Fokus Utama: Sepak Bola Vs Tahajud

Hadiatullah

Siapa remaja yang tidak sepak bola? Olahraga ini memang dipastikan paling banyak peminat dan penikmatnya, tidak saja remaja bahkan orang dewasa pun menggandrungi olahraga ini. Tengok saja misalnya, hiruk-pikuk final Liga Champions 28 Mei dini hari yang lalu. Di mana-mana diadakan nonton bareng. Masyarakat pun rela memicingkan matanya untuk begadang semalam suntuk. Yel yel pendukung klub Bercelona maupun Manchester United riuh-rendah terdengar sepanjang pertandingan. Teriakan ”hidup Messi” maupun ”hidup Ronaldo” terdengar lantang. Akhirnya, Barca keluar sebagai juara setelah menggebuk MU 2-0. Sepak bola telah menjadi sihir ampuh.

Sepak bola telah menjadi suatu hal yang sering diperbincangkan oleh kita. Sehingga secara tak sadar menimbulkan pertanyaan besar di benak kita tentang daya tarik bola, sampai-sampai ada julukan gila bola (gibol) atau bolamania, dll.

Kenyataan ini kontras ketika kita menengok suasana masjid di jam yang sama. Hampir semua masjid, dari pelosok hingga kota, terlihat sepi. Jamaah yang melakukan qiyamul lail bisa dihitung dengan jari. Atau bahkan masjid pada jam itu hanya dihuni oleh kaum tua. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan ketika nonton bareng final Liga Champions. Ribuan orang berbondong-bondong datang ke tanah lapang atau gedung-gedung megah. Mereka sangat antusias.

Dalam interaksi sosial, bola sering dikaitkan dengan kehidupan. Ia menjadi suatu perumpamaan bahwa hidup adalah ibarat permainan sepak bola. Sebaik sebuah tim bermain, maka sebaik itu pula permainan yang dihasilkan.

Bayangkan, andaikata antusiasme masyarakat melakukan qiyamul lail secara lebih khusus shalat tahajud, seperti saat mereka nonton bola, betapa damainya dunia.

Over Fanatisme

Asumsi yang berlebihan dalam memandang keberadaan ‘bola” akan menimbulkan pandangan sempit dan memandang sesuatu dari sisi “have fun” saja, mereka tidak lagi melihat keburukan dan efek negatif yang ditimbulkan oleh “bola” tersebut, yang pada akhirnya mengakibatkan dampak buruk pada psikis mereka. Hal ini terjadi karena semua kejelekan dan keburukan “bola” menjadi tidak tampak. Sebagaimana pepatah Arab, “Jika cinta memberdayakan jiwa, tak akan ada sesuatu yang nista.”

Umumnya, orang yang terlanjur cinta sepak bola, acapkali mempunyai emosional tinggi, rasa egoisme yang tak tekendali, serta tidak bisa menerima suatu kekalahan, sehingga menimbulkan upaya menggapai kemenangan dengan menghalalkan segala cara. Realita ini telah diindikasikan dari ekspresi dan tindakan para supporter bola yang begitu arogan membakar stadion sepak bola, membantai suporter lain, atau dengan menciderai pemain lain yang dilakukan oleh para pemain sepak bola.

Over fanatisme telah melemahkan kesadaran dan kekuatan individu dalam melakukan interaksi sosial, hal ini terlihat oleh hilangnya kejernihan berfikir dan memfilter suatu hal yang kelak memberi dampak negatif pada mereka. Sebagai contoh, ketika tayangan bola ditayangkan waktu dini hari, mereka bisa terbangun tanpa sadar dari tidur nyenyaknya dan dengan mudah menghilangkan rasa kantuk dalam dirinya. Tetapi ironis, apabila mereka dibangunkan waktu dini hari untuk bermunajat kepada Allah untuk “tahajud,” mereka tidak bisa menguasai rasa kantuknya, sehingga shalat yang dilakukan jauh dari kekhusukan.

Godaan di Balik Tahajud

Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Peribahasa di atas, seharusnya dijadikan pegangan hidup bagi masyarakat, terutama bagi seorang santri yang memang dididik untuk bersakit-sakit dahulu dan bersenang-senang kemudian. Peribahasa tersebut seolah mengatakan bahwa ada suatu nasihat bagi kita untuk mendapatkan sebuah kesuksesan.

Apa pedoman itu? Pedoman itu adalah usaha! Ketika kita sudah berasumsi bahwa usaha adalah hal penting, niscaya kita tidak akan pernah memperhatikan sebuah hasil, tapi kita jauh lebih mementingkan proses dalam mencapai tujuan tersebut. Sebuah proses akan berlangsung dengan baik jika kita bisa memakai rasionalitas berfikir dalam mencapai tujuan tersebut. Hal lain yang dibutuhkan adalah kesabaran dan kepekaan batin, sebab tantangan, cobaan dan ujian akan kita hadapi sebelum tercapainya sesuatu yang kita inginkan.

Apa hubungannya dengan tahajud? Tahajud bisa kita dimaknai sebagai sebuah proses dari usaha menggapai ridho Allah. Lebih dari itu, tahajud menawarkan sesuatu, yaitu posisi terhormat di mata Allah, di mata masyarakat, dan di mata alam. Tidak mudah memang untuk meraih posisi tersebut. Menjalankan shalat tahajud tidak seperti menonton sepak bola. Kalau menonton sepak bola orientasinya hanya meraih kenikmatan sesaat, maka melakukan shalat tahajud akan mendatangkan kenikmatan abadi yang tiada tara. Wajar, kalau dalam melaksanakan shalat tahajud banyak godaan. Sepertinya setan memasang perangkapnya di mana-mana untuk mengganggu orang yang sedang bertahajud. Untuk itu, sebelum melakukan shalat tahajud hendaknya kita meluruskan niat, menyucikan badan dengan wudhu’, dan memahami hakikat tahajud itu sendiri. Lakukanlah shalat tahajud dengan penuh antusias seperti halnya kita nonton bola.

Loyalitas Keimanan

Kehidupan yang serba modern dan canggih seperti sekarang ini, banyak melahirkan perasaan yang bertolak belakang dengan keyakinan kita, seperti perasaan narsis dan perasaan gengsi. Sifat-sifat ini sebenarnya akan merusak tatanan jiwa dan kepribadian seseorang, sehingga interaksi dengan masyarakat menjadi lemah.

Ironis, banyak remaja saat ini yang terjebak pada perasaan narsis dan gengsi di atas. Tidak sah rasanya hidup di dunia modern kalau tidak menyukai sepak bola. Ibarat sayur tanpa garam, maka hidup akan menjadi hambar tanpa sepak bola. Naudzubbillah. Sehingga kapan pun pertandingan sepak bola ditayangkan mereka berusaha untuk tidak ketinggalan.

Di sinilah loyalitas keimanan seseorang diuji. Sejauh mana ia konsisten menjalankan perintah agama tanpa harus kehilangan jiwa sosialnya, termasuk dalam hal ini kesenangannya terhadap sepak bola. Memang, tidak ada aturan agama yang mengharamkan nonton sepak bola. Namun, sebagai seorang muslim, kita mesti menyadari sepenuhnya bahwa nonton bola hanya untuk kepentingan sesaat. Tidak lebih. Berbeda dengan tahajud, ia adalah perintah langsung dari Allah. Karena itu, melakukannya secara konsisten menjadi satu kewajiban manakala kita berharap memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Mari kita bertahajud seperti halnya antusiasme nonton sepak bola. Penuh semangat.

Hadiatullah, santri kelas X SMA MTA Al-Amien Prenduan asal Pamekasan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: