Menunggu Detik Pembaruan Mental (Edisi 1)

Tanggal 9 Juli 2009, akan menjadi momen terpenting tahun ini, ditandai akan digelarnya Pemilihan Presiden (Pilpres) kedua secara langsung. Banyak asa dan mimpi yang masih mengawang selama hampir lima tahun perubahan sistem Pilres yang benar-benar demokratis ini.

Yang paling besar adalah asa perubahan dan mimpi kemakmuran, sebagai bunga dari perubahan positif bangsa. Kesiapan bangsa ini untuk menjaring mimpi perubahan dalam berbagai aspek –yang berujung pada kemakmuran-, telah diuji selama masa lima tahun berjalan ini. Kasat tercuat, betapa masih banyak aspek tak tertangani –mungkin tak siap- untuk diubah. Mental dan moralitas bangsa utamanya.

Mental bangsa ini masih seperti “dulu-dulu saja”. Reformasi yang terjadi, hanya mengubah format dan formasi penguasa saja. Mentalitas anak bangsa masih seperti kemarin, terjajah, pemarah, dan suka keributan. Malah, reformasi telah membuka kedok bangsa ini yang nyata belum begitu siap dengan perubahan besar dan maju, yaitu bangsa yang bermental tinggi tanda keberadaban.

Reformasi masih hanya menjadi simbol bebasnya orang berbicara, tanpa dibarengi kesopanan etika. Andai dulu terjadi perubahan besar, niscaya malah kehancuran yang akan kita alami. Untungnya, perubahan itu hanya “simbolik”, dari suasana represif dengan mulut rakyat terbungkamkan, menjadi lepasnya kekang mulut untuk rakyat bebas berteriak.

Memang rakyat bisa berteriak, dan terus berteriak. Tapi tak lantas disikapi bijak oleh penguasa yang masih “itu-itu aja” dan bermental “anti-perubahan”. Mental borjuisme ini sudah saatnya dieliminasi dari pertiwi yang tengah membuncah menuntut perubahan.

Sebagai bangsa yang cenderung suka mengekor, tentunya perubahan yang diharapkan harus didahului dari perubahan mental para pemimpinnya. Dari koruptor menjadi fasilitor rakyat. Dari manipulator menjadi kontributor kesejahteraan rakyat.

Moralitas, sebagai paparan fisik dari mental yang membatin, menjadi cermin keberhasilan perubahan di masa mendatang, yang semoga pula menjadi kian positif. Sebab, tanpa perubahan berarti dalam mentalitas, tak akan ada perwujudan moralitas sejati yang berarti pula.

Apalagi, jika mentalitas para pemimpin hasil Pemilu legislatif lalu dan Pilpres mendatang, malah memberi wahana baru dementalisasi positif itu. Hasilnya pasti. Mentalitas negatif masih akan terus bersemayam dalam tubuh indah bangsa ini. //“Sû`ul khuluqi yudi”//. Kejahatan akhlak (moral) itu akan menular.

Karenanya, pemimpin baru harus membawa pembaruan ke arah yang lebih baik. Bukan hanya pembaruan, perubahan dan pembangunan fisik, tapi juga mentalitas anak bangsa yang lebih positif dan beradab. Semoga!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: