Jeda: L u p a

Moh. Halili*

Suatu hari, saat aku berada di kelas menunggu guru pengajar datang, aku membuka buku harianku. Seperti biasa, aku akan menulis rencana kegiatan yang akan aku kerjakan seharian ini. Namun belum sampai satu menit aku sibuk mencatat rencanaku. Tiba-tiba saja aku dikejutkan oleh sebuah pertanyaan yang datang dari teman sebangkuku. “Eh, Li, bagaimana menurut kamu mengenai agresi militer Israel terhadap Palestina?” Mendapatkan pertanyaan seperti itu, aku bingung mau menjawab apa. Sepintas aku lirik dia, dari wajahnya dapat dilihat ia masih menunggu jawabanku. “Sangat anarkis” jawabku singkat, sekedar menghargai temanku yang bertanya. Mendengar jawabanku itu, ia mengangguk  saja dan tidak mencoba untuk bertanya lagi.

Selang beberapa menit setelah itu, guru  pun datang. Kelas yang sebelumnya ramai dengan guyonan anak-anak, seketika sepi. Aku merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiranku. Pertanyaan seputar Israel dari temanku tadi masih menyisakan sebuah tanda tanya. Tapi entah apa aku belum menyadarinya.

Gara-gara pertanyaan itu, pada jam kedua, selama jam pelajaran berlangsung aku tidak bisa lagi berkonsentrasi terhadap penjelasan guru yang menjelaskan pelajaran hadits. Aku masih sibuk mencari keganjalan pikiranku. Lain lagi dengan teman-temanku, mereka malah sibuk mendiskusikan kekalahan persepakbolaan Indonesia melawan Thailand kemarin.

Berangsur aku mulai sadar terhadap keganjalan pikiranku. Kalau aku tidak salah mengira ini semua dari kebodohanku sebagai manusia. Aku lupa terhadap sesuatu yang semestinya aku pikirkan. Seperti penyebab kegelisahanku tadi, Israel dan Palestina. Padahal kalau saja permasalahan itu di hadapkan kepadaku, ada keterikatanku di sana, jelas, aku yang memang berlatar belakang muslim tidak bisa lepas tangan begitu saja. Ya aku sadar, ternyata aku sering lupa.

Lupa memang sudah sifat yang manusiawi. Meskipun terkadang membuat jengkel orang lain. Tapi apa salahnya dengan sifat pelupa itu? Tentu tidak ada, hanya saja yang perlu dipermasalahkan bila sudah tidak ada lagi orang yang mau mengingatkan atas kelupaan kita. Apalagi di zaman seperti ini, banyak hal-hal yang menuntut manusia untuk menyibukkan dirinya, hingga ia lupa kepada orang yang sedang berada di sampingnya. Untuk sekadar menyapa dengan kata “hai” saja, beratnya bukan main.

Ada usaha untuk berubah, tentu lebih baik. Dibandingkan hanya berpangku tangan menunggu ajakan dari orang lain. Memang ada hal-hal lainnya yang tidak akan pernah kita bisa rubah. Kenapa? Karena kita jarang memakai bahasa hati. Bila kita mau mengoreksi diri kita sedikit saja, tentu kita akan menyadari betapa banyak noda-noda yang ada di hati kita. Hingga kita tak mengerti kalau saja kita masih utuh menjadi manusia.

Meskipun terkadang dunia ini menyesatkan, kita tidak boleh serta merta mengikutinya begitu saja. Bodoh sekali kalau hanya menjadi pengekor tanpa tau penyebabnya. Imam Ibn Athillah mengatakan, “Alam ini lahirnya adalah tipuan, dan batinnya adalah pelajaran.” Sadarkah kita dengan hal ini? Lamunanku buyar begitu saja, setelah mendengar bel pulang dari depan kelas. Bergegas aku rapikan bukuku yang berserakan di atas bangku.

* Penulis santri kelas VI TMI Pa asal Bangkalan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: