Refleksi: Novel

Abd. Qadir Jailani

Sehabis makan siang aku duduk di pojok selatan masjid. Sambil menunggu azan Ashar, aku baca sebuah novel Atas Nama Cinta. Sebuah novel yang menceritakan kisah seorang pemuda yang diasuh oleh seorang pelacur dengan ayah angkatnya mantan pilot maskapai penerbangan. Novel ini begitu meyakinkan saya kalau cinta itu hanya milik Allah semata.

Tak lama kemudian salah seorang teman mengagetkanku dari belakang sambil berkata, “Uy, lagi baca apa nih serius amat. Sampai gak dengar panggilanku. Emang baca apa kamu?”

“Biasalah Bay, namanya juga pemuda, aku lagi baca novel Atas Nama Cinta lumayan untuk ngerefresh otak, soalnya sejak tadi pagi otakku lagi dipusingkan dengan pelajaran matematika yang sulitnya minta ampun. Makanya aku baca novel ini, kata teman-teman sih bagus.”

“Waduh Bintang hari gini masih baca novel Atas Nama Cinta. Coba baca novel ini: Tangisan di Tengah Gurun (The Daughters Of Juarez). Bagus lho. Novel terjemahan karya Teresa Rodriguez bersama Diana Montane dan Lisa Pulitizer novel terbitan Atria Books, New York, 2007 ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Rigakittindiya dan Hilmi Akmal. Novel ini lebih mengerikan daripada novel Stephen King. Novel ini memiliki banyak liku dan persimpangan daripada plot Agatha Christie, dan memiliki lebih banyak jumlah korban dibandingkan seri James Bond mana pun dan semua ini nyata.

“Novel ini dari tulis dari kisah nyata. Menceritakan tentang jerit dan tangis pilu para ibu yang kehilangan putrinya, rasa takut yang mencekam setiap perempuan di Juarez. Sebuah tempat yang terletak di selatan perbatasan Meksiko dengan Amerika Serikat. Selama lebih dari dua belas tahun kota Juarez menjadi pusat epidemi kejahatan mengerikan terhadap perempuan. Penculikan, pemerkosaan, mutilasi dan pembunuhan. Tak kurang dari 400 tubuh perempuan tak bernyawa telah ditemukan dan ratusan lainnya masih dinyatakan hilang.

“Haqqon (Beneran) novel ini bikin aku menemukan wahana baru tentang Meksiko, jangan cuma urusan cinta doang. Baca novel ini selain berisi tentang cerita sedih juga sejarah kelam yang dialami kota Juarez di Meksiko sana.”

Tanpa basa basi aku ambil novel dengan judul Tangisan di Tengah Gurun itu. Kesokan harinya di jam yang sama aku telah menamatkan novel yang tebalnya mencapai 396 halaman itu.

Aku baru menyadari bahwa hidup ini harus menyisakan sesuatu yang berharga dan hal itupun takkan pernah aku capai tanpa aku membaca buku karena buku sebaik-baiknya sahabat sepanjang zaman. Buku juga merupakan warisan paling berharga dibandingkan warisan lainnya karena buku menyimpan banyak fenomena yang tak ternilai harganya.

Abd. Qadir Jailani, santri kelas V TMI Putra Al-Amien Prenduan asal Lenteng.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: