Plus Minus Bermain Facebook

Dengan facebook kita bisa menjalin silaturahmi dengan teman baru maupun lama. Namun, aktivitas ini harus dikontrol agar tidak terjerembab menjadi narsis.

Raut muka Andi (26 tahun), karyawan di sebuah kantor media cetak tampak kelelahan. Sudah hampir lima jam ia tak beranjak dari tempat duduknya di pokok ruangan marketing tempatnya bekerja. Pekerjaan utamanya menghubungi klien-klien perusahaan agar mau memasang iklan di perusahaan medianya. Tapi sudah beberapa hari ini Andi terlihat enggan menyentuh gagang telepon, dan lebih asik berselancar ria di dunia maya, bermain facebook (FB).

FB baginya kini seperti teman setia. Tiada hari tanpa FB. Bangun tidur, di kantor, perjalanan pulang, kembali ke rumah, hingga sebelum tidur, jari tangannya tak pernah diam bermain FB. Di rumah ia meminjam laptop orangtuanya, di perjalanan ia gunakan handphone (Hp)nya yang memiliki fasilitas blackberry. Di kantor, tentunya ia pakai fasilitas komputer dan internet kantor yang 24 online.

Lain lagi Irwan (28), karyawan swasta yang mengaku sudah ketagihan FB sejak sebulan terakhir. Sehari tak membuka FB, ia mengaku jari tangannya seakan pegal-pegal. Kalau sudah keasyikan, bisa tiga sampai lima jam ia duduk di depan komputer. Pekerjaan di kantor sudah pasti ia sisihkan.

FB, situs web jaringan sosial yang diluncurkan sejak 2004 oleh Mark Zuckerberg, lulusan Universitas Harvard, Amerika Serikat, memang kini tengah mewabah. Banyak kemanjaan dari fitur yang diberikan situs ini.

Bersama FB, pengguna (user) bisa berkenalan dengan orang banyak, mengupload foto, mengomentari pernyataan orang lain, atau sekadar melihat foto-foto yang dipajang. Jaringan dengan beragam orang dari berbagai daerah juga bisa cepat diakses. Berdasarkan pengalaman Andi, melalui FB ia bisa bertemu teman-teman TK, SD hingga kuliahnya dulu.

Melihat wabah ini, psikolog Niken Ardiyanti mengomentari, tipikal orang Indonesia memang terkadang suka “kagetan”. Dulu booming SMS, e-mail, friendster, kini facebook. “Yang terakhir ini menjamur dari kelas anak-anak sampai manusia usia lanjut,” katanya. Euforia FB semakin membahana berkat kemajuan teknologi komunikasi Hp yang memanjakan pengguna dengan fasilitas blackberry. Sehingga kapan pun, di mana pun pengguna bisa membuka mengakses FB.

Di satu sisi, keberadaan FB bernilai positif. “FB menjadi media penghubung dengan sanak famili di berbagai kota, bahkan yang ada di berbagai negara,” ujar dosen Kajian Islam dan Psikologi Universitas Indonesia (UI) itu. Jaringan kerja pun semakin luas dan cepat diakses.

Tapi, lanjut lulusan Fakultas Psikologi UI ini, perlu diperhatikan dampak negatif dari FB. Karena sudah banyak pengguna yang ketagihan, sehingga pekerjaan utama di kantor terlantar. “Kalau ketahuan bos, tentu kondite Anda akan menjadi buruk,” ujar Niken. Lain halnya bila FB difungsikan untuk menjalin komunikasi dengan klien, urusan pekerjaan.

Niken melihat, demam FB maksimal hanya berlangsung pada dua minggu pertama. “Selama dua minggu aktivitas Anda mencari teman-teman, mengupload foto, selanjutnya tinggal memaintenance orang-orang yang mengundang kita,” imbuhnya.

Wabah

Apakah Anda terserang demam FB? Lantas bagaimana menghetikannya? Yang dapat menghentikan kebiasaan ini hanya diri sendiri. Saran Niken, tanyakan kepada diri sendiri tujuan membuka FB. Bila ingin mencari teman, memperluas jaringan, dan menjalin silaturahim dengan saudara, itu positif. “Content lain di FB yang tidak perlu, tak usah ditanggapi,” saran psikolog industri itu.

Karena, lanjut Niken, terkadang ada orang iseng bertanya hal-hal yang tidak perlu. Sekali Anda larut mengomentari pertanyaan yang tidak penting, Anda bisa terus larut berlanjut. Oleh karena itu, selama content yang ditawarkan tidak diperlukan, lebih baik abaikan.

Yang paling utama, harus disiplin waktu. Displinkan diri untuk membuka FB cukup satu jam sehari. Itu pun bukan saat jam kantor. Sebagai antisipasi, saat ini banyak perusahaan yang mengunci IT mereka pada jam kantor, agar karyawan tak bisa bebas jaringan internet yang akan mengganggu pekerjaan.

Saran Niken selanjutnya, jangan sembarang memilih teman. Klik add teman-teman yang dikenal, atau mereka yang berprospek terkait dengan pekerjaan. Kalau setiap orang diadd, FB bisa sesak. “Secara kuantitas terpenuhi. Tapi untuk apa kalau orang-orangnya tidak jelas?” komentarnya.

Di sisi lain FB yang harus disadari, kata Niken, adalah sebagai ajang narsisme. Mereka memajang foto-foto diri, keluarga, bahkan melaporkan setiap kegiatan yang dilakukan menit permenit. “Perlukah melakukan itu? Kembali kepada individu masing-masing,” ujar dia.

Bahaya Kesehatan

Laporan terbaru dari The Daily Mail menyebutkan, kecanduan situs jejaring sosial seperti FB bisa membahayakan kesehatan, karena memicu orang untuk mengisolasi diri. Meningkatnya pengisolasian diri dapat mengubah cara kerja gen, membingungkan respons kekebalan, level hormon, fungsi urat nadi, dan merusak performa mental.

Hal ini tentu bertolak belakang dengan tujuan dibentuknya situs-situs jejaring sosial. Di mana pengguna diiming-imingi akan menemukan teman lama atau berkomentar mengenai apa yang sedang terjadi pada rekan kita saat ini.

Suatu hubungan mulai menjadi kering, ketika para individunya tak lagi menghadiri pertemuan sosial (social gathering) dengan teman-teman, keluarga, atau masyarakat, akibat lebih memilih berlama-lama menatap komputer (atau ponsel). Ketika akhirnya berinteraksi dengan rekan-rekan, ia menjadi gelisah karena “berpisah” dari komputernya. Dan akhirnya ia tertarik ke dalam dunia artifisial.

Seseorang yang teman-teman utamanya adalah orang asing yang baru ditemui di Facebook, akan menemui kesulitan dalam berkomunikasi secara face to face. Perilaku ini dapat meningkatkan resiko kesehatan yang serius. Seperti kanker, stroke, penyakit jantung, dan dementia (kepikunan). Demikian menurut Dr Aric Sigman dalam The Biologist, jurnal yang dirilis oleh The Institute of Biology.

Boks

Remaja Narsis

Efek paling negatif dari kecanduan facebook adalah naiknya kadar narsis pada remaja, yang sedang mengalami masa peralihan dari anak-anak ke dewasa.

Istilah narsis berasal dari mitologi Yunani. Dikisahkan, seorang pemuda bernama Narcissus jatuh cinta pada bayangannya sendiri. Karena sebelumnya ia telah dikutuk Dewi yang cintanya ditolak. Gangguan kepribadian pengidap yang mencintai diri sendiri secara berlebihan, kemudian diistilahkan sebagai narcisstic personality disorder.

Menurut Jeffrey Nevdi dalam Psikologi Abnormal, penderita narsis memiliki rasa bangga atau keyakinan yang berlebihan terhadap diri mereka sendiri, dan kebutuhan yang ekstrim akan pemujaan. Mereka membesar-besarkan prestasi dan berharap orang lain menghujani pujian.

Pengidap narsistik bersifat self-absorbed dan kurang memiliki empati pada orang lain. Mitchell JJ dalam Natural Limitation Youth mengatakan, ada lima penyebab narsisme pada remaja. Pertama, kecenderungan remaja untuk mengharapkan perlakuan khusus. Hal ini terjadi karena sejak kecil penderita narsistik terlalu sering dipuji oleh keluarga dan lingkungan sekitar.

Penyebab lainnya, kurang empati dan sulit memberi kasih sayang. Faktor narsisme yang paling gawat adalah remaja, karena mereka belum memiliki kontrol moral yang kuat dan rasionalitas. Padahal narsisme adalah satu langkah menuju megalomania, penyakit psikologis yang diidap sang tokoh bengis Hitler. Pengidap megalomania sangat tak suka ditentang, dan merasa dirinya paling benar.

Orangtua sebaiknya mengontrol aktivitas online anaknya. Remaja boleh membuat jejaring di FB, asal bertujuan untuk menjalin silaturahmi dengan teman baru maupun lama. Mereka tak boleh menyebarkan data pribadi di jejaring itu. Sebaiknya, mereka diarahkan untuk aktif di berbagai bidang, misalnya mengaji, menggambar, atau olahraga. Sehingga mereka tak lagi kecanduan Facebook dan menjadi manusia narsis yang egois. (tata septayuda)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: