Pilih Waktu Tepat Berkampanye

Studi menyimpulkan, pemilihan waktu yang tepat dan isi pesan politik yang pas sangat mempengaruhi pemilih, terutama pemilih mengambang.

Perhatikan Barrack Obama saat berpidato. Ketika ia memulai kampanye kepresidenan Amerika Serikat, retorika pidatonya lebih menekankan konsep-konsep abstrak. Seperti, harapan (hope) dan perubahan (change). Suara pidato Obama juga lambat, terpatah-patah seakan kurang dahsyat dan bertenaga. Tapi ternyata pidato seperti itu membawanya menang menuju kursi kepresidenan.

Sebaliknya Hillary Clinton dan calon lainnya. Mereka sering mengungkapkan rencana-rencana rinci dan konkret dalam sejumlah topik besar, menyangkut Perang Iraq, hingga reformasi ekonomi, dan pelayanan kesehatan. Para komentator politik mengkritik Obama karena kurang spesifik dalam pidato-pidatonya. Namun ternyata pemilih tetap bereaksi terhadap pesannya.

Retorika pidato Obama, pemilihan waktu kampanye, dan pilihan pesannya, menarik perhatian sejumlah peneliti. Akshay Rao dari University of Minnesota, Hakkyun Kim (Concordia), dan Angela Lee (Northwestern), beberapa di antaranya. Hasil studi mereka yang dimuat Jurnal Riset Konsumen, memperlihatkan bahwa penentuan waktu dan isi pesan politik sangat mempengaruhi pemilih, terutama pemilih mengambang.

Mereka membuktikan, bahwa dalam kampanye politik, pemilihan waktu yang tepat hampir menjadi segala-galanya. Dalam suatu pemilihan, calon atau kandidat berkomunikasi dengan para pemilih dalam periode yang cukup lama, sebelum pemilih benar-benar menuju bilik suara. Apa yang dikatakan kandidat kepada para pemilih, tentu saja penting. Tetapi terbukti, kapan mereka mengatakannya juga mempengaruhi pilihan pemilih.

Menurut Rao, dengan cara yang sama, seorang pemilih yang menghadapi suatu pilihan di masa depan yang jauh, agaknya lebih tertarik, khususnya mengenai rencana-rencana dan kebijakan-kebijakan, serta lebih tertarik dengan gagasan-gagasan abstrak yang besar. Ketika pemilihan semakin dekat, para pemilih mulai memberikan perhatian kepada rincian konkret sikap kandidat tersebut.

“Ketika waktu pemilihan masih jauh, pemilih lebih suka berpikir mengenai terminologi-terminologi abstrak. Tapi begitu waktu pemilihan makin dekat, si pemilih lebih menaruh perhatian terhadap hal-hal detil,” terang Rao.

Para peneliti memperlihatkan dampak waktu ini dalam serangkaian studi. Mereka menemukan, hanya pemilih yang relatif kurang mendapatkan informasi dan orang-orang baru yang tak mengerti urusan politik, menjadi yang paling tunduk pada pengaruh ini. Tersirat dalam temuan Rao, bahwa orang-orang yang secara tipikal memutuskan memilih, atau pemilih di pertengahan, adalah yang paling peka terhadap jenis persuasi ini.

Menurut Rao, meski eksperimen ini terfokus pada konteks politik, argumentasi dasarnya berlaku sama untuk konteks-konteks yang lain. Seperti memutuskan perguruan tinggi apa yang akan dimasuki, mobil yang apa yang akan dibeli, atau di mana akan tinggal ketika seseorang pensiun.

Para peneliti menasehati, utamanya ketika siklus kampanye berlangsung lama dan banyaknya media, para juru kampanye hendaknya berpikir strategis, tentang pemilihan waktu kapan pesan-pesan politik kandidat harus disampaikan kepada sasaran pemilih tertentu, seperti pemilih mengambang. Rao mengamati, “Tepatnya pesan yang benar dengan pemilih yang benar di waktu yang tepat, selalu lebih penting bagi hasil suatu persaingan.” (ahmadie/sciencedaily)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: