Fokus Utama: BENCANA ALAM DAN REDINTEGRASI AMAL

Oleh: Abd. Qadir Jailani dan Siti Namirah*

Berbagai problema hidup negeri ini, sebenarnya merupakan sebuah tolak-ukur seberapa besar tingkat keimanan dan ketaqwaan kita terhadap Allah dan Rasul-Nya. Apabila tingkat ketaqwaan dan keimanan kita bisa kita kendalikan dengan sebaik-baknya, maka berbagai persoalan hidup akan bermakna dan penuh hikmah, sehingga manusia bisa hidup dengan kebahagiaan yang sejati.

Sudut pandang manusia dalam berbagai macam musibah seringkali hanya berdasarkan logika berfikir yang bersifat rasional, sehingga seringkali hal-hal transedental terlupakan. Seperti halnya krisis berkepanjangan yang menimbulkan berbagai macam dampak negatif dalam ranah kehidupan bermasyarakat. Selalu yang dipotret, adalah sisi sistem. Sehingga sisi moral dalam menjalankan sesuatu dilupakan.

Begitu juga dengan terjadinya banyak bencana alam berupa tsunami, letusan gunung berapi, banjir, gempa bumi, kekeringan, kelaparan dan lain-lain, dianggap sebagai fenomena alam yang bisa dijelaskan secara rasional sebab-sebabnya. Sehingga, solusi-solusi yang diberikan tidak mengarah pada penghilangan sebab-sebab utama yang bersifat transedental. Seperti kemaksiatan umat manusia kepada Allah SWT, berupa prostitusi, korupsi, buaya hedon dan lain sebagainya.

Padahal jika ditilik dari sudut pandang Islam, prilaku atau pandangan manusia yang hanya mengedepankan ideologi berfikir saja—tanpa memandang dari sudut pandang Islam—maka pandangan tersebut terhadap suatu persoalan akan mustahil  benar. Oleh karena itu, perlu kiranya memandang suatu persoalan hidup berdasar pada pandangan Islam, baru kemudian dipadukan dengan ideologi berfikir manusia sehingga nantinya bisa menjadi suatu kesatuan yang utuh berupa dakwah.

PENYEBAB TERJADINYA BENCANA

Sebagai umat muslim yang bepegang teguh terhadap Al-Qur’an dan Al-Hadits, dengan negeri yang didominasi oleh umat Islam. Tentu bertanya-tanya kenapa musibah seperti gempa bumi berkekuatan 7,9 SR yang menimpa Sumatra barat tepatnya di  kota padang pada Rabu 30 September 2009 lalu terjadi di Indonesia.

Maka jawabannya sederhana. Musibah itu terjadi, karena tidak ditegakkannya kewajiban yang agung dari Allah SWT., berupa amar ma’ruf nahi mungkar. Sebab, jika amar ma’ruf dan nahi mungkar ini bisa terlaksana dengan baik, maka berbagai musibah akan bisa diminimalisir. Akan tetapi yang namanya hidup, segala sesuatu itu pasti terjadi tanpa bisa direka dan dikira-kira. Begitu juga dengan takdir, takdir tidak akan bisa dirubah semuanya akan tetap berjalan dengan kehendak Allah SWT.

Meskipun secara gamblang Allah telah menjelaskannya baik dalam Al-Qur’an maupun dalam bentuk peringatan-peringatan seperti Bencana Alam. Manusia masih tetap saja memandang segala persoalan dan musibah hidup itu biasa-biasa saja. Sehingga menganggap tidak perlu adanya redintegrasi amal (perbuatan), Sehingga bencana alam bukan malah terminimalisir, melainkan makin bertambah banyak.

Hal ini terlihat dari banyaknya bencana alam, terhitung sejak tahun 2000. Gempa yang melanda Bengkulu dengan magnitude 7.3 atau Mw 7.9 menimbulkan korban 100 orang lebih, disusul dengan Tsunami, Gempa Tektonik, Lumpur Lapindo, kebakaran dan berbagai macam bencana alam terjadi di mana-mana diseluruh penjuru negeri tercinta ini sampai Gempa Bumi yang terjadi Rabu 30 September lalu.

Dari berbagai macam bencara alam tadi, sebenarnya Allah secara detail membahas dalam dalam QS An-Nisaa 79 bahwa, “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Berdasarkan friman Allah tadi bisa diambil kesimpulan sementara, bahwa segala sesuatu yang terjadi dan bersifat kurang enak dan bahkan bisa dikategorikan menyengsarakan—termasuk bencana alam—tidak lain disebabkan oleh perbuatan diri kita sendiri sebagai manusia.

Boleh dibilang, barangkali bencana alam yang terjadi ini, salah satunya dilatarbelakangi penyimpangan-penyimpangan masyarakat Indonesia. Baik urusan Politik (Money Politic), perampokan, pemerkosaan, pergaulan bebas yang mengarah kepada prilaku seks bebas, anarkisme dilangan remaja, demo, tawuran masal, letusan bom oleh teroris, banyaknya orang yang saling merebut kemenangan pendapatnya sendiri dan bahkan timbulnya banyak faham dan kelompok sesat yang mengatasnamakan dirinya Islam, padahal ajarannya tidak berlandaskan Al-Qur’an dan Al-Hadits.

DZIKIR, TOBAT DAN REDINTEGRASI AMAL

Dzikir dan Tobat kepada Allah adalah obat bagi seluruh penyakit manusia, begitu juga saat ditimpa musibah. Karena dengan kedua hal itu manusia akan menggapai kebahagian dunia akhirat. Dengan dzikir kepada Allah secara istiqamah akan menyelamatkan kita dari pekerjaan yang dilarang Allah karena hati dan pikiran kita terfokus kepada Allah dan merasa takut untuk berbuat sesuatu di luar syariat Islam. Dengan demikian kita akan mendapat dispensasi kebahagiaan dari Allah SWT.

Majunya ilmu pengetahuan dan teknologi dalam ranah kehidupan manusia saat ini, menjadikan manusia lupa akan hakekat diciptakannya manusia sebagai hamba Allah yang tiada lain tugas mereka hanyalah beribadah kepadaNya.

Begitu juga dengan banyaknya bencana alam yang terjadi seperti Gempa Bumi di Sumatra Barat yang menelan ribuan nyawa, jangan sekali-kali dianggap sebagai fenomena alam yang bersifat alamiah saja. Tapi perlu difahami secara ilahiah bahwa segala persoalan yang ada di dunia ini datangnya dari Allah. Artinya, kita perlu introspeksi diri akan apa yang telah kita kerjakan.

Segala sesuatu yang terjadi, khususnya musibah. Harus kita pandang dari kacamata iman, bahwa musibah yang terjadi tiada lain datangnya dari Allah seperti yang difirmankanNya “Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah.” (QS. At-Taghaabuun: 11)

Beberapa pakar seperti Charles Cohen dan Eric Werker dari Harvard Business School menulis sebuah paper menarik berjudul The Political Economy of “Natural” Disasters. Mereka berpendapat bahwa bencana alam cenderung terjadi lebih sering dan beragam pada negara miskin yang dikelola dengan sistem politik yang buruk. Sejauh mana intervensi politik yang terjadi ternyata juga memengaruhi intensitas bencana alam tersebut.

Pemerintah, menurut Cohen dan Werker, dapat melakukan distribusi kekuatan politik melalui pembelanjaan untuk menangani bencana alam. Pemerintah yang tak punya pendanaan bagus akan terkena racket effect, yaitu secara sengaja memanipulasi populasi korban untuk menarik (dan juga mencuri) bantuan dari luar. Yang menarik, lembaga donor internasional juga sudah “biasa” memberi toleransi atas susutnya bantuan tersebut. Hal ini memicu desperation effect, di mana pemerintahan yang korup punya kemampuan lebih untuk menggandakan “penyusutan” tersebut.

Oleh karenanya, Pertama, kita perlu meyakini bahwa musibah seperti bencana alam yang terjadi datangnya dari Allah, Kedua, kita harus betul-betul menyadari musibah yang terjadi diakibatkan karena tidak dilaksanakannya perintah-perintah Allah dan Rasulnya dengan baik. Ketiga, perlu kiranya kita introspeksi diri dan memperbaiki amal perbuatan dan ibadah kita yang sebelumnya mungkin tidak pernah kita lakukan.

*Abdul Qadir Jailani, Santri Kls VI TMI.

Siti Namirah, Mahasiswi Semester V Jurusan Aqidah Filsafat IDIA

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: