Sahabat: Nur Hasanah Ahdy, Arti Sikap Ikhlas dan Positive Thinking

Bersemangat dan sederhana, dua kata ini dapat menggambarkan sosok sahabat kelahiran Bangkalan, 24 Januari 1990 ini. Bagaimana tidak, di tengah-tengah kesibukannya menghafal Al-Qur’an di MTA Putri Al-Amien Prenduan, Nur Hasanah Ahdy masih juga melakukan aktivitas pengembangan diri di bidang yang lain seperti drama, puisi dan tidak lupa pula dengan pengembangan bahasa Inggris. Terbukti pada tahun 2007 lalu sempat meraih juara harapan satu dalam lomba tafsir berbahasa Inggris pada MTQ yang diselenggarakan di Jawa Timur.

Awalnya Berniat Masuk Militer

Di tengah persaingan hidup yang semakin ketat, setiap orang mempersiapkan diri untuk melangkah lebih maju, begitu juga dengan Kak Has sapaan akrabnya. Setelah lulus dari SMP dia berencana masuk dunia militer dan bercita-cita menjadi polwan, salah seorang kakaknya langsung mendaftarkan namannya di sekolah tersebut seusai pengumunan kelulusan dari sekolah menengah pertama. Berbagai persiapan dia lakukan, mulai dari mencari info tentang dunia militer sampai pada tahap pengembangan fisik secara kecil-kecilan. Juga, persiapan mental.

Namun, menjelang dua hari sebelum ujian tes masuk, seorang kakaknya yang masih mengabdi di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan menawarkannya untuk masuk ke Ma’had Tahfidzil Qur’an. Saat itu juga fikirannya bergejolak, namun dia teringat dengan harapan orang tuanya yang menginginkan agar salah seorang generasinya ada yang menghafal Al-Qur’an. Perasaan bimbang hilang begitu saja.

Seperti halnya orang yang baru menerima hidayah dari Allah, perasaan haru pun menghinggapi relung jiwanya, bagaikan musim kemarau yang lenyap terganti oleh musim hujan. Kuncup-kuncup daun pun bermekaran dalam angan-angannya. Cita-citanya menjadi polwan telah terganti agar menjadi seorang yang ahli di bidang tafsir dan hadits. Suara teriakan komandan di lapangan tempur yang semula telah mengisi mimpi-mimpinya telah tergantikan oleh alunan ayat-ayat cinta dari Ilahi. “Alhamdulillah, syukur saya bisa masuk pesantren. Banyak hal yang saya dapatkan di sini,” tukasnya singkat.

Bersahabat dengan Tantangan

Sesampainya di pesantren dia berhadapan dengan berbagai macam tantangan terutama dengan budaya hidup mandiri. Dia juga dituntut agar pandai bergaul dengan teman-temannya yang berasal dari berbagai penjuru tanah air, dengan beragam budaya yang sangat beragam. Di sinilah dia menemukan tantangan itu, terutama bagaimana bisa beradaptasi dengan lingkungan baru. “Dari mereka saya belajar bagaimana menghargai perbedaan dan menciptakan keakraban,” tegasnya.

Karena memang dasar jiwanya yang suka mendapatkan tantangan baru, maka kehidupan di pesantren ia lalui dengan penuh kegembiraan dan keseriusan. Ditanya tentang resepnya, dia menjawab, “Tidak pilih kasih dalam berteman dan pandai mengatur waktu,” ungkap peraih Juara I lomba membaca kitab kuning ini dengan semangat berapi-api

Ikhlas dan Positive Thinking

Remaja. Adalah kata yang indah, sebuah kata yang mengingakan kita pada masa yang penuh dengan pergolakan dan problematika hidup. Dikatakan remaja, karena ia telah melewati usia anak-anak dan akan memasuki usia dewasa. Oleh karena itu, usia remaja disebut sebagai masa-masa transisi yang penuh dengan ketidaktentuan dan ketidakpastian. Pada masa-masa ini, seorang remaja dihadapkan kepada godaan atau tarikan-tarikan perbuatan yang serba tidak menentu dan tidak jelas.

Sebagai anak terakhir dari enam bersaudara, putri dari pasangan bapak H. Moh. Ahdy dan Siti Sutiyah ini mengakui bahwa masa-masa remaja merupakan masa yang sangat membutuhkan media dalam mencurahkan segenap kreativitas agar tidak terjerumus pada hal-hal yang negatif dan juga harus memiliki figur yang cocok untuk dijadikan teladan. “Pokoknya, kita harus selalu kreatif. Juga, harus ada figur yang bisa diteladani. Dengan demikian, kita bisa terus berkarya dan optimis menjalani hidup,” ungkap pengagum ahli jiwa Prof. Dr. Zakiyah Drajat ini.

Kunci lainnya yang wajib dimiliki oleh setiap remaja adalah keikhlasan dan positive thinking. “Keikhlasan berarti upaya sekuat tenaga memberikan yang terbaik dan positive thinking berarti upaya menyikapi secara positif setiap fenomena yang terjadi,” urai siswi kelas akhir MTA Putri Al-Amien Prenduan.

Menurut Kak Nur, tanpa keikhlasan dan positive thinking sulit rasanya mencapai prestasi gemilang dalam berbagai bidang yang menjadi minatnya. Ini pula yang mengantar Kak Nur selalu nankring dalam daftar nominasi the best Al-Qu’ran tiap semester.

Selain itu, menurut Kak Nur, kunci kesuksesan adalah bagaimana menghormati para guru yang telah mendidik siang-malam, seperti yang dialaminya di pesantren. “Para kiai dan nyai inilah yang mampu menggantikan peran sementara kedua orang tua. Saya yakin mereka sangat ikhlas. Karena itu, kita juga harus ikhlas kepada setiap guru,” pesannya.

Berbakti kepada Orang Tua

Orang tua terkenal dengan kasihnya yang tanpa mengharap balas jasa, kasih yang tak berujung, sayang yang tak bertepi sepanjang hayatnya. Hal itu, dapat dirasakan ketika seorang anak mengerti makna pelajaran berharga dari orang tua. Tergantung sang anak, apakah akan meneruskan atau tidak perjuangan orang-tua yang sudah jerih payah memperjuangkan anaknya tanpa pamrih. Orang tua akan mengharap di masa mendatang sang anak dapat menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa, walaupun akhirnya orang tua tidak menyaksikan secara langsung dan tidak ikut merasakan perjuangan sang anak selanjutnya.

Begitu pula semua prestasi yang diraih Kak Nur. Ini merupakan barokah dari doa orang tuanya. Dan yang paling dia syukuri dari orang tuanya adalah semangat orang tuanya yang tidak bosan-bosan menyekolahkan semua putra putrinya di pondok pesantren Al-Amien Prenduan. Berkat motivasi ingin membahagiakan orang tua inilah yang mendorongnnya agar selalu menjadi yang terbaik di segala bidang. “Bukankah bercita-cita itu gratis?” ungkapnya sambil tersenyum simpul.

Selain menghafal Al-Qur’an, dia juga menghafal amtsilah tashrifiyah, dan sempat meraih juara dua saat diadakan lomba tashrifan. Wah, gak kebayang kan, bagitu aktifnya sahabat kita ini? Ditanya soal cobaan dalam proses belajarnya, peraih juara harapan I lomba KIR (Karya Ilmiah Remaja) ini mengatakan bahwa rasa malas merupakan kendala yang paling besar. Untuk mengatasinya tidak lupa dia berbagi dengan rekan-rekan seangkatannya, guru-guru, dan para nyai yang siap melayaninya secara full time. “Saya sangat bersyukur, punya guru-guru yang mampu menggantikan kehadiran orang tua di rumah. Kepada mereka, saya ucapkan terima kasih,” ucapnya.

El-Wafie, Mi-Dee,& V-fa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: