Cerpen: Doaku Berakhir di Pulau Garam

Bintu Syai

Dengan berat hati kututup telepon dari ibu di Madura. Lagi-lagi ibu menanyakan jawabanku atas lamaran seorang pemuda yang sudah kukenal sejak kecil. Namanya Ismail, teman sepermainanku dulu. Sekarang dia telah menyandang gelar Lc di belakang namanya, lebih-lebih saat ini dia dikenal sebagai pemuda yang bagus ibadah dan baik akhlaqnya.

Seperti biasa, ibu memulai pembicaraan di telepon dengan menanyakan perihal pekerjaanku sebagai seorang desainer di sebuah butik muslimah yang cukup ternama di Bandung, sebagai tambahan biaya adikku yang masih duduk di bangku SMP. Aku harus bekerja, sebab ayah sudah sakit-saitan dan tidak mungkin untuk bekerja seperti sedia kala saat ia masih muda.

Setelah puas menanyakan tentang pekerjaan, barulah dia menanyakan sesuatu hal yang sebenarnya risih aku dengar. Pertanyaan tentang kapan aku akan memberi ibu cucu, dan terakhir meminta jawabanku atas lamaran Ismail yang telah datang tiga kali dan tiga kali juga kutolak.

“Jadi perempuan jangan terlalu banyak pilah-pilih, yang penting laki-laki itu serius sama kamu, itu saja sudah cukup untuk dijadikan suami.” Masih terngiang kata-kata ibu di telingaku. Ah ibu, bukannya aku terlalu memilih-milih, hanya saja saat ini aku masih menunggu, menunggu seseorang yang telah lama menghuni hatiku, sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di Bandung untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi. Walaupun dia tak pernah tahu tentang isi hatiku, tapi aku akan tetap menunggu sampai aku yakin bahwa dia sudah ada yang memiliki.

Kupandangi sebuah foto yang ada di meja kerjaku, foto waktu aku mendaki ke gunung Merapi dulu, foto bersama teman-temanku yang salah satunya adalah dia. Namanya Iman, teman pertamaku di kampus sekaligus penghuni pertama hatiku sejak pertemuan itu. Saat ini dia telah menjadi seorang direktur di sebuah perusahaan, warisan dari ayahnya yang berada tepat di depan butik tempatku bekerja saat ini.

Iman tetap lelaki yang kukenal dulu, sifatnya tak pernah berubah walaupun kaya, ia tetap baik, humoris, dan rendah hati. Itulah yang semakin membuat aku jatuh hati padanya. Dan hubungan persahabatan kami pun semakin dekat, walaupun aku tak pernah menangkap sinyal-sinyal bahwa hubungan kami akan berlanjut ke jenjang yang kuinginkan, tapi kedekatan ini sudah lebih dari cukup. Setidaknya aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

****

“Lia, ada temannya tuh di depan.” Tiba-tiba mbak Rani menghampiriku dengan senyum dikulum.

“Siapa Mbak?” tanyaku tanpa mengalihkan perhatianku dari seberkas kertas yang berisi sketsa rancangan baju muslimah terbaruku.

“Iman!” Jawab mbak Rani sambil menepuk bahuku lembut. Seketika itu juga langsung kuberanjak untuk menemuinya.

“Siang Lia….” sapanya ketika melihatku sambil tersenyum. Aku membalas senyumnya sepintas dan cepat-cepat menundukkan pandanganku, tak ingin hatiku semakin ternodai.

“Ada apa Man?” tanyaku langsung.

“Aku ingin mengajakmu makan siang,” jawabnya singkat.

“Di mana?” kejarku.

“Di kafe depan kantorku.” Aku tersenyum mendengar jawabannya. Seakan mengerti pikiranku, ia tersenyum.

“Aku tidak mungkinlah mengajakmu ke tempat yang bisa menimbulkan fitnah. Aku memilih tempat itu, karena kalau siang-siang begini biasanya ramai. Banyak karyawanku yang memilih makan di sana, jadi kau tak usah canggung,” terangnya.

“Kau muslimah yang baik Lia,” bisiknya sebelum kami menuju kafe yang dia maksud. Aku hanya tersenyum mendengar pengakuannya.

****

“Cerita tanah kelahiranmu dong!” Suaranya terdengar begitu tertekan, walaupun aku tahu sebenarnya Iman ingin mencairkan suasana yang sedari tadi sama sekali tidak ada kalimat terucap.

“Maksud kamu Madura?” aku meyakinkan dengan tetap menundukkan pandangan.

“Iya, emangnya kamu lahir di dua tempat?” candanya. Aku tersenyum malu mendengar gurauan yang begitu khas.

“Madura itu jauh Man, desa lagi, cuacanya panas. Tapi masyarakatnya ramah-ramah. Rata-rata pekerjaannya petani, kalau nggak ya nelayan. Tapi ada juga yang pedagang, ada juga yang bekerja di tambak garam.”

“Garam?” ulangnya.

“Iya, garam yang kamu makan setiap hari itu asal mulanya air laut, lalu di proses sampai jadi butiran-butiran halus seperti yang kamu tahu itu,” jelasku sambil membenahi kerudung putihku.

“Bagaimana prosesnya?” ternyata dia cukup penasaran juga.

“Makanya sekali-kali liburan ke Madura kek!” tawarku untuk yang kesekian kalinya dan aku yakin pasti jawabannya tidak akan berubah seperti biasanya.

“Aku akan ke Maduramu kalau aku telah manemukan sesuatu yang menarik di sana,” benar dugaanku, jawabannya masih saja seperti yang dulu.

“Tidak ada sesuatu yang istimewa di sana, namanya juga pulau kecil Man,” jawabku sambil meminum air putih untuuk sekedar menghilangkan rasa grogiku.

“Sesuatu itu pasti ada  sisi istimewanya, hanya saja terkadang tidak kita sadari. Siapa tahu aku menemukan seorang bidadari disana,” timpalnya santai sambil tertawa lirih, membuatku merasa agak kikuk, untunglah aku bisa menguasai keadaan.

“Mimpi kali ye….” balasku yang disambut dengan tawa riangnya yang semakin membuatku ingin tersenyum.

Seandainya saja akulah bidadari yang kamu maksud itu.Ya… seandainya saja.

****

Bulan Ramadhan tinggal dua hari lagi. Aku telah mempersiapkan diriku untuk mudik ke Madura, tidak lupa oleh-oleh juga aku persiapkan untuk keluargaku di sana. Tak sabar rasanya ingin segera bertemu ibu dan ayah. Ada sebersit rasa keharuan yang menyeruak tatkala mengingat mereka. Ah…Betapa rindunya aku pada Madura.

Tapi tak kupungkiri, ada sebersit rasa sedih di hatiku bila mengingat bahwa harus ada yang kutinggalkan di sini, karena tak mungkin aku membawanya serta ke Madura. Ya, tak mungkin aku membawa Iman. Aku pasti akan selalu merindukannya.

Tanpa kusadari setetes air mata jatuh membasahi mukenahku. Malam ini aku bersujud dalam tahajjudku. Aku merasa kerdil dalam kuasa-Nya. Segera aku memohon ampunan pada-Nya setelah kusadari bahwa selama ini aku telah mengagumi ciptaan-Nya tanpa izin dan tanpa bisa kucegah. Hamba memang lemah ya Allah….

Bandung lengang malam ini.

****

Aku menarik nafas panjang sambil meletakkan setumpuk kertas yang telah berisi sketsa rancangan baju muslimah terbaru. Pekerjaanku selesai sudah. Kulangkahkan kakiku menuju kafe yang terletak di depan kantor Iman. Aku habiskan penat di sana.

“Assalamu’alaikum….” Kudengar seseorang mengucapkan salam tepat di depanku. Suara yang telah lama kukenal.

“Wa’alaikumus Salam…,” jawabku tanpa mengalihkan sedikitpun perhatianku dari buku yang tengah aku pegang, walaupun konsentrasiku tak lagi terfokus pada buku itu.

“Serius amat sih Neng?” godanya sambil duduk di depanku tanpa kupersilahkan.

“Bagaimana dengan kabar anda direktur muda?” balasku sambil mulai memperhatikannya dan menyimpan kembali buku itu ke dalam tas.

“Jadi nih yang mau mudik?” tanyanya.

“Iya,” jawabku pendek.

“Kapan?”

“Besok.”

“Sudah beli oleh-oleh buat keluarga di Madura?” aku mengangguk.

“Sudah makan siang?” tanyanya lagi. Aku menggeleng.

“Mas….” Dia memanggil pelayan untuk memesan makan siang untuk kami.

Siang ini kami kembali makan siang bersama. Mungkin akan menjadi makan siang terakhirku bersamanya. Bukankah ajal tidak ada yang tahu datangnya kapan, walaupun aku tak pernah inginkan itu.

****

“Hati-hati di jalan ya…!” Pesan mbak Rani padaku sambil mencium pipi kanan dan kiriku.

“Makasih Mbak,” jawabku pelan.

“Sudah pamit pada pangeranmu?” goda mbak Rani.

“Pangeran Lia yang mana Mbak?” tanyaku sambil tertawa lirih.

“Siapa lagi kalau bukan si direktur muda itu.”

“Dia sibuk mbak, Lia nggak mau ganggu.”

“Sekedar kirim SMS kan nggak ada salahnya,” saran mbak Rani lembut. Selama ini hanya mbak Rani yang mengerti akan rasaku pada Iman, jadi dia tahu betul bagaimana perasaanku saat ini.

“Gak usah Mbak, makasih udah ngertiin Lia,” tolakku halus.

“Sabar ya, kalau jodoh nggak akan ke mana kok!” hibur mbak Rani. Aku tersenyum simpul mendengar kata-katanya.

Ya benar, kalau jodoh nggak akan ke mana-kemana. Serahkan semuanya pada Allah. Pasti yang terbaik selalu untuk hamba-Nya.

****

Tak terasa dua puluh delapan hari sudah aku menghabiskan masa-masa liburanku di Madura, dan selama itu pula tak pernah sekalipun aku berhubungan dengan Iman, walaupun hanya sekedar SMS.

Aku menunggu adzan maghrib dengan duduk-duduk di teras. Memandangi bocah-bocah yang sedang bermain angklek di halaman rumah. Betapa indahnya hidup mereka. Tanpa sedikitpun beban yang singgah di pikiran mereka.

“Sedang apa, Nak?” tiba-tiba ibu telah duduk di sampingku.

“Nggak ada, Bu,” jawabku sambil melabuhkan kepalaku di pangkuannya.

“Tidak mau main ke rumah Fatim tah?” tanya ibu menyebutkan nama salah seorang temanku waktu SMP dulu yang kudengar baru melahirkan.

“Lain kali saja, Bu,” tolakku.

“Kapan kamu akan menikah dan memberi ibu cucu seperti si Fatimah itu, Lia?” Pertanyaan yang selalu kutakutkan itu akhirnya harus kudengar lagi sore ini.

“Suami seperti apa yang kamu mau?”

“Kayak Iman, Bu,” jawabku dalan hati.

Adzan maghrib mengakhiri perbincanganku bersama ibu sore ini. Kutahu ibu agak kesal karena pertanyaannya dari tadi tak satupun aku jawab. Mafkan Lia Bu.

****

Pagi ini takbir menggema. Lebaran telah tiba. Betapa banyak dosa yang telah aku perbuat dan sekarang saatnyalah aku menghapusnya. Semoga Allah mangampuniku. Amien….

Selamat hari lebaran Man, maaf bila selama ini aku mempunyai salah padamu.

****

Aku keluar dari kamarku ketika kudengar suara ayah memanggil dari ruang tengah, aku masih memakai mukenah saat aku keluar, karena baru saja aku selesai melaksanakan shalat maghrib.

“Ada apa Ayah?” tanyaku sambil duduk di kursi depan ibu.

“Sebelumnya ayah minta maaf Lia. Tadi pagi sewaktu kamu ke rumah Fatim, keluarga Ismail datang lagi ke sini. Maksud mereka tetap sama, yaitu melamar kamu! Sekarang bagaimana denganmu, Nak? Ayah tak ingin memaksa, hanya saja ayah tidak mengerti denganmu Nak, kau selalu saja menolaknya. Apa kau sudah punya yang lain? Ayah malu ke keluarga Ismail. Selalu saja mereka menerima kekecewaan dari keluarga kita, tapi mereka tetap saja baik. Ayah tidak memaksa, hanya saja tolong jangan kau buat ayah dan ibumu ini malu untuk yang kesekian kalinya.”

“Baiklah, ayah kasih kamu waktu sampai lebaran ketupat, kalau sampai hari itu kamu belum juga mempunyai calon, mungkin Ismail memang yang terbaik untukmu. Maaf kalau ayah sedikit memaksa, tapi ayah tidak mau kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu sampai-sampai kamu lupa dengan umurmu yang sebentar lagi akan menginjak kepala tiga.” Ayah berlalu dengan menyimpan sejuta kekesalannya padaku. Ada perih yang merayap di hati bila mengingat perkataan ayah barusan.

“Yang sabar ya Nak!” ujar ibu sambil mengusap punggungku penuh sayang. Aku tumpahkan semua tangis dan kesedihanku di pelukannya.

****

“Aku hanya ingin dia yang terbaik untukku ya Allah. Maaf  bila aku terlalu lancang, tapi aku sudah terlalu lelah untuk mengharapkannya. Dua hari lagi aku harus memutuskan. Bila memang dia untukku berilah aku pertanda, begitu pula bila dia tak bisa lagi kuharapkan. Bantu aku ya Allah… Amien….” Aku larut dalam sujud subuhku ini. Kutumpahkan segala kegundahanku, segala bebanku kepada Allah. Tuhan penguasa alam beserta isinya.

“Tok…tok…tok,” tiba-tiba kudengar ada yang mengetuk pintu depan. Siapa gerangan subuh-subuh begini yang hendak bertamu. Dengan rasa penasaran aku keluar kamar dengan masih menggunakan mukenah. Kulihat ayah dan ibu juga hendak keluar kamar.

Kusibak sedikit kelambu di ruang tamu untuk melihat siapa gerangan tamu yang tidak tahu adat sopan santun bertamu itu. Malingkah? Orang baik-baikkah? Sayang, hanya bayangannya saja yang terlihat. Dengan membaca Bismillah perlahan kubuka pintu.

Aku terpaku melihat orang yang tengah berdiri di depanku saat ini. Penampilannya begitu berantakan, tidak seperti direktur muda yang selama ini kukenal. Rambutnya acak-acakan, dasinya berantakan, begitu pula dengan kemeja putihnya, sedangkan jasnya tak kulihat lagi di tubuhnya.

“Iman?” aku tergeragap melihat sosoknya kembali hadir di depanku. Berjuta rasa berkecamuk dalan hatiku. Ada rasa marah, kesal karena selama ini dia menghilang begitu saja dan rasa rindu yang mengalahi segalanya.

“Lia?” iman melihatku seperti orang yang kebingungan. Sepertinya dia ingin mengucapkan sesuatu padaku tapi dia hanya terpaku melihatku. Kudengar langkah kaki ayah dan ibu menyusulku.

“Lia, maafkan aku selama ini tidak pernah memberimu kabar, aku hanya takut mengganggu acara liburanmu. Akhir-akhir ini aku selalu saja dilanda kebingungan. Kebingungan yang tak pernah aku rasakan. Sampai akhirnya kutemukan jawabannya dan langsung kuputuskan untuk menyusulmu tanpa persiapan apapun. Bahkah untuk sampai ke rumahmu pun aku masih harus bertanya pada setiap orang yang kutemui di jalan.” Ada perasaan kasihan yang menyusup di dadaku ketika mendengar ceritanya.

“Ada apa Man, sampai begitu kau paksakan untuk menyusulku ke Madura?” Akhirnya keluar juga suaraku yang sedari tadi tertahan di tenggorokan.

“Lia, aku butuh bantuanmu. Bukankah dulu sudah pernah kukatakan padamu bahwa aku akan ke Madura bila ada sesuatu yang istimewa pada Maduramu ini, dan sekarang aku telah menemukannya. Kurasa kau pasti mengenalnya.”

Deg! Satu pukulan telak tepat mengenai ulu hatiku. Apa yang telah dia katakan barusan? Sesuatu yang istimewa? Seorang bidadarikah yang dia maksud itu? Dan dia rasa aku mengenalnya? Ya Allah…inikah jawabanmu atas doa-doaku? Inikah akhir dari segala penantianku? Kurasakan panas menjalari hati dan mataku.

“Aku telah menemukan bidadariku di sini dan apakah kau yakin dia akan menerimaku?” Demi menyenangkan hatinya kuanggukkan sedikit kepalaku walaupun sangat terpaksa.

“Bidadari itu adalah dirimu, bidadari yang hanya ada di Maduramu!”

Aku tak mampu lagi berkata-kata. Seketika kurasakan seluruh persendianku luruh bersama do’a yang selama ini tak pernah lupa untuk kupanjatkan. Ya Allah inikah jawaban terakhirMu atas doa-doaku selama ini?

Kulihat matahari mulai menampakan senyumnya.

Fabiayyi alaa’i rabbikumaa tukadzdzibaan. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Al-Amien, 18 Juli 2008

Bintu Syai, santriwati TMI Putri Al-Amien Prenduan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: