teori evolusi, yang dipakai untuk menguji keseluruhan bidang psikologi.

Pendekatan evolusi ini menarik perhatian kalangan masyarakat luas. Karena bahasan-bahasan sering menyentuh hal-hal sensitif, seperti birahi manusia, seks dan nafsu. Maka perdebatan pun tak terelakkan. Baru-baru ini, misalnya, terbit buku berjudul Evolutionary Psychology as Maladapted Psychology (Psikologi Evolusioner sebagai Psikologi Salah Tempat), yang membongkar kekeliruan penerapan teori evolusi Darwin di bidang psikologi.

Buku ini ditulis Robert C. Richardson, seorang pendukung evolusi, yang percaya bahwa kemampuan psikologis manusia merupakan sifat yang terevolusi. Meski begitu, filsuf asal University of Cincinnati itu menyatakan, bahwa penafsiran psikologi evolusioner dari sudut pandang biologi evolusi adalah salah. Richardson sampai pada kesimpulan tersebut berdasarkan kajiannya yang berpegang teguh pada kaedah-kaedah keilmuan.

Sebelum karya Richardson, juga terbit karya lain yang memberikan bantahan telak terhadap penerapan teori evolusi yang selama ini ada dalam bidang psikologi. Buku Adapting Minds (Akal yang Beradaptasi), karya David Buller, pakar filsafat asal Northern Illinois University dan pendukung evolusi, terbit pada 2005. Berbeda dari Richardson, karya Buller lebih terperinci, menitikberatkan pada bukti-bukti, dan memberikan penafsiran lain.

Para pakar psikologi evolusioner, umumnya berkesimpulan bahwa kemampuan nalar manusia hanya dapat dipahami berdasarkan sejarah evolusi manusia. Mereka mengemukakan, akal pikiran manusia terdiri dari simpul-simpul daya pikir yang berevolusi sebagai tanggapan atas tekanan seleksi yang dihadapi nenek moyang manusia pada Zaman Batu.

Akan tetapi dalam kajiannya, sebagaimana dituangkan di banyak tempat dalam bukunya, Richardson berkesimpulan, tak ada bukti sejarah yang dapat digunakan untuk merekonstruksi evolusi kemampuan berpikir manusia. Kesimpulan pakar psikologi evolusioner selama ini hanya bersifat dugaan belaka.

Misalnya kemampuan berbahasa pada manusia. Pakar psikologi evolusioner cenderung menjelaskan, bahwa proses evolusi telah mendorong munculnya keterampilan berbahasa, untuk digunakan dalam kelompok masyarakat yang kompleks. Dengan kata lain, ada kebutuhan akan bahasa. Richardson berpendapat, bahwa para pakar fosil mustahil akan menemukan bukti-bukti yang dapat memberikan informasi tentang tatanan sosial masyarakat nenek moyang manusia.

Bahkan, kalaupun bukti-bukti yang diperlukan dalam pengkajian kemampuan berpikir manusia berdasarkan psikologi evolusioner dapat dikumpulkan, hal ini tak akan menghasilkan pengetahuan tentang mekanisme kemampuan berpikir manusia, tulis Johan J. Bolhuis tentang buku karya Richardson tersebut di jurnal ilmiah pro-evolusi terkemuka, Science (6/6/2008). Menurut Bolhuis, pakar biologi asal Belanda, kajian tentang evolusi berkutat pada rekonstruksi sejarah sifat-sifat manusia.

Kajian tersebut tidak, dan tidak dapat, menelaah mekanisme yang terlibat pada otak manusia, yang merupakan bidang kajian ilmu saraf dan psikologi kognitif. Dengan demikian, pengkajian psikologi berlandaskan teori evolusi tak akan pernah berhasil. Karena kajiannya berupaya menjelaskan mekanisme-mekanisme, tapi secara tidak tepat mengacu pada sejarahnya. Ini diibaratkan sang pengarang seperti menjelaskan struktur tanaman anggrek dengan merujuk pada keindahannya.

Menurut Bolhuis, yang juga menjabat sebagai profesor tamu di Department of Zoology, University of Salzburg, Austria, hasil kajian Richardson mengungkap, betapa sebagian besar kajian psikologi berdasarkan teori evolusi hanya rekaan belaka. “Dalam buku luar biasa ini, Richardson memperlihatkan dengan sangat gamblang, bahwa upaya-upaya dalam penyusunan ulang sejarah kemampuan berpikir kita tak lebih dari ‘rekaan yang disamarkan sebagai hasil’.” (Science 6 Juni 2008, Vol. 320. no. 5881, hal. 1293).

Atau, sebagaimana diulas pula dalam editorial buku terbitan The MIT Press tersebut: “(Psikologi evolusioner) lebih merupakan rekaan ketimbang ilmu pengetahuan yang mapan. Dan kita sepatutnya memperlakukan pernyataan-pernyataannya dengan keraguan.”

Pemanfaatan psikologi evolusioner yang jelas-jelas bersikap ateis dan materislistik serta terbukti keliru ini, namun telah lama diajarkan di dunia akademis termasuk di Indonesia, tampaknya perlu dipertimbangkan kembali secara seksama. [ahmadie thaha/science/MIT Press]

BOX

Materialisme Antituhan

Charles Darwin lahir 200 tahun lalu, 12 Februari 1809, di Shrewsbury, Shropshire, Inggris, dari keluarga kaya. Semula ia ingin belajar kedokteran, tapi minatnya kemudian beralih kepada teologi. Sosok dan pandangannya pun kembali berubah setelah mengikuti ekspedisi ilmiah selama lima tahun dengan kapal HMS Beagle yang meninggalkan Inggris pada 1831. Saat itu, sebagian besar orang Eropa masih berpikiran bahwa dunia diciptakan Tuhan dalam tujuh hari.

Dalam ekspedisi tadi, Darwin terpengaruh oleh buku yang dibacanya selama perjalanan, Prinsip-prinsip Geologi karya Charles Lyell, yang menyebut bahwa fosil di bebatuan sebenarnya binatang yang hidup ribuan, bahkan jutaan, tahun silam. Di perjalanan, ia amati berbagai kehidupan satwa dan fitur geologi.

Sekembalinya dari pelayaran itu pada 1836, Darwin mengunjungi pasar-pasar hewan di Inggris. Ia mengamati orang-orang yang bekerja memuliakan sapi, untuk menghasilkan keturunan sapi baru, mereka biasanya mengawinkan sapi-sapi yang memiliki perbedaan sifat. Pengalaman ini, ditambah pengamatan keanekaragaman jenis burung kutilang yang diamatinya di Kepulauan Galapagos, memberi andil dalam perumusan teorinya.

Darwin lalau menerbitkan On the Origin of Species by Means of Natural Selection (Tentang Asal-usul Spesies Melalui Seleksi Alam). Di situ ia berpendapat, bahwa semua spesies berasal dari satu nenek moyang, yang berevolusi dari satu jenis ke jenis lain, sejalan waktu melalui perubahan-perubahan kecil. Selain karena bersifat terlalu spekulatif, teori Darwin alias Darwinisme sangat ditentang, karena dinilai sebagai pemikiran materialistik dan anti-tuhan (ateis).

Teori evolusi semula berkembang dalam biologi. Namun, para ahli biologi hingga kini masih harus bergulat dengan pikiran mereka, untuk menjawab pertanyaan yang dulu juga sudah menyibukkan Darwin: apa sebenarnya yang dimaksud dengan spesies?

Para ahli biologi juga sedang mencari hasil eksperimen yang bisa menjelaskan, bagaimana seleksi alam berlangsung pada level molekuler, dan bagaimana hal itu mempengaruhi perkembangan spesies-spesies baru (Scientific American, 12/2008).

Darwin meninggal dunia pada 19 April 1882, dan dimakamkan di Westminster Abbey, London, bersama ilmuwan Inggris terkemuka lain, seperti Sir Isaac Newton. (at)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: