Perilaku Agresif Akibat Game

Pagi hari pukul 11.30 di Columbine High School Littleton, Colorado, Amerika Serikat, suasana tampak tenang. Tak ada yang menyangka sesaat lagi akan terjadi peristiwa tragis. Dengan membabi buta, Eric Harris (18) dan Dylan Klebold (17), dua pelajar SMU itu menumpahkan timah panas dari senapan semi otomatis yang mereka bawa. 11 pelajar dan seorang guru meregang nyawa.

Kekerasan yang dilakukan dua pelajar itu menghentakkan dunia. Karena setelah diselidiki, ternyata mereka terobsesi kekerasan yang biasa mainkan dalam game, seperti Doom, Quake, dan Redneck Rampage.

Pengaruh buruk permainan berbau kekerasan ini tajam disorot para psikolog dari Departemen Psikologi University of Vienna, Austria. Setelah mereka teliti, terbukti ada pengaruh kuat permainan berbau kekerasan dengan perilaku para remaja.

Remaja yang sering bermain game kekerasan, cenderung akan menjadi lebih agresif dibanding yang bermain game tidak berisi kekerasan. Permainan yang berisi kekerasan, bukan hanya cenderung ditiru, tapi lingkungan permainan itu juga mudah membawa seseorang kepada mental reaktif atau imaginer agresif.

Pemain game berbau kekerasan, akan mudah memperlihatkan sifat agresif ketika terganggu, tidak puas, atau marah. “Video game yang berisi adegan kekerasan, ternyata mengajarkan tindak kekerasan,” ungkap Douglas Gentile pakar psikologi Universitas Gowa, New York.

Gentile melakukan studi kepada hampir 2.500 anak-anak muda. Ia menemukan, para pelajar yang bermain video game kekerasan secara bersama-sama, sesungguhnya tengah belajar cara menciptakan permusuhan dan perilaku kekerasan, lebih cepat enam bulan dari pertumbuhan biasa.

Tes hipotesis Gentile mempelajari tiga kelompok umur; 15, 8 dan 6 tahun, serta 1441 remaja dengan usia rata-rata 19 tahun. Penelitian ini menemukan, bahwa muatan kekerasan dalam video game diprediksi meningkatkan tindakan agresif.

Pemain game kekerasan dari kalangan siswa SD mengalami 73 persen resiko peningkatan agresifitas dibanding yang bermain game biasa. “Bermain video game kekerasan, bisa mengubah siswa menjadi memiliki sifat permusuhan,” tandas Gentile.

Namun bagi pakar psikologi Prof. Dr. Fawzia Aswin Hadis, dampak terburuk video game kekerasan pada remaja adalah kecenderungan mereka untuk meniru. Video games menurutnya menawarkan agresi lebih kuat dibandingkan tontonan televisi. Karena tampilannya kini jauh lebih hidup dan interaktif. “Dalam game kekerasa ada target, entah menjatuhkan atau mematikan lawan. Jika (dilakukan) bertahun-tahun, tayangan itu bisa menjadi rangsangan untuk berbuat hal serupa,” tandas pengajar di Fakultas Psikologi UI itu.

“Pada dasarnya, setiap manusia memiliki sifat agresif sejak lahir,” ungkap Fawzia. Sifat ini berguna untuk bertahan hidup. Tanpa agresifitas, anak tidak akan bereaksi jika mendapat rangsangan yang mengancamnya. Tapi, tanpa pengarahan yang baik, sifat itu bisa merusak.

Sementara bagi Psikolog Tetty Muharmi S.Psi M.Pd masa remaja adalah masa pertumbuhan yang amat rentan dan penuh gejolak. Hal yang sederhana, bisa menjadi riskan karenanya. Sedikit salah ucap, bisa-bisa diakhiri dengan adu jotos. Di usia yang tengah mengalami pubertas, lalu mereka didera konflik, mereka tak ubahnya akan menjadi singa yang sakit gigi, penuh amarah dan mengamuk.

Menurut Tetty, kemajuan teknologi tanpa dibarengi pemahaman yang baik pada remaja, tentu bisa berdampak negatif. “Kemajuan Iptek tanpa dibarengi kesiapan menerimanya, akan menjadi negatif bagi remaja,” tukasnya. (Ainurrahman)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: