Refleksi: Sumber dan Muara Fitri

Nurcholish Majid

Suatu ketika seseorang bertanya tentang sumber dan muara. Ia percaya bahwa sumber dan muara adalah dua hal yang selalu bersandingan dengan dimensi yang berbeda. Mungkin karena itulah Tagore menulis sajaknya dengan imajinasi dan substansi yang kuat.

“Mereka membangun rumah dari pasir, mereka rajut kapal dengan daun kering, dan dengan tersenyum mereka apungkan ke laut dalam,” tulis Tagore dalam sajaknya. Kalimat Tagore tersebut tidak hanya kuat dalam kata-kata. Tapi lebih dari itu, Tagore seolah ingin menjawab pertanyaan seseorang tentang sumber dan muara yang ditanyakannya.

Tidak diketahui mana yang sumber dan mana yang muara. Hanya saja semua orang meyakini bahwa sumber adalah penghasil sesuatu, sedang muara adalah akhir dari sesuatu yang dihasilkan. Namun demikian, kita sangat paham betul bahwa setiap kita menanam jagung, maka yang akan tumbuh dan berbuah adalah jenis jagung. Sumber dan muara adalah suatu kesinambungan.

Lantas saya teringat kembali, bahwa yang ditanyakan oleh seseorang tentang sumber dan muara bukanlah definisi dari sumber dan muara. Yang ditanya adalah makna yang terkandung dalam ayat kauniyah tersebut. Kalau begitu, tahulah saya bahwa untuk menjawab pertanyaan di atas bukan dengan menunjukkan muara sungai, sumber air dan lain sebagainya. Namun yang lebih utama adalah memberi makna universal dari sumber dan muara.

Berbicara sumber dan muara, ada hadiah spesial dari Allah untuk umat Islam di bulan Ramadan. Ia bernama penjinakan hawa nafsu, atau lebih tepatnya self control sebagai proses pemurnian sumber.

Nah jika demikian, hubungan Ramadan dengan sumber sangatlah kuat. Ramadan diimajinasikan sebagai media penjinakan hawa nafsu yang suatu saat diharapkan menjadi penghasil muslim sejati. Dalam Ramadan, muslim yang berpuasa selalu dituntut untuk selalu “doing positif”. Dalam artian tidak dibenarkan jika ada seorang muslim lantas menyakiti orang lain, sedang ia berpuasa.

Begitulah Ramadan diimajinasikan sebagai media pemurni sumber, manusia yang menjadi pusat dari segala keteraturan di dunia dengan perantara “kun fayakun” Allah harus suci dahulu agar menjadi sumber yang baik. Ketika sumber itu menjadi bersih dan suci, diharapkan ada kesalehan sosial melekat pada diri masing-masing manusia.

Kembali pada sajak Tagore, “membangun rumah dari pasir” tentu bukan suatu pekerjaan maksimal. Rumah dari pasir tidak akan bertahan lebih lama dari rumah yang dibangun atas campuran semen dan batu secara maksimal.

Begitu juga dengan “merajut kapal dengan daun kering”, manusia yang merajut kapal dengan daun kering tentu tidak akan menghasilkan apa-apa. Antara “membangun rumah dari pasir” dan “merajut kapal dengan daun kering” ada kesamaan pesan bahwa untuk sesuatu yang baik, maka membutuhkan tenaga dan usaha yang baik pula.

Dari itu, sumber diharapkan terlebih dahulu baik agar menghasilkan muara yang baik. Setidaknya ini mungkin jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan oleh seseorang tadi. Bahwa sumber dan muara memiliki relevansi yang kuat. Seperti Ramadan yang selalu menghasilkan pribadi suci di hari yang fitri. Semoga kita sudah menjadi sumber yang positif.

Nurcholish Majid, mahasiswa Jurusan Filsafat IDIA Prenduan asal Masalembu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: