Suramadu Gerbang Westernisasi?

Siti Namirah

Jembatan Suramadu merupakan proyek yang dibangun pemerintah, untuk pengembangan daerah Madura. Suramadu dibangun sebagai sarana untuk memudahkan arus lalu lintas, karena dengan adanya jembatan Suramadu, maka tidak perlu lagi penyeberangan dari Surabaya ke Madura atau dari Madura ke Surabaya menggunakan kapal feri. Sebab, kendaraan roda empat dan roda dua bisa melintas di jembatan sepanjang 5,438 km itu.

Tapi apakah dampak positif dan negatif yang akan ditimbulkan setelah Jembatan Suramadu dioperasikan, yang akan diresmikan penggunaannya oleh Presiden RI pada tanggal 10 Juni 2009 ini?

Yang pasti, gaya hidup masyarakat Madura sedikit banyak akan mengalami perubahan, karena otomatis budaya-budaya baru akan masuk dengan mudah dan cepat seiring dengan banyaknya orang-orang asing yang akan datang berkunjung ke tanah Madura ini.

Pada sisi lain, Jembatan suramadu akan memberikan income positif yaitu peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat Madura. Sebab, para investor akan dengan mudah menanamkan modalnya ke Madura dengan mendirikan usaha-usaha yang berskala besar. Dan tidak menutup kemungkinan di setiap sudut kota Madura akan dipenuhi dengan mall-mall yang akan mematikan pasar tradisional dan hotel-hotel yang berbintang. Semua itu, akan berdampak pula pada perilaku masyarakat Madura, yang kelak menjadi masyarakat yang konsumtif.

Bagaimana dengan para pemuda Madura akankah mereka mengikuti gaya hidup barat yang mengusung kebebasan antar-lawan jenis yang bertentangan dengan syariah dan adat Madura? Pertanyaan yang penuh dengan rasa kekawatiran di atas bukan tampa alasan. Apalagi kalau kita melihat kenyataan riil di lapangan. Sebagian pemuda Madura sudah terjebak pada pola kehidupan ala barat, walau masih pada tahap permulaan. Ditambah dengan sudah familiarnya pemuda Madura dengan teknologi modern, seperti HP, internet, dll.

Seperti di belahan dunia lainnya, pemuda Madura sudah mulai menikmati manisnya dunia modern. Tidak ada lagi jarak yang memisahkan diri mereka dengan gemerlap dunia global. Dengan sangat leluasa, pemuda Madura menikmati suguhan alat barat yang dengan mudah bisa dinikmati lewat televisi, parabola, internet, dan fasilitas teknologi lainnya.

Bisa jadi, dalam waktu yang tidak terlalu lama, pemuda Madura akan menjelma sosok yang menganggap dirinya memiliki “kebebasan”. Sosok yang boleh menikmati apa saja semau dirinya. Inilah kekhawatiran terbesar manakala pemuda Madura sudah kehilangan “ruh” kemaduraannya. Lantas, di mana harga diri mereka sebagai pemuda Madura diletakkan?

Karena itu, jembatan Madura, haruslah menjadi semacam “jembatan alternatif” yang tidak saja mengantarkan pemuda Madura secara fisik, melainkan juga secara non fisik. Di sinilah pentingnya ditanamkan sejak dini pendidikan keagamaan. Nilai-nilai agama harus menjadi landasan utama pembangunan Madura, termasuk pembangunan mental pemuda-pemudinya.

Oleh karena itu, ulama dan tokoh masyarakat Madura harus merapatkan barisan untuk menyelamatkan para generasi muda sebagai penerus bangsa. Adanya Suramadu haruslah mampu mengubah tatanan kehidupan masyarakat Madura, termasuk para pemudanya, ke arah yang lebih maju, bukan menjadi tempat transmigrasi baru budaya barat yang cenderung hedonis dan liberal.

Siti Namirah, mahasiswi IDIA Prenduan, Sumenep Madura.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: