Ukhuwah Islamiyah

KH. Maktum Jauhari, M.A.

Bulan ini, ada dua peristiwa penting yang memantik perhatian banyak pihak. Pertama, bencana jebolnya tanggul Situ Gintung yang menelan korban tewas 100 orang, 102 orang lainnya hilang, dan ratusan rumah rusak. Kerugian ditaksir ratusan miliar, ditambah derita psikologis ribuan warga di daerah itu.

Kedua, Pemilu legislatif yang kali ini diikuti 38 partai berhaluan nasionalis, Islam, maupun kombinasi nasionalis-religius. Sekitar 11.215 warga Indonesia hari-hari ini sibuk berebut 560 kursi DPR RI. Dan 1.109 orang akan sekuat tenaga berebut 132 kursi Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

Dua peristiwa tersebut, mesti disikapi umat Islam sebagai momentum terbaik untuk meningkatkan kualitas ukhuwah islamiyah antarsesama muslim. Pada peristiwa Situ Gintung misalnya, umat Islam perlu menumbuhkan sikap empati, turut langsung merasakan penderitaan korban. Dengan memberi bantuan, materi maupun imateri, atau paling tidak, ikut mendoakan agar mereka diberi kesabaran, ketabahan, dan jalan keluar yang lebih baik.

Dalam konteks Pemilu 2009, umat Islam perlu merapatkan barisan dan memperkokoh ukhuwah. Sejak dini perlu disadari, bahwa kepentingan Pemilu adalah kepentingan sesaat, sementara ukhuwah sifatnya abadi, tulus, dan tanpa pamrih.

Karena itu, ukhuwah islamiyah harus ditempatkan di atas kepentingan partai. Dan umat Islam wajib memenangkan partai-partai berideologi Islam atau yang memiliki kepedulian terhadap kejayaan umat Islam Indonesia. Termasuk dalam hal ini, memilih calon anggota legislatif (Caleg) yang berakhlak islami dan peduli terhadap nasib politik dan sosial umat Islam.

Mengapa harus ukhuwah islamiyah? Karena ukhuwah tak pernah bertendensi pada materi. Ia melebihi bentuk persaudaraan lainnya, semisal ukhuwah nasabiyyah (keturunan), wathaniyah (kebangsaan), maupun hizbiah (partai), dan lainnya. Ukhuwah islamiyah bersifat lintas zaman dan generasi.

Pemaknaan ukhuwah islamiyah seperti di atas, banyak tersirat dalam doa-doa yang Rasulullah SAW ajarkan. Seperti, ”Allâhummaghfirlanâ wali`ikhwâninal-ladzîna sabaqûna bil-îmân, walâ taj’al fî qulûbinâ ghillal lil-ladzîna `âmanû.” Atau doa, ”Allâhummaghfir lil-muslimîna wal-muslimât wal-mu`minîna wal-mu’minât al-ahyâ`i minhum wal-`amwât.”

Kedua doa tersebut menyiratkan betapa mengakarnya ukhuwah islamiyah dalam kalbu umat Islam. Sepanjang waktu mereka melafadzkannya dengan ikhlas.

Ukhuwah islamiyah termasuk salah satu program unggulan Rasulullah ketika hijrah ke Madinah, selain mendirikan masjid. Saat itu, beliau berhasil menyatukan faksi-faksi di dalam kaum Anshar maupun Muhajirin, atau sesama Anshar dan Muhajirin, dalam ikatan ukhuwah islamiyah yang harmonis dan dinamis. Beda kekayaan kaum Anshar dan Muhajirin tak menghalangi mereka untuk mengikatkan diri dalam ukhuwah yang intim dan kokoh.

Allah memuji keluhuran kaum Anshar yang menerima kedatangan kaum Muhajirin dengan hati ikhlash, dan menganggap mereka layaknya saudaranya sendiri. Allah memuji mereka dengan tiga sifat.

Pertama, mereka adalah golongan yang memiliki kecintaan luar biasa. Kedua, mereka kaum yang sangat ikhlas. Ketika Rasulullah membagi-bagikan harta Bani Nadhir kepada kaum Muhajirin, tak ada sedikit pun rasa ingin menggugat dari kaum Anshar kepada Rasulullah, apalagi iri. Ketiga, mereka mendahulukan kaum Muhajirin untuk mendapatkan harta, walau sebenarnya mereka juga membutuhkan.

Andai kita bandingkan dengan kehidupan umat Islam masa kini, terlihat jurang perbedaan yang sangat curam. Kini, ukhuwah sudah tercabik-cabik. Umat Islam sudah terkotak-kotak oleh banyak kepentingan duniawi yang temporal. Barisan umat Islam di segala dimensi kehidupan pun menjadi rapuh.

Karenanya, tak ada pilihan lain, jika umat Islam ingin meraih kembali masa-masa kejayaannya, mereka harus bersatu dalam payung ukhuwah islamiyah, menyatukan segenap potensi. Kalau tidak, umat Islam akan terus terjebak pada derita perpecahan yang tidak berkesudahan. Wallâhu a’lam bish-shawâb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: