Melawan Bullying

Agar anak tak bertindak bullying, orangtua harus memperkenalkan mereka pemahaman agama sejak dini.

Sudah hampir dua pekan Saeful uring-uringan. Kadang-kadang ia merasa malas untuk berangkat sekolah. Kalaupun sudah sampai sekolah, siswa kelas dua SMP di Jakarta ini, ingin lekas pulang ke rumah. Ibunda Saeful tak habis pikir. Padahal anaknya yang dulunya rajin semasa SD, kini terlihat malas berangkat sekolah. “Saya sering dimintai uang oleh kakak kelas. Jika tak memberi, saya akan dipukul,” aku Saeful kepada ibunya. Ternyata, bocah menginjak remaja itu telah mengalami tindakan bullying.

Istilah bullying dapat diartikan melecehkan atau melakukan tindak kekerasan, baik secara fisik ataupun verbal, kepada orang lain. Umumnya, tidakan ini dilakukan terhadap orang yang lebih kecil, lemah atau lebih muda.

Sejak kasus penganiayaan praja IPDN terkuak, definisi bullying makin terngiang di telinga masyarakat. Tapi kasus itu tak mewakili bullying secara keseluruhan. Kekerasan verbal, seperti memaki, menggosip, mengejek, dan memfitnah, juga merupakan wujud bullying.

Menurut Andrew Mellor dari Antibullying Network di University of Edinburgh, bullying terjadi ketika seseorang merasa teraniaya oleh tindakan orang lain. Baik berupa verbal, fisik, maupun mental. Dan orang tersebut takut bila perlakuan semacam itu akan terjadi lagi.

Penembakan mahasiswa di kampus Virginia Tech, Amerika Serikat, setahun lalu, merupakan contoh bullying yang paling ekstrem. Pelaku rupanya tertekan secara mental, dan melampiaskannya dengan menembak membabi buta ke arah teman-temannya. “Ia kemudian memilih mati untuk mengakhiri penderitaan hidupnya,” ujar Dr. Amy Huneck, ahli intervensi bullying.

Ketua Yayasan Sejiwa yang aktif memerangi bullying, Diena Haryana, menjelaskan bullying menjadi momok menyeramkan, karena dampaknya bukan hanya dapat dirasakan sekarang, namun juga bisa muncul beberapa tahun kemudian.

Contohnya, dari salah satu anak SMA yang Diena dampingi, ketika dibentak gurunya, ia langsung pingsan dan meracau tidak jelas. “Selidik punya selidik, ternyata ia pernah dibully dengan sangat keras oleh gurunya saat di SD dulu. Sampai sekarang, ia masih perlu pendampingan,” ujar Diena.

Di Indonesia, sejak lima tahun terakhir, gejala bullying di sekolah mulai menjadi sorotan media massa, meski aksi tersebut sesungguhnya sudah terjadi sejak puluhan tahun silam. Istilah yang digunakan juga beragam. Dalam bahasa pergaulan, sering ada istilah gencet-gencetan, perploncoan, atau juga senioritas.

Masih banyak bentuk bullying yang tak terlihat langsung, padahal dampaknya sangat serius. Misalnya, seorang siswa dikucilkan, difitnah, dilirik dengan pandangan sinis, atau dipalak, dan masih banyak lagi kekerasan lainnya. Sayangnya, hingga kini, banyak sekolah masih terkesan membiaran praktik-praktik bullying terjadi di lingkungan pendidikan mereka.

Bullying pun berimbas pada kekerasan yang melibatkan sekelompok pelajar. Sebulan lalu, muncul rekaman video amatir yang menayangkan adegan kekerasan yang dilakukan siswi SMA di Kalimantan Timur. Itu bukti bagaimana banyak sekolah di Indonesia belum bebas dari aksi bullying.

Menurut Diena, fenomena bullying ada di setiap sekolah, dengan intensitas beragam dan sudah terjadi sejak lama. Namun kini, intensitas kekerasannya semakin parah, hingga pada taraf penculikan atau menelan korban jiwa. “Budaya kekerasan di sekolah belum bisa diubah,” keluhnya.

Survei LSM Plan Indonesia dan Yayasan Sejiwa pada 2008 di tiga kota besar, yakni Jakarta, Surabaya dan Yogyakarta, menemukan sekitar 67% dari 1.500 pelajar yang dijadikan responden, pernah mengalami bullying di sekolahnya. Pelakunya mulai dari teman, kakak kelas, adik kelas, guru, hingga preman di sekitar sekolah. Akibatnya, sekolah bukan lagi menjadi tempat menyenangkan bagi siswa, tapi malah tempat yang menakutkan dan membuat trauma.

Bentuk-bentuk bullying yang ditemukan di sekolah cukup beragam, mulai dari dipukul, ditonjok, ditampar, dihina, lirikan mengejek, julukan negatif, dicolek, dicium paksa, hingga alat kelamin diraba. Lokasi kejadian, bisa berlangsung di toilet, kantin, halaman, pintu gerbang sekolah, bahkan di dalam ruang kelas.

Segera diatasi

Psikolog Ratna Juwita dari Universitas Indonesia, menerangkan tingkat keamanan sekolah dari bullying atau tindakan yang membuat seseorang merasa teraniaya dengan pelaku guru, sesama siswa, senior atau alumni, tergantung dengan kondisi interaksi guru dan murid di sekolah dan aura lingkungan sekolah.

Dari penelitian yang dilakukannya di tiga kota besar Indonesia untuk tingkat pendidikan SD, SMP dan SMA, sekolah dengan tingkat bullying terendah menunjukkan ada kaitan erat antara guru dengan siswanya, serta kondisi lingkungan sekolah yang mendukung.

“Yang rendah itu, di sekolahnya terdapat hubungan antara guru dan siswa yang sangat baik. Sekolahnya kecil dan nyaman, dalam arti hijau, anak-anak bebas main-main. Sekolah yang sangat biasa,” ujar Ratna.

Ratna menambahkan, bentuk bullying bisa terjadi di setiap tingkatan umur. Makin muda umur anak, biasanya bullying lebih terarah pada fisik. Makin bertambah usia, makin menuju bullying verbal dan psikologis. Contohnya, ketika ada seorang murid yang vokal bertanya, maka guru menjawab, “Al, kamu belum bayar uang sekolah saja malah bertanya-tanya,” tiru Ratna.

Lantas siapa yang dianggap sebagai pelaku bullying alias ‘pembuli’? Pembuli biasanya memiliki pandangan positif terhadap kekerasan, orangnya impulsif, dan memiliki kebutuhan untuk mendominasi orang lain. Pembuli, laki-laki maupun perempuan, sering populer dan menarik.

Bullying juga bisa dilakukan siapa saja. Namun berdasarkan penelitian yang dilakukan Direktur Eksekutif Lembaga Pratista Indonesia, Netti Lesmanawati, pada 150 siswa SD, SMP, dan SMA di dua kecamatan di Bogor, Jawa Barat, pelakunya lebih sering teman sekolah, kakak kelas, dan guru.

Menurut penelitian Netti, kekerasan yang terjadi di sekolah umumnya bersifat fisik, psikis, dan seksual. Anak SMA relatif lebih banyak mengalami kekerasan, dan umumnya bersifat verbal. Kondisi ini juga terjadi pada siswa SD dan SMP.

Reaksi siswa saat menerima kekerasan verbal dari guru atau bahkan kepala sekolah, kata Netti, umumnya adalah menyadari kesalahannya. “Tapi masih terdapat cukup banyak siswa yang merasa cuek (masa bodoh), diam, dan biasa saja, terhadap kekerasan yang diterimanya,” ujar Netti.

Ia mengingatkan, apabila bullying terus dibiarkan, pelakunya akan belajar bahwa tak ada risiko apapun bagi mereka untuk melakukan kekerasan, agresi, atau pengancaman. Ketika dewasa, lanjut Netti, pelaku berpotensi lebih besar untuk menjadi preman dan pelaku kriminal. “Ini akan membawa masalah pergaulan sosial,” jelasnya.

Barbara Coloroso, penulis buku “Stop Bullying!” (2007) menegaskan, tragedi penindasan kerap melibatkan tiga pemeran: penindas, tertindas, dan penonton. Ketiganya tak hanya akrab kita jumpai, tapi juga sering kita jalani. Namun, kita belum memiliki kesadaran, bahwa ketiga karakter itu sejatinya juga dimainkan dan dipelajari oleh anak-anak kita dalam keseharian mereka di rumah, sekolah, maupun tempat bermain.

Menurut Coloroso, untuk menanggulangi aksi bullying, orangtua mesti mengasah kepekaan mereka terhadap kepedihan yang dialami anak. Keluarga dan sekolah dapat mengeksplorasi cara membesarkan anak-anak yang berbudi, mandiri, dan mampu membela hak-hak mereka sendiri. Sambil di sisi lain menghormati hak dan kebutuhan sah orang lain, bertanggung jawab, sekaligus berani menentang ketidakadilan.

BOX

Pemahaman Agama

Untuk mencegah bullying, Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Prof. Dr. Arief Rachman, MPd menyarankan, agar orangtua memperkenalkan pemahaman agama sejak dini kepada anak. Anak juga mesti mendapat kesempatan untuk menjalani aktivitas yang menyenangkan. “Bullying bisa dihindari jika anak lekat dengan budaya,” ujar Arief.

Selain itu, ada beberapa hal yang harus juga diperhatikan: Pertama, setiap anak harus memiliki kemahiran menangkis celaan dengan santai, tanpa perlu terpancing emosi. Dengan begitu, pelaku bullying tak mendapatkan celah untuk meneruskan aksinya.

Kedua, bagi pelaku bullying, mereka kesadaran dan belajar berempati mereka harus dibangkitkan. Sebab, bullying paling sering terjadi lantaran pelakunya tak kuasa menerima perbedaan. Mereka puas jika merasa lebih berkuasa dan berhasil membuat korbannya tak berkutik.

Ketiga, bullying bukan sejatinya tergantung presepsi orang yang menjadi target. Meski begitu, bullying tak bisa didiamkan. Apalagi, bullying terbukti berpengaruh terhadap naiknya tingkat depresi, agresi, penurunan nilai akademis, dan tindakan bunuh diri pada orang dewasa maupun anak.

Keempat, bullying juga menurunkan skor hasil tes IQ dan kemampuan analisis siswa, serta menumbuhkan perasaan kurang berarti. Kepercayaan diri para korban yang mengalaminya, harus dibangkitkan dengan pendampingan, dan terus digali potensi dirinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: